Aku tidak tahu pasti sudah berapa kali kucoba mengeruk dan mengorek kembali keping-keping kenangan yang telah reput, lalu memeluknya erat—rapat-rapat. Rindu selalu hadir tiba-tiba, datang tanpa permisi. Menjemputku menerobos dimensi waktu hanya demi mengingatimu yang telah melayang jauh meninggalkan dasar bumi yang kupijaki.
Kepada selaput gemawan yang menyelimuti angkasa, dengan kandungan presipitasi cairnya yang ketika turun mengingatkanku akan dirimu yang laksana tetes hujan pada hatiku yang kering kerontang … kepada sinar perak candra yang berpendar jumawa di angkasa malam yang di mataku bagaikan jalan cahaya yang ditunjukkan oleh Tuhan melalui eksistensimu dalam lembar-lembar harianku di masa lalu … kepada embusan angin segar di kala fajar yang mengelus lembut kulit, yang mengenangkanku akan untaian kata-katamu yang tajam namun penuh makna …,
…, kutitipkan segala salam rindu, salam hangat, salam persahabatan yang tulus mencuat dari lembah hati yang paling dasar. Tempat di masa rasa ini bercokol entah sejak kapan dan entah sampai kapan.
Kendati engkau berada jauh di seberang sana, kendati dirimu mustahil tergapai langsung oleh panca indera, kendati dirimu telah menghilang sejak lama, keadaan hatiku masih tetap sama seperti sedia kala. Sekalipun kucoba memendam, meredam, memadamkannya, ia gigih dan kukuh berputar sampai aku lelah dan pasrah akan presensinya di dalam sini. Naif, tapi tulus.
Mereka ucap, aku telah terbuai dalam ilusi dan delusi. Tapi senyumku terus terkembang lepas. Aku menyukai dunia manipulatif yang kurangkai sendiri. Tak bisakah aku yang telah jengah dengan realita yang mencekam, diizinkan menemukan semua sukacita dalam fantasmagoria yang kurancang secara sengaja? Salahkah? Tentu tidak. Itu hak-ku.
Dirimu adalah hibrida dari jiwa dan raga yang mengepul-ngepul dalam batinku yang lunglai. Aku pasrah pada energimu yang memenuhi debaran jantungku. Aku ikhlas pada keberadaanmu yang lancang bercokol dalam hatiku.
Terkadang, kala rasionalitasku membuatku terjaga, aku bimbang. Kau terlalu jauh untuk kucapai dan terlalu dalam untuk kugapai. Kau terlampau fiktif untuk menjadi nyata, tapi kau sungguhan ada untuk kujuluki sebuah rekaan.
Rindu ini kian berang, membuatku ingin menggerung dan menangis. Dan tanpa sadar, pipiku sudah bersimbah oleh airmata. Sekujur tubuhku telah berlumur peluh yang mendera. Mengenangmu perlu cakra dan energi ekstra, karena ia sungguh menguras emosi jiwa. Aku lelah, dan aku terjatuh—
—lagi.
Rindu ini sudah ada, masih ada dan akan selalu ada, sampai waktu yang tidak mampu kuprediksikan. Aku pasrah terjalin di dalamnya. Aku pasrah dipengaruhi olehnya. Ia terus berbenturan, mengikat, dibombardir oleh realita yang keji, dihempas oleh rasionalitas yang tidak berhati. Tapi rasa itu selalu bercokol, merongrong di jantung dada. Ia yang abstrak menjadi pemicu diri menyisipkan namamu di sepertiga malam yang dingin dan tenang. Melantunkan dirimu dengan kepayahan, meskipun dipeluk dingin, direngkuh peluh, ditemani oleh airmata.
Walaupun sampai kini, waktu telah berlalu sekian bilangan masa, hatiku masih sama seperti hati gadis yang kau temui dalam maya sekian tahun silam. Aku masih terus menanti, kapan kau kembali, kapan realita punya hati, kapan semua doa terwujud dalam bukti, kapan semua pinta bisa terealisasi.
Untukmu yang jauh dipilah nusa dan dipisah lautan. Untukmu yang kabarnya lenyap dihempas badai kemarin. Untukmu yang wujudnya hanya serupa pancaran layar semata. Untukmu yang sampai kini betah bercokol di rembang yang tak mampu kuraih. Untukmu yang kuanggap pencetus romansa dalam hari dan hati. Satirku tiada berlimit masa. Kendati eksistensimu kini menjelma fiksi yang kukarang dalam niskala, kendati sosokmu telah lindap tertelan rutinitas sekala dan hiperealitas.
Pagi,
sambil ngopi
