Ada hujan tumpah di luarkuMemercik di batu, satu, demi satuAda rindu riuh di dalamkuDipeciki satu: kamu, demi kamu.
Lidahmu Api …
Lidahmu api, di kala kayu-kayu telah menjelma abu yang berhenti membara. Namun, masih saja kaujilat udara, mencoba melalap langit dengan sisa-sisa nyala. Di sanalah bersemayam keagungan, yang tak butuh saksi mata. Biarkan mereka yang buta meraba-raba, sebab makna hanya sudi tunduk pada jiwa-jiwa yang sudah khatam dengan gulita. Maka, siapkah kauarungi labirin tak bertepi, hanya … Lanjutkan membaca Lidahmu Api …
Itu …
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤㅤㅤㅤ𝓢ebab, seberagam apa pun emosi yang dilahirkannya; suka, duka, luka atau murka ..., ㅤㅤjatuh cinta dan patah hati ialah dua mata air dari telaga nan suci. Sanggup menghidupkan kembali jiwa pujangga yang telah lama sepi, bahkan yang sudah mengerontang mati. ㅤㅤ
Makna Cinta
Kondisi dan latar belakang orang boleh jadi berbeda. Tapi makna cinta selalu sama. Semua orang akan berusaha membuat yang dicintainya berbahagia.
Tebing
Waktu jadikan kita dua tebing. Terpaut laut, mengangalah malam dan malang. Angin satu-satunya tukang pos yang menghantarkan rasa: ingin yang mendingin.
orang bodoh
Bekerja atau hidup dengan orang bodoh yang tidak menyadari kebodohannya adalah neraka. Kekesalan berulang yang menggerogoti kewarasan. Orang bodoh yang tidak merasa dirinya bodoh adalah spesies paling bebal di muka bumi. Apalagi jika kebodohan mereka membuat mereka memaksakan kebodohan lain pada sekitar.
Siapa yang lebih serakah dari senja? dipeluknya siang direngkuhnya malam Lalu dibelenggunya rindu di pucuk-pucuk pohon randu
Barangkali aku adalah api; membakar hangus tubuhmu yang kayu, menjelma cemburu paling abu, meluluhlantakkan rindu yang membatu.
Betelgeuse
Kadangkala ia ingin menjelma Betelgeuse yang tinggal tunggu ajal. Tetapi sebelum ia padam, akan ia sadarkan orang-orang yang menyakitinya, bahwa ia pernah bersinar, dan memberi kesan pada mereka melalui sebuah ledakan mahadahsyat.
Selamat Pulang
Kuucap selamat pulang, kepada dedaun gugur di musim kemarau panjang, yang terkena libasan bayu kencang tak berhati; tiada bernurani. Padahal, reranting itu tempatmu tumbuh, Sayang. Dear, selamat pulang. Bila sudah kau temukan tempatmu di sana, jangan lupa hantarkan kabar padaku. Boleh lewat angin, atau lewat tetesan hujan yang entah kapan turunnya.

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.