Orang-orang berbondong datang menangkapmu sebagai satu-satunya manusia yang terjaga. Sebab, di negeri yang krisis akal sehat, bahkan kewarasan pun dianggap sebagai sebonggol maksiat.
Mimpi Buruk di Negeri Ironi
Orang-orang berbondong datang menangkapmu sebagai satu-satunya manusia yang terjaga. Sebab, di negeri yang krisis akal sehat, bahkan kewarasan pun dianggap sebagai sebonggol maksiat.
Dalam Bahasa Indonesia, kita berkata, “Kau menyakitiku.” Namun, melankoli menulis ...
Pada gaduh yang dimainkan langit, kutiupkan serta sealun suara yang akan ikut terbenam jua dalam ritme hujan tua:
Rimba ini sungguh berantakan, Ibu. Alam menggelantungkan gairah di pucuk-pucuk pohon randu, yang gugur satu-satu seperti rontokan rambut setiap kusisir pagi-pagi. Entah apakah akan tumbuh kembali.
SUMBAT TELINGA, TUTUP MATA, sumpal hidung. Sekalipun kauakui, paru itu sempat sesak oleh ampas yang menguap dari asap pembakaran.
Kita berpijak di atas sepetak karsa yang sama, tanah yang dimenangkan dari riuhnya ketidakpastian. Kita jalin sauh yang menghujam ke bawah, tempat para pengelana meletakkan lelah pada pundak yang nihil tanya akan arah angin. Kita sendirilah petunjuk jalan, bersama benang-benang navigasi lain bernama kepercayaan. Kita rajut atap dari benang-benang mimpi dan jiwa yang dipintal satu-satu, … Lanjutkan membaca Familia
Tumpah dawat dari sungsang pena, dipahatnya riwayat yang berselisih parkamen. Hasil dari dimuntahkannya takdir. Sementara cungkup langit merunduk khusyuk, ujung kalamnya menari. Tarian penggurat seloka untuk melampaui nalar. Begitu pula kala kelambu luruh. Robeklah olehnya selaput adab, guna menyusur sumber jelaga di balik teduh.Adalah jiwa itu naskah arkais. Disusun jemari yang mengkhatamkan denting nan magis. … Lanjutkan membaca Dialektika Dualitas Dara
Aksara-aksara duniawi malam itu terlampau angkuh. Maka, ia pun jatuh. Tiada iringan tabuh, pun wiru kain menyibak teduh. Hanya bertemankan serpihan gemintang, rontok dari ceruk telapak langit, untuk kemudian mendarat telak bersama jejaknya, pada pelataran dada yang gersang.Tiap-tiap yang didatangi memeluk malamnya sendiri. Ada yang jelaga tenang, ada yang hancur lebur sehabis badai menerjang. Langkah … Lanjutkan membaca Bintang Jatuh
Teruslah meraya, Ananda. Teruslah rayakan segala. Apa-apa yang luruh sebelum sempat tumbuh. Dan, segala yang dikekalkan dalam ingatan, sekalipun raga mungkin tak lagi teguh. Selebrasikan saja … semuanya. Bahkan sekadar desau napas yang acap kali kauabaikan. Sungguh, ialah satu-satunya melodi paling setia nan menemanimu. Membersamaimu dalam menyusuri lorong-lorong takdir yang sekali-kali menyempit.Tidak perlu mengutuk gulita … Lanjutkan membaca Teruslah Meraya
Suatu kala, sempat aku berkaca di tepian telaga. Tertambat pada replikaku yang digempur bayu pada permukaan sebening kaca. Di sanalah, kudengar kau menyanyikan tembang nestapa. Suaramu menyayat-nyayat udara, memecah setiap partikelnya. Rusukku terbakar oleh api laramu yang memancar. Panas sekaligus bercahaya. Membuatku marah sekaligus pasrah. Kadung kucela takdir di ambang riak yang kian sungsang. Dunia … Lanjutkan membaca Tuan Nyaris Pernah
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.