Malam merayapkan gundah pada jiwa-jiwa yang merindu. Entah merindukan seseorang. Entah merindukan bayang-bayang. Entah merindukan kasih sayang. Atau merindukan titik tuju. Atau merindukan masa lalu. Atau merindukan gegasnya laju waktu.
Mus(e)ikalmu
Apakah kautahu, sosokmu dalam bingkaiku justru menoreh sembilu aneh di relung kalbu?
Mimpi Buruk di Negeri Ironi
Orang-orang berbondong datang menangkapmu sebagai satu-satunya manusia yang terjaga. Sebab, di negeri yang krisis akal sehat, bahkan kewarasan pun dianggap sebagai sebonggol maksiat.
Melankoli Menulis
Dalam Bahasa Indonesia, kita berkata, “Kau menyakitiku.” Namun, melankoli menulis ...
Sepucuk Rindu Untuk Dihanyutkan Hujan
Pada gaduh yang dimainkan langit, kutiupkan serta sealun suara yang akan ikut terbenam jua dalam ritme hujan tua:
Anomali di Rimba
Rimba ini sungguh berantakan, Ibu. Alam menggelantungkan gairah di pucuk-pucuk pohon randu, yang gugur satu-satu seperti rontokan rambut setiap kusisir pagi-pagi. Entah apakah akan tumbuh kembali.
Kunci Bersikap Bodo Amat
SUMBAT TELINGA, TUTUP MATA, sumpal hidung. Sekalipun kauakui, paru itu sempat sesak oleh ampas yang menguap dari asap pembakaran.
Familia
Kita berpijak di atas sepetak karsa yang sama, tanah yang dimenangkan dari riuhnya ketidakpastian. Kita jalin sauh yang menghujam ke bawah, tempat para pengelana meletakkan lelah pada pundak yang nihil tanya akan arah angin. Kita sendirilah petunjuk jalan, bersama benang-benang navigasi lain bernama kepercayaan. Kita rajut atap dari benang-benang mimpi dan jiwa yang dipintal satu-satu, … Lanjutkan membaca Familia
Dialektika Dualitas Dara
Tumpah dawat dari sungsang pena, dipahatnya riwayat yang berselisih parkamen. Hasil dari dimuntahkannya takdir. Sementara cungkup langit merunduk khusyuk, ujung kalamnya menari. Tarian penggurat seloka untuk melampaui nalar. Begitu pula kala kelambu luruh. Robeklah olehnya selaput adab, guna menyusur sumber jelaga di balik teduh.Adalah jiwa itu naskah arkais. Disusun jemari yang mengkhatamkan denting nan magis. … Lanjutkan membaca Dialektika Dualitas Dara
Bintang Jatuh
Aksara-aksara duniawi malam itu terlampau angkuh. Maka, ia pun jatuh. Tiada iringan tabuh, pun wiru kain menyibak teduh. Hanya bertemankan serpihan gemintang, rontok dari ceruk telapak langit, untuk kemudian mendarat telak bersama jejaknya, pada pelataran dada yang gersang.Tiap-tiap yang didatangi memeluk malamnya sendiri. Ada yang jelaga tenang, ada yang hancur lebur sehabis badai menerjang. Langkah … Lanjutkan membaca Bintang Jatuh

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.