DALAM DUNIA DI MANA rembulan dan mentari saling berbincang-bincang, bayi-bayi dilahirkan dengan kantung mayat masing-masing.
Kantung Mayat
DALAM DUNIA DI MANA rembulan dan mentari saling berbincang-bincang, bayi-bayi dilahirkan dengan kantung mayat masing-masing.
DI TENGAH SORAK-SORAI yang riuh menyambut ucapan manis pria yang baru saja disahihkan sebagai suamiku, hanya kepalaku saja yang lancang melayangkan tanya; selama apakah ‘selamanya’ itu?
YA, SELALU SEPERTI INI. Ria adalah Si Tukang Mengalah, yang harus melakukan semua titah Ari, dan harus rela disalahkan atas segenap rajukan Ira. Itu karena dirinya anak tengah, jadi posisinya nggak penting bagi siapa-siapa.
AKU BAYANGIN PASTI SERU banget main baseball bareng teman-temanmu di lapangan Pak Haji Dadang. Terus memancing lele di empangnya. Aku kangen makan tempe dan lemper Teh Nining. Di sini nggak ada lele, tempe, atau lemper. Adanya burger. Hehehe.
SENJA ITU PASTILAH JINGGA jika kita mengobrolkan kenyataan. Namun, di lensaku yang cacat dan lelah akan dunia, ia hanya tampak bagai angkasa yang memar, habis digebuki dosa-dosa penduduk Bumi. Sama seperti batinku yang retak, remuk, setelah bertubi-tubi menerima omelan-omelan bos.
di rongga dada; lama-lama kesejukan permisi ... dari rusuk-rusuk yang remuk ... dari jantung yang semata menggelantung ....
KEHIDUPAN DI DERMAGA ASA memang abadi. Kapal-kapal bertengger, datang dan singgah, bergantian dipecut mentari, ditudungi rembulan, dibuai angin laut, dibelai ketenangan lautan ...
MAYA BERPIJAK SENDIRIAN LAGI DI SINI. Tempat tinggalnya telah hampa. Rumah disulap menjadi puing-puing. Langit yang semula biru digumuli kelabu.
Jauh sebelum peperangan pecah dan meruntuhkan mereka hingga harus hilang dalam sejarah, tanah di tengah-tengah pulau surgawi pernah punya cerita yang indah.
"Aku tidak pernah mati, tidak seorang pun. Tapi aku pernah melewati dermaga di mana orang-orang yang kausebut mati. Di dermaga itulah, kusaksikan, kita sebenarnya tidak memiliki akhir."
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.