Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai

Aksa

Sejak malam di mana ibuku memilih keluarga baru bernama Keabadian, aku dan Ayah turut bercerai dan membentuk keluarga baru sendiri-sendiri.

Day 16 – Piatu

Tanda-tanda sang ibu menjelma nekropolis sudah lama hadir. Hanya si bungsu-lah yang serempak buta, akibat keterusan dipapari mimpi kosong sendiri, tentang kekayaan, tentang kejayaan, tentang kerajaan, tentang kelayakan ...

pagi-pagi sekali, secawan madu disajikan dalam tumpah ludah ayah di ujung meja makan. padahal, di sekitar kursi-kursi tengah berantakan: puing-puing dan sisa-sisa rencana hidup yang sudah diobrak-abrik kenyataan.   huh, tak ada waktu lagi untuk menyusun ulang. ini dua puluh empat jam sebelum detik penentuan. walhasil, adik menangis, kakak meringis, ibu mengiris-iris, aku merasa miris.... Continue Reading →

Petang ini duka memang sedang senang bertandang, menyambangi halaman rumah kita yang baru saja berbenah dari suka. Rumput-rumput liar di pagar meringis miris, merunduk tunduk, beri jalan bagi kehilangan. Demi Agustus, masih mengendap wangi sitrus, masih menetap warna pirus. Sementara bendera-bendera yang kemarin bertengger di puncak, diturunkan separuh tiang. Kebitannya adalah lambaian, langgam perpisahan bagi... Continue Reading →

Tawa

Empat kota tua dipelintir jadi satu rumah. Engkau menyinggahinya saat jauh malam; saat kesadaran jatuh dimakan lelap.

Redup

Kemilau yang selama ini kulihat darinya, tengah meredup malam ini. Dihalangi saput kepedihan seperti bintang yang ditutupi gumpal awan.

The Saviour

Tsukasa Amamiya memang lebih pantas sendiri. Hidup sendiri. Berdiri sendiri. Menjaga dirinya sendiri. Melakukan semuanya seorang diri. Ini adalah jalannya.

Miss[ing]

Sebagai teman dari tetanggamu yang baik, aku berkewajiban membantumu menumpahkan rasa rindumu pada putrimu.

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