... dan, Laut. perandaikan ragamu sepangkalan sauh, maka akulah bahtera yang telah penat mengarungi cakrawala
Menghikayatkan Larung
... dan, Laut. perandaikan ragamu sepangkalan sauh, maka akulah bahtera yang telah penat mengarungi cakrawala
di rongga dada; lama-lama kesejukan permisi ... dari rusuk-rusuk yang remuk ... dari jantung yang semata menggelantung ....
anak-anak mencintai gula-gula sampai gua merekah di gigi pun tidak apa ...
... tuhan beku dalam saku celana para pandita ... sebentar lagi Ia pecah dan bilah dan bilang, "panas lebih baik bagimu, Pendusta!" ...
KOTA KITA ADALAH kota mati. Di lorong-lorong yang gulita kutemui seonggokan sampah dari almari memorimu. Mereka yang dulunya sering kautimang sayang, kini usang usai kautendang buang.
Petang ini duka memang sedang senang bertandang, menyambangi halaman rumah kita yang baru saja berbenah dari suka. Rumput-rumput liar di pagar meringis miris, merunduk tunduk, beri jalan bagi kehilangan. Demi Agustus, masih mengendap wangi sitrus, masih menetap warna pirus. Sementara bendera-bendera yang kemarin bertengger di puncak, diturunkan separuh tiang. Kebitannya adalah lambaian, langgam perpisahan bagi … Lanjutkan membaca Pekarangan yang Memerdekakannya
bisik bisik serdadu angin berisik. ah, mereka suarakan namamu lagi, padahal ...
siapa menabur kopi di angkasa? hingga kelam arang telah berdikara, aroma manis menyentil daksa ...
Diorama kuda dipecut paksa Lupa istri lupa makan lupa segala ...