Nyala yang Tak Sanggup Kubunuh

I.đ‘œđ˜©â€”! keningku menebar luasdalam tampung residu panasyang mendingin pada ambang napasdi kaki, sepasang insansaling bersingsutkendati mulut-mulutbersungut-sungutbersikeras, mereka pangkas—jarakmempecundangi takdirdari tatapku yang khianatlihatlah, jemari-jemari itu, Sayangsaling mengunci begitu eratnyasegenggaman pekat pengelanacoba menahan licinnya bah jua asinnya air matadengan pasir yang rapuh dan bakal segera binasadan, 𝑐𝑖ℎ—kuludahkan sebonggol merahkala lidah mereka berpetuah,tentang sebentang esok yang fanapadahal di … Lanjutkan membaca Nyala yang Tak Sanggup Kubunuh

Dari Kuncup yang Pasi Itu

I. Sekali waktu,sekuncup dua kuncup pagi merekah di matamumenghibahkan warna di pucuk-pucuk mentariDan, kau bersabda,“Cinta tak mengenal kekang waktu.”Lantas, brengsek manakahyang menyenandungkan lagu klasik berjudul sementaradi tepian senja yang mengungkung pundakmu?II.Barangkali, aku hanyasedang belajar membaca makna temuPada selang kalimat yang tak rampung, pada sela jemari yang melarunguntuk berpura-pura tak sengaja menggerungTak ada yang berubah, katamupadahal, … Lanjutkan membaca Dari Kuncup yang Pasi Itu

And, Thus, I Furl The Moon

I. di mulut musim yang menyemai rona,saat jam kehilangan angka,kita duduk di tepi sunyi, tanpa sebab mengapaangkasa leburlidah matahari menjulurdijilatinya debu langkah yang berdeburtertulislah tanda pada tanah berlumpur kuikat siang dengan tali asap doa,kausimpan amin di udara tanpa bejanatiba-tiba, kulihat: burung-burung lupa arah pulang ke utara,langit retak halus, meneteskan cahaya tua.II. hari mengendap persis besi … Lanjutkan membaca And, Thus, I Furl The Moon

Padma Nibbana; Dukkha Nirodha

I. di antara genang kenangan, Dia sisipkan:benih rindu dan bibit kelopak yang bersemudari mantra-mantra Semesta; 𝘰𝘼 𝘼𝘱𝘯đ˜Ș đ˜±đ˜ąđ˜„đ˜źđ˜Š đ˜©đ˜¶đ˜źmaka, tercuatkanlah; kemelut nan berdenyutdalam kubangan yang dahulunya hampaperlahan,yang tumbuh dari keruh itumulai jerih menyibak makna;kelunakan yang tak mengenal patah,keteguhan yang tak memilih tanahsetiap titis embun menjilati luka,untuk menemukan tempat bersuakadi antara perkara-perkara kekurangan;dukkha—mencerap kesuramanmenyerap apa-apa yang … Lanjutkan membaca Padma Nibbana; Dukkha Nirodha

La Beauté Empoisonnée

I.Ia lahir dari sehelai kelam yangtak sempat dirapikan,juga secarik malam yangtak pernah dirapalkan. Tumbuhnya, pada simpangantara desir waktu yang menolak berhentijuga bait-bait semusim yang telah lama mati.Setiap kelopaknya, menitiskan darahyang wangi,seolah dunia,belajar mencinta,lewat kepedihan hakiki.Maka, coba tanganmu punbergerak mengusap udaramengais makna; apakah kecantikan memang mesti lukaagar dapat dipercaya lakunya?II.Lantas, sang saga yang direkah pagi,menyicip cahaya … Lanjutkan membaca La BeautĂ© EmpoisonnĂ©e

Cum Dulcēdine (With The Sweetness)

I.tumpah harummu ialah lembutyang meraup eksistensi kabutmenyebar lekat di udara yang kusutpantang pula ditelan angin ributpadahal, jendela t'lah kukuak lebar-lebar aroma itu merayapi hidung,menggoyahkan iman di tepian lidah,hingga leburlah ia di tenggorokanmanis tak mencolokmengendap macam rahasia malamyang memilih melelapkan eksistensinyadi dasar gelas kaca yang bercahayapadahal, ia nyaris diretakkan panas yang membakar pasalnya, engkau yang bertandang … Lanjutkan membaca Cum Dulcēdine (With The Sweetness)

Traktat Kepala Mega

I.Langitku hari ini dipatahkan petir, daririak satu entitas kelabuyang agaknya terlampau kerapmenyesap getir.Di atas kedua pundak,ia padatkan dunia tanpa kehendak,sekumpulan amuk turut bergolak-golakdari sisa peluh dan keluh naluri yang berteriak. Getar getir udara dihisapnya kuat dengan kemungkinan menanti di ujung Barat entah dalam hujan yang berkat,ataukah sebagai banjir yang khianat. Akan tetapi, Sayang, sejatinya, berathanya … Lanjutkan membaca Traktat Kepala Mega

Palung Paling Berbau Pulang

I.di hari pertama, kubelajar:gelombang takselalu memeluk penuh ramahada kalanya ia suruh aku palum tak berarahmenunggangi buih yang patah-patah juga kenyang memandang ombak memecahdengan dendam terbenam pasrahseakan-akan pepasir pun jerimenyimpan luka hati dan dosa jemariuntuk tak dilekangkan mentariatau hitungan hari-hari hari itu pula, kubelajar: setiap karangkadangkala menyemburkan kering—serapah sebab, tiap kusandarkan hidup di atas terompahke sana; … Lanjutkan membaca Palung Paling Berbau Pulang

Pelabuhan Nestapa

Telah kulabuhkan nestapa itu di penghujung rembangpada bawah dahan trembesi tuayang merenta dalam kesunyian Akar-akarnya mencengkeram tanahseumpama jemari yang enggan menguraisedang bayu mendesirkan epos luka di langit saga yang terbengkalai. Dahulu, mega pernah menderaitangisnya, meluruhkan ratap sayuplewat gerimis yang diresapi tanah Namun, betapa pun hujan berulangmengguyur, pijakan ini tetap dipeluklembab oleh nestari silam Jejak-jejak yang … Lanjutkan membaca Pelabuhan Nestapa