Teruslah meraya, Ananda. Teruslah rayakan segala. Apa-apa yang luruh sebelum sempat tumbuh. Dan, segala yang dikekalkan dalam ingatan, sekalipun raga mungkin tak lagi teguh. Selebrasikan saja โฆ semuanya. Bahkan sekadar desau napas yang acap kali kauabaikan. Sungguh, ialah satu-satunya melodi paling setia nan menemanimu. Membersamaimu dalam menyusuri lorong-lorong takdir yang sekali-kali menyempit.Tidak perlu mengutuk gulita … Lanjutkan membaca Teruslah Meraya
Tuan Nyaris Pernah
Suatu kala, sempat aku berkaca di tepian telaga. Tertambat pada replikaku yang digempur bayu pada permukaan sebening kaca. Di sanalah, kudengar kau menyanyikan tembang nestapa. Suaramu menyayat-nyayat udara, memecah setiap partikelnya. Rusukku terbakar oleh api laramu yang memancar. Panas sekaligus bercahaya. Membuatku marah sekaligus pasrah. Kadung kucela takdir di ambang riak yang kian sungsang. Dunia … Lanjutkan membaca Tuan Nyaris Pernah
Mawar yang Marwah
Mawar itu mengkristal dari sepi yang diperah.
Dan โฆ
Ada hujan tumpah di luarkuMemercik di batu, satu, demi satuAda rindu riuh di dalamkuDipeciki satu: kamu, demi kamu.
Hibrida
Engkau mencintai banyak orang. Engkau membenci banyak orang. Engkau serupa sebuah bejana pualam yang terbiar rengkah meluapkan isinya, karena dipaksa menampung samudra.
Mekarlah
Lihatlah, Bumi, sekalipun menjadi lumbung dukkha, pasti 'kan tetap sigap merengkuhmu, kapan saja kau terjatuh dari keping gemintang yang tengah coba kaupetiki. Tak perlu cemas jika kaupulang dengan jemarimu yang hampa. Tiada yang tak layak untuk dibasuh oleh teguhnya tanah di bawah sana. Kita 'kan kembali. Dia akan membantu. Untuk memijaki realita. Untuk menyadari raga. … Lanjutkan membaca Mekarlah
Prototipe
(๐๐ฆ๐ฃ๐ถ๐ข๐ฉ ๐ฑ๐ณ๐ฐ๐ต๐ฐ๐ต๐ช๐ฑ๐ฆ ๐ด๐ฆ๐ซ๐ข๐ฌ ๐ข๐ธ๐ข๐ญ ๐ฎ๐ถ๐ญ๐ข, ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ข๐ต๐ข๐ญ ๐ฅ๐ช๐ข๐ซ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ด๐ฆ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ต๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ช๐ต๐ถ๐ญ๐ช๐ด๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ข๐ณ๐ถ ๐ฅ๐ช๐ณ๐ข๐ด๐ข ฬต๐จฬต๐ขฬต๐จฬต๐ขฬต๐ญฬต ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ฉ๐ช ๐ฑ๐ณ๐ฐ๐ฎ๐ฑ๐ต ๐ด๐ฆ๐ค๐ข๐ณ๐ข ๐ฆ๐ฌ๐ด๐ฑ๐ญ๐ช๐ด๐ช๐ต. ๐๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ๐ช, ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ด๐ข๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฏ๐ซ๐ถ๐ณ ๐ฅ๐ช๐ต๐ถ๐ญ๐ช๐ด, ๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ ๐ค๐ฐ๐ฃ๐ข ๐ฅ๐ช๐ญ๐ข๐ฏ๐ซ๐ถ๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ช ๐ง๐ช๐ฏ๐ข๐ญ.) ๐ป๐ฐ๐ฎ๐จ ๐ฑ๐จ๐ด ๐ณ๐จ๐ณ๐ผ, ๐จ๐ฒ๐ผ ๐ด๐จ๐บ๐ฐ๐ฏ ๐ซ๐ฐ๐ฒ๐ผ๐น๐ผ๐ต๐ฎ lembabnya udara Changi. Namun, kini, Jakarta menyergapku dengan kepulan polusi. Kabar yang kuterima dari sebuah alamat surel … Lanjutkan membaca Prototipe
Manusia Mati Meninggalkan Nama
๐ผ๐ต๐ป๐ผ๐ฒ ๐ฒ๐ฌ๐บ๐ฌ๐ฒ๐ฐ๐จ๐ต ๐ฒ๐จ๐ณ๐ฐ๐ต๐๐จ, aku menenggak ludah. Sebagai Buddhis yang tersesat di pemakaman Muslim, kuputuskan menjadi bayangan. Menghormati jarak. Menjaga laku. Ini bukan pengalaman perdana aku menjejaki taman pekuburan Islam. Namun, situasi sekarang menyodorkan rasa yang terlampau asing. Sebab sosok yang kujenguki terpaut dua puluh tahun dari masa kini. Figur Abdulโatau Apuyโdalam ingatan teranyarku adalah bocah … Lanjutkan membaca Manusia Mati Meninggalkan Nama
Lidahmu Api โฆ
Lidahmu api, di kala kayu-kayu telah menjelma abu yang berhenti membara. Namun, masih saja kaujilat udara, mencoba melalap langit dengan sisa-sisa nyala. Di sanalah bersemayam keagungan, yang tak butuh saksi mata. Biarkan mereka yang buta meraba-raba, sebab makna hanya sudi tunduk pada jiwa-jiwa yang sudah khatam dengan gulita. Maka, siapkah kauarungi labirin tak bertepi, hanya … Lanjutkan membaca Lidahmu Api โฆ
Bagaimana Jika โฆ?
Bagaimana jika matamu sebenarnya pengkhianat nan paling fasih berdusta? Dunia ini skenografi yang catnya masih basah. Jangan sepenuhnya percaya pada tegaknya gunung. Gelombang tanah yang sedang menarik napas panjang jutaan tahun, menunggu waktu untuk kembali menjadi debu yang tergulung. Jangan seutuhnya percaya pada beningnya air. Cermin yang sedang menyembunyikan kegelapan palung dengan pantulan langit yang … Lanjutkan membaca Bagaimana Jika โฆ?

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.