SUMBAT TELINGA, TUTUP MATA, sumpal hidung. Sekalipun kauakui, paru itu sempat sesak oleh ampas yang menguap dari asap pembakaran.
Familia
Kita berpijak di atas sepetak karsa yang sama, tanah yang dimenangkan dari riuhnya ketidakpastian. Kita jalin sauh yang menghujam ke bawah, tempat para pengelana meletakkan lelah pada pundak yang nihil tanya akan arah angin. Kita sendirilah petunjuk jalan, bersama benang-benang navigasi lain bernama kepercayaan. Kita rajut atap dari benang-benang mimpi dan jiwa yang dipintal satu-satu, … Lanjutkan membaca Familia
Dialektika Dualitas Dara
Tumpah dawat dari sungsang pena, dipahatnya riwayat yang berselisih parkamen. Hasil dari dimuntahkannya takdir. Sementara cungkup langit merunduk khusyuk, ujung kalamnya menari. Tarian penggurat seloka untuk melampaui nalar. Begitu pula kala kelambu luruh. Robeklah olehnya selaput adab, guna menyusur sumber jelaga di balik teduh.Adalah jiwa itu naskah arkais. Disusun jemari yang mengkhatamkan denting nan magis. … Lanjutkan membaca Dialektika Dualitas Dara
Bintang Jatuh
Aksara-aksara duniawi malam itu terlampau angkuh. Maka, ia pun jatuh. Tiada iringan tabuh, pun wiru kain menyibak teduh. Hanya bertemankan serpihan gemintang, rontok dari ceruk telapak langit, untuk kemudian mendarat telak bersama jejaknya, pada pelataran dada yang gersang.Tiap-tiap yang didatangi memeluk malamnya sendiri. Ada yang jelaga tenang, ada yang hancur lebur sehabis badai menerjang. Langkah … Lanjutkan membaca Bintang Jatuh
Tuan Nyaris Pernah
Suatu kala, sempat aku berkaca di tepian telaga. Tertambat pada replikaku yang digempur bayu pada permukaan sebening kaca. Di sanalah, kudengar kau menyanyikan tembang nestapa. Suaramu menyayat-nyayat udara, memecah setiap partikelnya. Rusukku terbakar oleh api laramu yang memancar. Panas sekaligus bercahaya. Membuatku marah sekaligus pasrah. Kadung kucela takdir di ambang riak yang kian sungsang. Dunia … Lanjutkan membaca Tuan Nyaris Pernah
Mawar yang Marwah
Mawar itu mengkristal dari sepi yang diperah.
Hibrida
Engkau mencintai banyak orang. Engkau membenci banyak orang. Engkau serupa sebuah bejana pualam yang terbiar rengkah meluapkan isinya, karena dipaksa menampung samudra.
Mekarlah
Lihatlah, Bumi, sekalipun menjadi lumbung dukkha, pasti 'kan tetap sigap merengkuhmu, kapan saja kau terjatuh dari keping gemintang yang tengah coba kaupetiki. Tak perlu cemas jika kaupulang dengan jemarimu yang hampa. Tiada yang tak layak untuk dibasuh oleh teguhnya tanah di bawah sana. Kita 'kan kembali. Dia akan membantu. Untuk memijaki realita. Untuk menyadari raga. … Lanjutkan membaca Mekarlah
Bagaimana Jika …?
Bagaimana jika matamu sebenarnya pengkhianat nan paling fasih berdusta? Dunia ini skenografi yang catnya masih basah. Jangan sepenuhnya percaya pada tegaknya gunung. Gelombang tanah yang sedang menarik napas panjang jutaan tahun, menunggu waktu untuk kembali menjadi debu yang tergulung. Jangan seutuhnya percaya pada beningnya air. Cermin yang sedang menyembunyikan kegelapan palung dengan pantulan langit yang … Lanjutkan membaca Bagaimana Jika …?
Selamat Mekar
Habis gelap terbitlah terang. Mungkin akan ada gelap lagi, yang akan datang. Entah dalam wujud yang sama, entah yang berbeda. Sebagaimana rupa bulan yang tak selamanya bercahaya. Sebagaimana Bumi yang tidak senantiasa disirami matahari. Sebagaimana pasang dan surut lautan. Sebagaimana musim yang akan lagi-lagi bersemi setelah musim dingin mencekal aktivitas. Segalanya adalah siklus. Segalanya adalah … Lanjutkan membaca Selamat Mekar

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.