Sejak malam di mana ibuku memilih keluarga baru bernama Keabadian, aku dan Ayah turut bercerai dan membentuk keluarga baru sendiri-sendiri.
Aksa
Sejak malam di mana ibuku memilih keluarga baru bernama Keabadian, aku dan Ayah turut bercerai dan membentuk keluarga baru sendiri-sendiri.
Tanda-tanda sang ibu menjelma nekropolis sudah lama hadir. Hanya si bungsu-lah yang serempak buta, akibat keterusan dipapari mimpi kosong sendiri, tentang kekayaan, tentang kejayaan, tentang kerajaan, tentang kelayakan ...
pagi-pagi sekali, secawan madu disajikan dalam tumpah ludah ayah di ujung meja makan. padahal, di sekitar kursi-kursi tengah berantakan: puing-puing dan sisa-sisa rencana hidup yang sudah diobrak-abrik kenyataan. huh, tak ada waktu lagi untuk menyusun ulang. ini dua puluh empat jam sebelum detik penentuan. walhasil, adik menangis, kakak meringis, ibu mengiris-iris, aku merasa miris. … Lanjutkan membaca Pagi di Rumah Lagi
Petang ini duka memang sedang senang bertandang, menyambangi halaman rumah kita yang baru saja berbenah dari suka. Rumput-rumput liar di pagar meringis miris, merunduk tunduk, beri jalan bagi kehilangan. Demi Agustus, masih mengendap wangi sitrus, masih menetap warna pirus. Sementara bendera-bendera yang kemarin bertengger di puncak, diturunkan separuh tiang. Kebitannya adalah lambaian, langgam perpisahan bagi … Lanjutkan membaca Pekarangan yang Memerdekakannya
Empat kota tua dipelintir jadi satu rumah. Engkau menyinggahinya saat jauh malam; saat kesadaran jatuh dimakan lelap.
Kemilau yang selama ini kulihat darinya, tengah meredup malam ini. Dihalangi saput kepedihan seperti bintang yang ditutupi gumpal awan.
[Recall | 1(P-W) Davina Leslaigh | A Matter Life and Death]
[Recall | 1(P-W) Davina Leslaigh | Nemesis]
[Recall | 1(P-W) Davina Leslaigh | Ignoble]
[Recall | 1(P-W) Davina Leslaigh | Vengeful]
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.