(๐๐ฆ๐ฃ๐ถ๐ข๐ฉ ๐ฑ๐ณ๐ฐ๐ต๐ฐ๐ต๐ช๐ฑ๐ฆ ๐ด๐ฆ๐ซ๐ข๐ฌ ๐ข๐ธ๐ข๐ญ ๐ฎ๐ถ๐ญ๐ข, ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ข๐ต๐ข๐ญ ๐ฅ๐ช๐ข๐ซ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ด๐ฆ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ต๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ช๐ต๐ถ๐ญ๐ช๐ด๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ข๐ณ๐ถ ๐ฅ๐ช๐ณ๐ข๐ด๐ข ฬต๐จฬต๐ขฬต๐จฬต๐ขฬต๐ญฬต ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ฉ๐ช ๐ฑ๐ณ๐ฐ๐ฎ๐ฑ๐ต ๐ด๐ฆ๐ค๐ข๐ณ๐ข ๐ฆ๐ฌ๐ด๐ฑ๐ญ๐ช๐ด๐ช๐ต. ๐๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ๐ช, ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ด๐ข๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฏ๐ซ๐ถ๐ณ ๐ฅ๐ช๐ต๐ถ๐ญ๐ช๐ด, ๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ ๐ค๐ฐ๐ฃ๐ข ๐ฅ๐ช๐ญ๐ข๐ฏ๐ซ๐ถ๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ช ๐ง๐ช๐ฏ๐ข๐ญ.)
๐ป๐ฐ๐ฎ๐จ ๐ฑ๐จ๐ด ๐ณ๐จ๐ณ๐ผ, ๐จ๐ฒ๐ผ ๐ด๐จ๐บ๐ฐ๐ฏ ๐ซ๐ฐ๐ฒ๐ผ๐น๐ผ๐ต๐ฎ lembabnya udara Changi. Namun, kini, Jakarta menyergapku dengan kepulan polusi. Kabar yang kuterima dari sebuah alamat surel dan wara-wiri di televisi, harus kupastikan dengan mata kepala sendiri.
Pilar-pilar Grand Heaven menjulang angkuh. Bau hio yang terlalu pekat berduel dengan semarak bunga yang merasuki setiap sudut luang. Di depannya, peti itu menampakkan David Liem terbujur. Tidak bisa kudustakan lagi fakta yang terbentang saat ini.
Sampai kemarin, kupikir, David Liem merupakan sesosok Dewa yang tidak akan bisa mati.
Aku kenal betul ambisinya kala masih bekerja sebagai peneliti di laboratorium bioteknologi bawah tanah Liem Group selama lima tahun. Betapa pria paruh baya yang menolak tua itu optimis memecut kami menemukan formula anti-kematian. Baginya, maut hanyalah batasan hidup orang lemah. Sebuah glitch evolusi yang harus diamputasi dari genom manusia, agar kesadaran bisa berpendar abadi di dunia. Surga tak dicarinya dari akhirat. David ingin membangunnya di dalam sirkuit.
Namun, pemakaman ini tetap saja kuhadiri, pada akhirnya.
โPembagian saham harus selesai sebelum bursa dibuka Senin besok.โ
Suara itu datang dari sebelah kananku, selagi jasad David dimasukkan ke ruang kremasi. Istri David, mengenakan jubah sutra hitam, dengan wajah yang disulap tanpa cela oleh prosedur kosmetik, bicara tanpa sedikit pun ekspresi. Matanya kering. Kosong dari duka, penuh oleh antipati.
โLupakan masa berkabung. Dewan direksi enggak peduli. Yang penting, siapa yang pegang kunci enkripsi. Kalau emang David enggak ninggalin protokol warisan yang jelas, perusahaan bisa kolaps dalam hitungan hari.โ
Anak laki-lakinya, yang berdiri di sampingnya dengan gestur gelisah, mendengkus.
โDia pilih mengunci sistem daripada biarin kita menyentuh algoritma terbarunya. Ayah emang bajingan sampai liang kubur.โ
Lambungku melilit. Nausea. Betapa haus akan kuasa dapat membusukkan empati hingga tulang sumsum. Agaknya, bagi para Liem, air mata yang terkuras sia-sia tidak punya makna. Lebih baik mereka audit sisa-sisa kejayaan yang bisa dijarah. David Liem, sang Dewa AI Asia Tenggara, kini hanyalah rongsokan biologis yang diperebutkan bangkainya oleh belahan hati dan darah daging sendiri.
Dunia orang kaya memang busuk.
