Akhir

"Aku tidak pernah mati, tidak seorang pun. Tapi aku pernah melewati dermaga di mana orang-orang yang kausebut mati. Di dermaga itulah, kusaksikan, kita sebenarnya tidak memiliki akhir."

Bintang

Ketika tinggiku hampir menyamai tanaman buxus yang menamengi rumah tetangga, Ayah gemar mengajakku jalan-jalan malam hari.

Lega

Ibu memang tidak menggenggam cemeti, atau sapu lidi untuk dikibaskan ke betis, atau kayu untuk diempaskan ke punggungku. Namun, ada lidah Ibu yang rutin menampari ulu hati.

Samudra

Maka tak peduli telah berapa kali langit hitam menjadi purnama, aku menyusun pelita sebutir demi sebutir, yang kupetik dari percik bintang kecil di bahu bimasakti, untuk kurajut jadi selimut demi menghangatkannya dari kuyup dan dingin. Begitu selimutku rampung tiga bulan kemudian, kubungkus ia dalam kedamaian. Pertemuan kami ditutup dengan pelukan dan tepukan yang menenangkan.

Sintas

Kala itu kulupa bahwa dunia selalu memberlakukan inversi. Bumi ini justru berjalan melalui perputaran. Tiada satu pun yang bertahan selamanya di puncak. Sebab tidak sampai dua tahun sejak pembicaraan itu, apa yang kutampik malah menampar hidupku sekaligus.

Harga

Siapa bilang uang tidak mampu membeli waktu? Sisa hidupmu pun bisa kaugadaikan di sini. Baik yang girang, maupun yang malang. Asal kaurelakan segenap masa usiamu didedah dan dibedah.

Rahasia

Kini aku tahu apa aku. Aku manusia yang punya nama. Namaku … sebentar, biar kuhirup lagi aroma kertas yang menyenangkan ini. Baik, namaku …

Banjir

"Terlahir dari rahim orang miskin bukan salahmu. Salahmu adalah mati dalam kondisi yang sama."

Seroja

Sebab ibunya hanya seorang pelacur. Dan Seroja cuma anak haram yang lahir dari rahim pelacur di sebuah rumah bordil. Yang hidupnya ada, semata berasaskan keengganan mucikari untuk menambah dosa dengan tindak pembunuhan. Seroja adalah buah yang bahkan pohonnya pun tak mampu ibunya identifikasi.

Penculik Rembulan

Aku melihat seorang lelaki menculik rembulan dari angkasa. Dengan tangan menggenggam gunting rumput, dia cukil benda bulat itu hingga berdarah.

Mimpi

Bagi perempuan yang kini terbaring dan bersiap memulai ritual, tak ada yang indah kecuali kenangan. Tak ada seorang pun yang tersisa di dunia untuk dia panggil, kecuali mereka yang hanya diawetkan dalam ingatan.

Selamat

Kemarin, seseorang dari entah, datang ke desanya yang nyaris ludes ditelan Bumi. Bagai Mesiah, ia menawarkan keselamatan bagi siapa pun yang percaya.

Takut

Katanya seorang anak manusia terlahir ke duni tanpa dikaruniari kegentaran, selain rasa takut naluriah pada suara keras dan kejatuhan.

Hidup Mati

Kukuh hatinya memberontak. Tidak. Ia ingin putri dan dirinya sendiri menyesapi kehidupan ini. Ia ingin menyaksikan putrinya keluar dengan selamat dan tertawa-tawa menerima boneka. Menerima rapor nilai yang sempurna. Menerima sepeda baru yang mengkilap. Menerima ponsel yang paling anyar. Memperkenalkan pacar kepadanya. Mendapatkan gaji pertama. Menikah dengan lelaki yang baik. Memiliki anak dan hidup dengan sempurna.

Patuk

Aku adalah burung bulbul yang berusaha berontak dari sangkar emas. Seorang lelaki dengan 500 mawar merah yang kulihat pertama dalam pengembaraan liarku menjadi tujuanku kemudian. Olehnya, aku diajari bernyanyi—kau tahu, seekor bulbul bisa menyanyikan 300 lagu cinta berbeda untuk pasangannya.

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

Buat situs web Anda dengan WordPress.com
Mulai