Lihatlah, Bumi, sekalipun menjadi lumbung dukkha, pasti ‘kan tetap sigap merengkuhmu, kapan saja kau terjatuh dari keping gemintang yang tengah coba kaupetiki. Tak perlu cemas jika kaupulang dengan jemarimu yang hampa. Tiada yang tak layak untuk dibasuh oleh teguhnya tanah di bawah sana. Kita ‘kan kembali. Dia akan membantu. Untuk memijaki realita. Untuk menyadari raga. Untuk mengumpulkan daya. Untuk kembali berjaya. Sebagaimana kembang-kembang nan indah yang tetap ‘kan ditumbuhkannya, dari hamparan yang pernah pula merasakan gersang dan sekarat. Bersemu dan bersemilah, bersama mekarnya mereka, wahai jiwa-jiwa yang jelita.
Mekarlah
