Mekarlah

Lihatlah, Bumi, sekalipun menjadi lumbung dukkha, pasti 'kan tetap sigap merengkuhmu, kapan saja kau terjatuh dari keping gemintang yang tengah coba kaupetiki. Tak perlu cemas jika kaupulang dengan jemarimu yang hampa. Tiada yang tak layak untuk dibasuh oleh teguhnya tanah di bawah sana. Kita 'kan kembali. Dia akan membantu. Untuk memijaki realita. Untuk menyadari raga. … Lanjutkan membaca Mekarlah

Prototipe

(๐˜š๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช๐˜ฑ๐˜ฆ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข, ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ซ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ฬต๐˜จฬต๐˜ขฬต๐˜จฬต๐˜ขฬต๐˜ญฬต ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ต ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ด๐˜ฑ๐˜ญ๐˜ช๐˜ด๐˜ช๐˜ต. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช๐˜ด, ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ค๐˜ฐ๐˜ฃ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ต๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช ๐˜ง๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข๐˜ญ.) ๐‘ป๐‘ฐ๐‘ฎ๐‘จ ๐‘ฑ๐‘จ๐‘ด ๐‘ณ๐‘จ๐‘ณ๐‘ผ, ๐‘จ๐‘ฒ๐‘ผ ๐‘ด๐‘จ๐‘บ๐‘ฐ๐‘ฏ ๐‘ซ๐‘ฐ๐‘ฒ๐‘ผ๐‘น๐‘ผ๐‘ต๐‘ฎ lembabnya udara Changi. Namun, kini, Jakarta menyergapku dengan kepulan polusi. Kabar yang kuterima dari sebuah alamat surel … Lanjutkan membaca Prototipe

Manusia Mati Meninggalkan Nama

๐‘ผ๐‘ต๐‘ป๐‘ผ๐‘ฒ ๐‘ฒ๐‘ฌ๐‘บ๐‘ฌ๐‘ฒ๐‘ฐ๐‘จ๐‘ต ๐‘ฒ๐‘จ๐‘ณ๐‘ฐ๐‘ต๐’€๐‘จ, aku menenggak ludah. Sebagai Buddhis yang tersesat di pemakaman Muslim, kuputuskan menjadi bayangan. Menghormati jarak. Menjaga laku. Ini bukan pengalaman perdana aku menjejaki taman pekuburan Islam. Namun, situasi sekarang menyodorkan rasa yang terlampau asing. Sebab sosok yang kujenguki terpaut dua puluh tahun dari masa kini. Figur Abdulโ€”atau Apuyโ€”dalam ingatan teranyarku adalah bocah … Lanjutkan membaca Manusia Mati Meninggalkan Nama

Lidahmu Api โ€ฆ

Lidahmu api, di kala kayu-kayu telah menjelma abu yang berhenti membara. Namun, masih saja kaujilat udara, mencoba melalap langit dengan sisa-sisa nyala. Di sanalah bersemayam keagungan, yang tak butuh saksi mata. Biarkan mereka yang buta meraba-raba, sebab makna hanya sudi tunduk pada jiwa-jiwa yang sudah khatam dengan gulita. Maka, siapkah kauarungi labirin tak bertepi, hanya … Lanjutkan membaca Lidahmu Api โ€ฆ

Bagaimana Jika โ€ฆ?

Bagaimana jika matamu sebenarnya pengkhianat nan paling fasih berdusta? Dunia ini skenografi yang catnya masih basah. Jangan sepenuhnya percaya pada tegaknya gunung. Gelombang tanah yang sedang menarik napas panjang jutaan tahun, menunggu waktu untuk kembali menjadi debu yang tergulung. Jangan seutuhnya percaya pada beningnya air. Cermin yang sedang menyembunyikan kegelapan palung dengan pantulan langit yang … Lanjutkan membaca Bagaimana Jika โ€ฆ?

Selamat Mekar

Habis gelap terbitlah terang. Mungkin akan ada gelap lagi, yang akan datang. Entah dalam wujud yang sama, entah yang berbeda. Sebagaimana rupa bulan yang tak selamanya bercahaya. Sebagaimana Bumi yang tidak senantiasa disirami matahari. Sebagaimana pasang dan surut lautan. Sebagaimana musim yang akan lagi-lagi bersemi setelah musim dingin mencekal aktivitas. Segalanya adalah siklus. Segalanya adalah … Lanjutkan membaca Selamat Mekar