Teruslah meraya, Ananda. Teruslah rayakan segala. Apa-apa yang luruh sebelum sempat tumbuh. Dan, segala yang dikekalkan dalam ingatan, sekalipun raga mungkin tak lagi teguh.
Selebrasikan saja … semuanya. Bahkan sekadar desau napas yang acap kali kauabaikan. Sungguh, ialah satu-satunya melodi paling setia nan menemanimu. Membersamaimu dalam menyusuri lorong-lorong takdir yang sekali-kali menyempit.
Tidak perlu mengutuk gulita yang menyelimuti. Justru di sanalah bintang-bintang menemukan panggung untuk unjuk gigi. Jangan juga kautangisi gelasmu yang dipecahkan tekanan. Mungkin dalam retakannyalah, cahaya belajar cara menyusup masuk, ‘tuk menerangi ruang-ruang gelap, yang selama ini kaukunci rapat-rapat.
Dan, dirimu, ialah separtikel kecil pijaran itu pula, di tengah gravitasi semesta yang tak kenal dusta. Namun, percayalah, entah bagaimana, engkau ‘kan tetap mampu berdiri tegak di atas reruntuhan egomu jua. Mungkinkah karena engkau naskah yang masih betah ditulis jemari takdir? Dengan tinta, yang diramu dari unsur bahagia Sang Maha Kabir?
Jadi, apatah itu sia-sia? Dapat kausaksi tiada satu pun titik yang dibuat terlunta. Tak ada spasi yang luput dari makna. Segalanya, merupakan fragmen dari sebuah komposisi Maha. Yang Dia harap dapat kaumainkan, dengan sama bahagia. Sekalipun dukkha telah pasti ‘kan menguji di sela-selanya.
Maka, rayakan saja. Rayakan segala. Rayakanlah, bahkan bila itu sekadar jubah yang kaujahit menjadi perlindungan. Tempatmu bersemadi; sembunyi dari bisingnya dunia yang kerap menuntut jawaban-jawaban instan. Biarkan dirimu larut dalam perjamuan ini. Perjamuan antara diri yang sedang mencari dan diri yang akhirnya menjumpa rekah sanubari. Biar waktu mencatat, bahwa pada ribuan langkah yang kausaruk, turut terlukis jejak-jejak doa yang mungkin tidak kaulantangkan, tetapi aromanya membubung hingga ke puncak kesidangan, mengetuk pintu-pintu yang hanya bisa terbuka oleh ketulusan.
Sebab keindahan, tak pernah sungguhan ia tercecer sebagai remah-remah acak di Semesta. Selaku entitas nan subtil, ia ada. Berdiam tenang, menyiang malam dan jua siang, pada sela-sela yang kerap luput dari mata nan tergesa memandang.
Kitalah yang sering melaluinya begitu saja. Terlalu lama menetap pada satu cara merasa, seolah dunia hanya punya satu rupa, satu suara. Terpaku pada rona yang itu-itu saja, sampai warna lain yang turut bernyawa pun perlahan kita padamkan sendiri saja. Oleh nihilnya sabar menunda, pun betapa minimnya hasrat untuk sungguhan menjumpanya.
Dunia sudah lama menjadi jelita, bahkan di tengah gulitanya. Tak perlu lagi ia bersolek dan menjelma menjadi indah demi memuaskan dahaga visual pengelana. Cara kita hadir di dalamnya lah yang menentukan segala. Seberapa relakah batin untuk berganti rupa dan sudut pandang? Ketika kita cukup lapang untuk menanggalkan ekspektasi yang mematenkan wujud, barulah ‘kan kita mengerti cara membaca denyutnya. Yang memanggil-manggil dalam sinkronisitas nuraga. Menanti untuk dipungut segera.
Jadi, teruslah meraya, Ananda. Hingga kausadar perayaan tak melulu dimaknai riuh rendah tepuk tangan. Dalam penerimaan jua kerelaan yang paling substansial terhadap segala yang ada dan segala yang tiada …, ia …, ‘kan tetap … ada.
