Dialektika Dualitas Dara

Tumpah dawat dari sungsang pena, dipahatnya riwayat yang berselisih parkamen. Hasil dari dimuntahkannya takdir.

Sementara cungkup langit merunduk khusyuk, ujung kalamnya menari. Tarian penggurat seloka untuk melampaui nalar. Begitu pula kala kelambu luruh. Robeklah olehnya selaput adab, guna menyusur sumber jelaga di balik teduh.

Adalah jiwa itu naskah arkais. Disusun jemari yang mengkhatamkan denting nan magis. Kini, embusan napasnyalah melodi. Pada rongga dadanya, bersemayam kemuridan diri. Landasan untuk pendakian menuju puncak tanpa tepi.

Sebagai pengumpul cahaya di tengah kemelut, ia pilih diksi paling bening. Kemudian dijadikannya jimat, bagi mereka yang kehilangan kompas.

Aksara ialah doa yang disaring dari empedu.
Menulis ia dengan saripati kesabaran yang syahdu.
Terangnya pikiran serupa pedang yang ditempa pawaka.
Hingga sanggup membelah gulita di ufuk cakrawala.

Ia mafhum. Untuk menjadi ranum, seseorang mesti bersedia layu berulang kali, lalu bangkit kembali dalam rupa yang lebih maklum. Jiwanya labirin yang tertata rapi, tempat empati mengalir, seperti air suci yang membasuh kaki musafir. Dilihatnya apa yang nirwujud melalui lensa yang berbeda. Sebab, kawan karibnya, yang bernama Kesunyian, telah mengajarkannya dalam diam yang merantai dosa dan merangkai doa-doa.

Ketika rembulan mencapai titik nadir, cahaya lilin menari dalam kecemasan. Raga itu menanggalkan jubah pengabdiannya.

Peraduan yang menjadi medan laga membisikkan sabda. Bahwa sudah waktunya ia berhenti menjadi pemazmur yang tenang. Kini, jelmakanlah ia sebagai badai yang lapar, guna menuntut haknya dengan taring nan tajam. Insting yang sekian lama terpenjara logika, kini menemukan celah untuk meledak.

Raganya, tanah liat yang haus jamahan.
Mencari dialektika tubuh dalam perjumpaan.
Namun, dijauhinya pelampiasan serampangan.
Hanya membuka gerbang bagi frekuensi ketulusan.

Pertemuan dua kulit. Lidah dan lidah saling lilit dan membelit. Sakral sekaligus profan. Konsensus yang lahir dari tatapan mata, lantas menyulut sumbu keinginan hingga ke sumsum tulang. Liarnya dijelmakanlah dalam perlucutan. Telanjang di atas ranjang, meluruhkan segala kiasan.

Ia rayakan setiap inci saraf dengan intensitas menakutkan. Seolah-olah setiap perjumpaan adalah kiamat kecil yang ia jemput dengan kebahagiaan.

Demi Kehidupan yang berdaulat atas dahaganya sendiri, perempuan itu menaklukkan, sekaligus menyerah dalam waktu bersamaan.

Dualitas ini paradoks yang megah. Di pagi hari, ia embun yang menyejukkan jiwa gersang melalui bait-bait penuh kebijaksanaan. Di malam hari, ia api unggun yang membakar dirinya di bawah selimut berantakan.

Manusia memang diciptakan untuk melingkar; merangkul cahaya dan bayang di bawah satu atap kulit.

Biarkan ia tetap menjadi misteri yang tak terpecahkan. Biarkan ia terus menulis sabda terang sembari membayangkan jemari kekasih mencengkeram pinggangnya nanti malam. Dalam dirinya, air dan api telah bersalaman menciptakan simfoni, dalam nada mayor dan minor yang dilahirkan Keberadaan.

Tinggalkan komentar