Ikan

Terkadang perempuan yang sedang terbaring telanjang di atas ranjang itu merasa iri pada ikan. Makhluk bersirip yang bisa hidup tanpa perlu uang. Cukup insang. Bisa mandi, makan, dan menari dalam satu gerakan berenang.

Sementara dia harus berantakan di bawah bayang-bayang hitam, menghirup berbagai varian desah napas manusia yang haus selangkangan, saban malam. Yang terakhir baru pulang semenit silam. Kalau saja orang itu bertahan lebih lama barang dua menit, si perempuan yakin dirinya sudah semaput karena dimanjakan bau mulut yang mirip air comberan.

Di tengah ritual mengatur napasnya sendiri yang nyaris hilang, kesadarannya melayang-layang. Mata sayunya terpancang pada dinding kamar temaram tempatnya mendekam.

Ah, ikan-ikan itu datang lagi.

Sudah beberapa malam ini ikan-ikan datang menyambanginya. Berenang-renang di langit-langit yang miskin cahaya, menggeliat-geliutkan ekornya yang penuh akan warna. Beberapa kali juga menempeli dinding seperti cecak saat perempuan itu kehilangan kuasa sejenak untuk bergerak. Mungkin mereka sedang ingin pamer. Mungkin juga kabar bahwa perempuan itu mendengki pada mereka sudah terlalu santer.

Ikan-ikan itu masih ada saat si perempuan membuka matanya kembali dengan deru napas yang panas. Tulang-tulangnya menghilang, dan perempuan itu melayang. Di sisi kanan-kirinya, hadir gelembung-gelembung seperti lampu warna-warni diskotek tempat dia dulu bekerja.

Ketika perempuan itu memandangnya, seekor ikan balik menatap dengan matanya yang tak kenal kata kedip. Dia ingin menyentuh, tetapi tulangnya belum kembali. Seolah mengerti, ikan justru mendekat. Makin dekat. Lebih dekat. Sangat dekat. Hingga perempuan itu merasakan kulitnya dan kulit ikan bersentuhan.

Saat itu, dia dengar arus lautan yang mengaliri ceruk-ceruk bumi dan berisiknya ombak yang menampar karang.

Saat itu, dia pikir dirinya adalah ikan yang salah lahan.

Saat itu, dia merasa seperti pulang.

Saat itu, dia sadar, bumi adalah bak mandi yang besar sekali. Ikan-ikan mandi dua puluh empat jam sehari. Digayung oleh angin, ditimba oleh bulan. Dan ikan tak kenal pagi atau siang. Waktu hanyalah gelap dan terang. Menepi atau mencari makan.

Saat itu, perempuan itu mengeja duga. Ikan adalah makhluk yang bebas noda. Mungkin dia bisa bersihkan dosa-dosa yang melekati tubuhnya dengan berenang bersama ikan di kedalaman samudera.

Maka, seusai menenggak lima butir obat yang mampu mengembalikan sebagian besar tulangnya yang hilang, perempuan itu lari ke pantai, meski bumi masih berputar-putar seperti gasing. Kaki telanjangnya dipeluk pepasir yang kian lama kian basah. Ketika kulitnya dikecupi air pasang yang hangat malam itu, dia melihat ikan-ikan terbang melintasi bulan, seperti sedang memainkan tarian selamat datang

Perempuan itu tertawa senang. Sudah tidak perlu lagi ada iri hati. Dia adalah ikan. Dia hendak pulang.

Lantas, dia celupkan seluruh tubuhnya ke dalam bak mandi yang besar itu. Berharap dirinya bisa hidup hanya dengan modal insang. Berharap jiwa dan raganya suci oleh lautan yang tidak pernah tidur, malam ataupun siang.

Tinggalkan komentar