Anomali di Rimba


Rimba ini sungguh berantakan, Ibu. Alam menggelantungkan gairah di pucuk-pucuk pohon randu, yang gugur satu-satu seperti rontokan rambut setiap kusisir pagi-pagi. Entah apakah akan tumbuh kembali.

Dongakanku dibalas nyalang sang matahari. Sedang waktu berjalan dengan logika sendiri. Membusuk di tanah, berbaur bersama humus dan bangkai kumbang tanduk untuk kuinjak dengan dua kaki. Lantas menjelma bubur hitam kental yang mengisap tumit setiap kali kucoba mencari arah berlari.

Ibu, sepertinya Semesta memang dibangun dari melankoli yang patah-patah. Mungkinkah sang juru tik lupa cara mengeja kata Baik-baik dalam cerita? Subuh ini, kupungut sepotong langit jatuh di dekat rawa-rawa. Ia yang pernah kulukis dari mimpi-mimpi yang kaubantu eja. Kini warnanya biru pucat, permukaannya pun tampak berkarat. Sebagian sisinya tercelup lumpur dari humus waktu yang kakiku lumat sebelumnya. Sudah tak dapat terselamatkan lagi.

Barangkali akalku tak lagi waras, Ibu. Sebab tahu-tahu membayang rumah kita dari sela-sela pucuk pohon yang melambai-lambai. Rumah yang lantainya dari sisik-sisik ikan yang kaubersihkan pagi-pagi, dindingnya terbuat dari ampas teh melati, dan beratapkan ceramahmu yang membumbung dengan wangi minyak kayu putih. Di rimba yang berantakan ini, tiada yang menggaris batasan apa pun. Aku dipaksa menjadi binatang liar oleh sepasang jam dinding mati yang terus berdetak di rongga dada. Detaknya berbunyi kerja, kerja, kerja, gila.

Oh, gawat, Ibu. Pepohonan randu kini mulai menumbuhkan mata di sekujur batangnya. Mata-mata kecil berwarna cokelat yang berkedip serempak setiap kali angin membawa diri dari arah utara. Mereka menyadariku sebagai seonggok anomali. Sepatah laut yang keliru diselipkan di antara paragraf tentang keheningan rimba.

Dan, aku mungkin akan mereka usir. Atau mereka lumat dalam adonan waktu, yang membusuk di tanah, bersama humus dan bangkai kumbang tanduk untuk diinjak dengan … ribuan kaki.

Tinggalkan komentar