Mekarlah

Lihatlah, Bumi, sekalipun menjadi lumbung dukkha, pasti 'kan tetap sigap merengkuhmu, kapan saja kau terjatuh dari keping gemintang yang tengah coba kaupetiki. Tak perlu cemas jika kaupulang dengan jemarimu yang hampa. Tiada yang tak layak untuk dibasuh oleh teguhnya tanah di bawah sana. Kita 'kan kembali. Dia akan membantu. Untuk memijaki realita. Untuk menyadari raga. … Lanjutkan membaca Mekarlah

Prototipe

(𝘚𝘦𝘣𝘶𝘢𝘩 𝘱𝘳𝘰𝘵𝘰𝘵𝘪𝘱𝘦 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘢𝘸𝘢𝘭 𝘮𝘶𝘭𝘢, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘵𝘢𝘭 𝘥𝘪𝘢𝘫𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘵𝘶𝘭𝘪𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘥𝘪𝘳𝘢𝘴𝘢 ̵𝘨̵𝘢̵𝘨̵𝘢̵𝘭̵ 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘯𝘶𝘩𝘪 𝘱𝘳𝘰𝘮𝘱𝘵 𝘴𝘦𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘦𝘬𝘴𝘱𝘭𝘪𝘴𝘪𝘵. 𝘈𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘴𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘯𝘫𝘶𝘳 𝘥𝘪𝘵𝘶𝘭𝘪𝘴, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘤𝘰𝘣𝘢 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘯𝘫𝘶𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘧𝘪𝘯𝘢𝘭.) 𝑻𝑰𝑮𝑨 𝑱𝑨𝑴 𝑳𝑨𝑳𝑼, 𝑨𝑲𝑼 𝑴𝑨𝑺𝑰𝑯 𝑫𝑰𝑲𝑼𝑹𝑼𝑵𝑮 lembabnya udara Changi. Namun, kini, Jakarta menyergapku dengan kepulan polusi. Kabar yang kuterima dari sebuah alamat surel … Lanjutkan membaca Prototipe

Manusia Mati Meninggalkan Nama

𝑼𝑵𝑻𝑼𝑲 𝑲𝑬𝑺𝑬𝑲𝑰𝑨𝑵 𝑲𝑨𝑳𝑰𝑵𝒀𝑨, aku menenggak ludah. Sebagai Buddhis yang tersesat di pemakaman Muslim, kuputuskan menjadi bayangan. Menghormati jarak. Menjaga laku. Ini bukan pengalaman perdana aku menjejaki taman pekuburan Islam. Namun, situasi sekarang menyodorkan rasa yang terlampau asing. Sebab sosok yang kujenguki terpaut dua puluh tahun dari masa kini. Figur Abdul—atau Apuy—dalam ingatan teranyarku adalah bocah … Lanjutkan membaca Manusia Mati Meninggalkan Nama

Lidahmu Api …

Lidahmu api, di kala kayu-kayu telah menjelma abu yang berhenti membara. Namun, masih saja kaujilat udara, mencoba melalap langit dengan sisa-sisa nyala. Di sanalah bersemayam keagungan, yang tak butuh saksi mata. Biarkan mereka yang buta meraba-raba, sebab makna hanya sudi tunduk pada jiwa-jiwa yang sudah khatam dengan gulita. Maka, siapkah kauarungi labirin tak bertepi, hanya … Lanjutkan membaca Lidahmu Api …

Bagaimana Jika …?

Bagaimana jika matamu sebenarnya pengkhianat nan paling fasih berdusta? Dunia ini skenografi yang catnya masih basah. Jangan sepenuhnya percaya pada tegaknya gunung. Gelombang tanah yang sedang menarik napas panjang jutaan tahun, menunggu waktu untuk kembali menjadi debu yang tergulung. Jangan seutuhnya percaya pada beningnya air. Cermin yang sedang menyembunyikan kegelapan palung dengan pantulan langit yang … Lanjutkan membaca Bagaimana Jika …?

Selamat Mekar

Habis gelap terbitlah terang. Mungkin akan ada gelap lagi, yang akan datang. Entah dalam wujud yang sama, entah yang berbeda. Sebagaimana rupa bulan yang tak selamanya bercahaya. Sebagaimana Bumi yang tidak senantiasa disirami matahari. Sebagaimana pasang dan surut lautan. Sebagaimana musim yang akan lagi-lagi bersemi setelah musim dingin mencekal aktivitas. Segalanya adalah siklus. Segalanya adalah … Lanjutkan membaca Selamat Mekar

Di Hadapan Semesta …

Di hadapan semesta, cara kita memandang dunia ini, bergantung pada serangkaian bingkai yang kita pasang sendiri di depan mata.Apa yang dianggap maut oleh sang ulat, bagi nurani yang bijak, merupakan lahirnya sepasang sayap yang megah. Kita sering terpasung dalam satu sudut pandang, seolah-olah cahaya hanya datang dari matahari semata. Padahal, setiap jiwa membawa pelitanya sendiri … Lanjutkan membaca Di Hadapan Semesta …