KETIKA BEBERAPA PEREMPUAN di zaman klasik dari berbagai latar belakang dikumpulkan, mereka membicarakan soal harapan mereka dan bagaimana mereka melaluinya dengan hunjaman penghakiman.
The Women : Felicities
KETIKA BEBERAPA PEREMPUAN di zaman klasik dari berbagai latar belakang dikumpulkan, mereka membicarakan soal harapan mereka dan bagaimana mereka melaluinya dengan hunjaman penghakiman.
dari pintu yang memalang, coba-coba kakiku melintang, menyentuh langit yang bersembahyang, bintang-bintang terbang, angin terbuang ...
di saat semua orang senang menjadi pahatan-pahatan batu, kau beriku pancaran vitalitas itu ...
langit dan malam yang murka hanya pantulan semata dari hati tuan yang sudah muak bersabda ...
Di tepi telaga, seorang lelaki mengais biji-biji kopi masa lalu dari senja yang melarung bersama abu istrinya.
Kedua perempuan dengan nasib berbeda lantas dipermainkan tangan takdir segera setelah mereka menyeberangi dunia.
Masih segar dalam ingatanku, malam itu, kauseduh rembulan dalam air laut dan kausuguhkan padaku mesra.
Perempuan itu iri pada ikan yang bebas berenang-renang tanpa perlu uang. Ketika ikan mengajaknya ikut serta, dia merasa seperti pulang.
Sepasang mata yang mengintip di tengah kesunyian malam itu kutahu adalah milikmu. Milikku. Demi bisa lahir baru, kuenyahkan engkau bersama abu.
Sejauh mana kita hendak terbang? Sementara di tepian tebing, bisa kita lihat seorang lelaki tua menggelandang dan terbuang.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.