I.
Langitku hari ini dipatahkan petir, dari
riak satu entitas kelabu
yang agaknya terlampau kerap
menyesap getir.
Di atas kedua pundak,
ia padatkan dunia tanpa kehendak,
sekumpulan amuk turut bergolak-golak
dari sisa peluh dan keluh naluri yang berteriak.
Getar getir udara dihisapnya kuat
dengan kemungkinan menanti di ujung Barat
entah dalam hujan yang berkat,
ataukah sebagai banjir yang khianat.
Akan tetapi, Sayang,
sejatinya, berat
hanya semata berpindah tempat.
II
Segenap lika-liku luka terkondensasi,
tak laku sepenuhnya disisihkan waktu.
Cakrawala abu ialah tempat barunya menggelantung
bersama selubung murung
berintikan ledakan yang terkurung.
Di sanalah gelegar menyalak-nyalak ricuh
memecahkan angkasa, dan apa-apa yang bertudungkan ia
menjadi kacau balaulah dalam bingkai nan kisruh
Namun, masih enggan sungguh-sungguh ia jatuhkan,
Sebab khawatir ia ‘kan jadi genangan—
takut akan melicinkan jalanan—
menggoyahkan pijakan—
menjadi; beban.
III
Maka, inisiatif aku mengiriminya sepucuk isyarat;
sebidang kerelaan tanah yang ramah
rekah membuka dataran
nan siap dirembesi tetumpah.
Kutawarkan pelipir bagi segala alir
sembari mengalkulasi detak detik melaju
menanti-nantikan kelabu yang sarat—
untuk menjumpainya melarat,
kemudian sekarat,
untuk; tamat.
Sebab, kutahu persis tengah
digenggamnya tekanan itu
membentuk massa di ambang peta rasa
di mana entalpi diempap kebungkaman tinggi
semua trauma dan serapah dibungkus elegi
yang takkan pernah bisa ditebus doa pagi,
pun ditembus semburat sang matahari.
Akan tetapi, Sayang …
waktu berlalu dan ia masih saja mengelu.
Mengambang, menyalak garang
tanpa secuil pun melirik aku.
Kugurat tanahku yang mengerontang itu, sembari memandang selaputnya yang bertolak menggelandang
Nihil derainya, hanya teriakannya, bernadakan ironi:
serupa janji sunyi yang kian merenta di kening kelabu.
Setiap bakal tetesnya, hasrat yang tertunda,
seolah-olah paradoks: ingin desah,
tetapi sungkan pula pecah;
ingin celah, tetapi pantang ‘tuk terpisah.
Barangkali, Sayang,
tanahku bukanlah yang hujannya damba
kendati selalu kusedia menampung sekalipun banjirnya
hingga: ia, menjelma berantah
derainyalah virga yang tak sempat curah
ke tempat di mana aku t’lah sukarela merebah.
𝐀𝐠𝐮𝐬𝐭𝐮𝐬 𝟐𝟎𝟐𝟓
(Tantangan menulis puisi dengan tema: Mega)
Traktat Kepala Mega
