Dalam Bahasa Indonesia, kita berkata, “Kau menyakitiku.” Namun, melankoli menulis ...
Melankoli Menulis
Deret kalimat atau prosa sembarang yang tidak bisa dikategorikan ke dalam genre mana pun.
Dalam Bahasa Indonesia, kita berkata, “Kau menyakitiku.” Namun, melankoli menulis ...
Pada gaduh yang dimainkan langit, kutiupkan serta sealun suara yang akan ikut terbenam jua dalam ritme hujan tua:
SUMBAT TELINGA, TUTUP MATA, sumpal hidung. Sekalipun kauakui, paru itu sempat sesak oleh ampas yang menguap dari asap pembakaran.
Kita berpijak di atas sepetak karsa yang sama, tanah yang dimenangkan dari riuhnya ketidakpastian. Kita jalin sauh yang menghujam ke bawah, tempat para pengelana meletakkan lelah pada pundak yang nihil tanya akan arah angin. Kita sendirilah petunjuk jalan, bersama benang-benang navigasi lain bernama kepercayaan. Kita rajut atap dari benang-benang mimpi dan jiwa yang dipintal satu-satu, … Lanjutkan membaca Familia
Tumpah dawat dari sungsang pena, dipahatnya riwayat yang berselisih parkamen. Hasil dari dimuntahkannya takdir. Sementara cungkup langit merunduk khusyuk, ujung kalamnya menari. Tarian penggurat seloka untuk melampaui nalar. Begitu pula kala kelambu luruh. Robeklah olehnya selaput adab, guna menyusur sumber jelaga di balik teduh.Adalah jiwa itu naskah arkais. Disusun jemari yang mengkhatamkan denting nan magis. … Lanjutkan membaca Dialektika Dualitas Dara
Aksara-aksara duniawi malam itu terlampau angkuh. Maka, ia pun jatuh. Tiada iringan tabuh, pun wiru kain menyibak teduh. Hanya bertemankan serpihan gemintang, rontok dari ceruk telapak langit, untuk kemudian mendarat telak bersama jejaknya, pada pelataran dada yang gersang.Tiap-tiap yang didatangi memeluk malamnya sendiri. Ada yang jelaga tenang, ada yang hancur lebur sehabis badai menerjang. Langkah … Lanjutkan membaca Bintang Jatuh
Suatu kala, sempat aku berkaca di tepian telaga. Tertambat pada replikaku yang digempur bayu pada permukaan sebening kaca. Di sanalah, kudengar kau menyanyikan tembang nestapa. Suaramu menyayat-nyayat udara, memecah setiap partikelnya. Rusukku terbakar oleh api laramu yang memancar. Panas sekaligus bercahaya. Membuatku marah sekaligus pasrah. Kadung kucela takdir di ambang riak yang kian sungsang. Dunia … Lanjutkan membaca Tuan Nyaris Pernah
Mawar itu mengkristal dari sepi yang diperah.
Engkau mencintai banyak orang. Engkau membenci banyak orang. Engkau serupa sebuah bejana pualam yang terbiar rengkah meluapkan isinya, karena dipaksa menampung samudra.
Lihatlah, Bumi, sekalipun menjadi lumbung dukkha, pasti 'kan tetap sigap merengkuhmu, kapan saja kau terjatuh dari keping gemintang yang tengah coba kaupetiki. Tak perlu cemas jika kaupulang dengan jemarimu yang hampa. Tiada yang tak layak untuk dibasuh oleh teguhnya tanah di bawah sana. Kita 'kan kembali. Dia akan membantu. Untuk memijaki realita. Untuk menyadari raga. … Lanjutkan membaca Mekarlah
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.