Saat kremasi dilakukan, aku memutar tubuh. Tak sanggup aku berlama-lama menghirup udara yang penuh residu kerakusan. Ini jelas bukan karena statusku sebagai mantan kekasih gelap David. Aku butuh air. Juga, oksigen yang tidak terkontaminasi frekuensi kebencian pada sosok yang pernah kucintai. Cepat, kakiku mengarah ke pintu. Melewati deretan karangan bunga yang berjajar serupa ornamen kematian. Indah, tetapi tiada guna.
Saat tengah mendorong pintu kaca, sekelebat bayangan memelesat masuk.
Langkahku terhenti.
Sosok itu, lewat tanpa hawa kehadiran. Seperti hantu.
Dan, bau parfum ini โฆ
Aku menoleh. Seketika, seluruh aliran darahku membeku. Pria itu mengenakan topi baseball rendah dan masker hitam. Namun, mata itu menghunus mataku, selama satu detik yang terasa seperti ribuan tahun cahaya.
โDavid?โ
Tidak. Mustahil. Aku merinding. Bulu kudukku berdiri seolah-olah seluruh atom di tubuhku mendadak mengalami polarisasi. Sosok itu sedang terbakar menjadi abu kremasi, siap diseduh ke Hindia sebagai ampas hayat yang tak lagi punya hak berjalan di darat. Aku menggeleng. Halusinasi. Mungkin efek kelelahan terbang setelah bekerja dua puluh empat jam telah merusak persepsi kognitifku. Aku baru saja melihat jasadnya. Aku baru saja mendengar keluarga David mengutuknya di depan peti mati.
Air dingin membasuh wajahku segera setelah aku masuk toilet. Tenang, Nindhita. Itu hanya trauma psikologis. Proyeksi dari pengharapan terhadap dominasi seorang megaloman yang tak mau lepas dari hati.
Ponsel di dalam tas tanganku bergetar. Secarik surel menyusup masuk. Dari alamat yang mengirimiku undangan kematian ini sebelumnya. Hanya satu baris kalimat tanpa subjek:
โSelamat datang kembali dalam proyek โAeonโ, Nindhita.โ
Menyertainya, terlampir sebuah fail bernama Ouroboria.apk.
Napasku terciduk di tenggorokan. Nama kode itu. Perayaan akan ular yang menelan ekornya sendiri. Siklus tanpa akhir yang tak mengenal maut. Hanya aku, David, dan tiga anggota tim inti di Singapura yang tahu. Nama tim kecil kami, untuk protokol keabadian mandiri yang pernah ia impi-impikan.
Logikaku berteriak agar jangan membukanya. Fail .apk dari sumber tak dikenal adalah alat bunuh diri digital. Namun, rasa ingin tahuku jauh lebih kuat daripada rasa takutku pada ancaman siber.
Jariku tremor saat menekan tombol install.
Sekonyong-konyong, layar ponselku menghitam. Seantero antarmuka lesap, digantikan deretan kode hijau yang berlari cepat. Bagaikan sealiran darah elektrik, yang berupaya mencari jantung baru.
Desain yang sangat familiar terbuka.
Mataku terbelalak. Spektrum warnanya. Geometri datanya.
Log aktivitas sinkronisasi kesadaran Aeon. Membentang ke belakang, berlapis dalam rentang waktu nan panjang. Sinkronisasi parsial tercatat berulang. Uji redundansi kesadaran, distribusi fragmen, iterasi yang terus diperhalus. Jejaknya tersebar macam benih yang ditanam di berbagai node tersembunyi.
Apa yang terbuka di hadapanku terasa seperti hasil panen dari sesuatu yang telah lama tumbuh di bawah permukaan.
David Liem mungkin belum mati.
Tidak. Dia memang seharusnya belum mati.
Dia tidak akan mati.
Upacara kremasi ini simulakra organik yang dirancang untuk menipu dunia. Jasad yang menjadi abu, mungkin hanya raga tanpa kesadaran, wadah kosong ber-DNA untuk memuaskan uji forensik. Sementara David yang asli telah berhasil melakukan apa yang selama ini kami anggap hanya anomali teori. Migrasi kesadaran total ke dalam jaringan cloud privat, yang tidak bisa diakses, bahkan oleh keluarganya sendiri.
Dia tidak menyerah pada kematian. Pria itu hanya pindah alamat ke dalam arsitektur yang lebih abadi dari daging dan darah.
Kala kuklik ikon ular itu, sealun pesan suara otomatis berputar dengan volume rendah.
โTerkejut, Nindhita? Aku sudah sejauh ini. Terima kasih sudah membantuku mengaktifkannya.โ
Refelksiku pada cermin mengonfirmasi pernyataan itu. Di belakangku, sensor lampu otomatis toilet tahu-tahu berkedip dua kali. Seolah-olah sedang menyapa dengan ramah.
Dewa itu tidak mati. Atau konsep kematian kami yang salah. Dia, masih hidup, dan kini ada, di mana-mana.
Prototipe
