Suatu kala, sempat aku berkaca di tepian telaga. Tertambat pada replikaku yang digempur bayu pada permukaan sebening kaca.
Di sanalah, kudengar kau menyanyikan tembang nestapa.
Suaramu menyayat-nyayat udara, memecah setiap partikelnya. Rusukku terbakar oleh api laramu yang memancar. Panas sekaligus bercahaya. Membuatku marah sekaligus pasrah.
Kadung kucela takdir di ambang riak yang kian sungsang. Dunia terlalu berliku untuk ditunaikan satu kesempatan. Sang pandir yang mengira jemari sanggup menapis surya, kini terkapar pada sisa-isyarat yang kautinggal.
Kurayapi cermin cair di bawahku, demi menyaksi prasasti bisu memahat jarak pada udara yang kaku: punggungmu. Wajahmu, yang dahulu rembulan, telah kau palingkan dari binar yang kausisakan padaku sendiri.
Sedang di saat sepiku mendekap, jatuhlah ‘ku merindu dan bersekau. Betapa pongahnya durja ini. Menepis jembatan menuju waras dan awas.
Maka, Tuan, ‘nyaris pernah’ pun kini menjelma hilang. Memerdekakan langkah dari jangkau jangkarku. Hanya suaramu yang menyayat itu, yang menyisakan pantulan nan terlambat tiba, dalam bising yang lebih memekakkan dari sebuah ledakan.
