Si Anak Tengah

#MyWords28 • Si Anak Tengah
dalam 300 kata
Prompt: Trias Politika


“Dik, ambilin air, dong.”

Suapan Ria terhenti kala titah itu terbit. Lamban, kepalanya menoleh pada Ari. Kakaknya itu malah asyik melanjutkan makan sambil memerhatikan ponsel. Mengisyaratkan bahwa dia tidak menerima penolakan.

“Kakakmu minta tolong itu, Nak,” ibunya menegaskan. Seolah yang barusan tidak masuk di kuping Ria, bukannya sengaja diabaikan.

Sendok diletakkannya ke piring. Kakinya dibanting sebelum beranjak ke dispenser. Dibiarkannya air minum memenuhi gelas sampai meluap, lalu mendekat ke kursi kakaknya, meletakkan gelas itu. Ria menunggu. Namun, kakaknya tidak kunjung mengucapkan kata terima kasih. Seolah-olah yang dilakukan Ria adalah sudah seharusnya dan bukanlah tindak kebaikan.

Ya, selalu seperti ini. Kakaknya adalah Si Tukang Perintah, yang kata-katanya haruslah bernilai mutlak bagi Ria. Karena Ari anak sulung laki-laki yang dibanggakan sebagai pemimpin. Kebanggaan utama ibunya.

“Kak Riaaa, habis ini main bareng aku, yaaa.”

Suapan Ria terhenti lagi. Kini ia menoleh pada Ira, adiknya. “Kakak mau tiduran, Ra. Capek.”

Lalu terbitlah rengekan itu dari pita suara Ira, bersamaan dengan merebaknya air mata yang senantiasa jadi senjata si belia. “Papaaa, Kak Ria nggak mau main sama Iraaa, huhuhu.”

“Ria!” Kini bentakan ayahnya yang menyambar kupingnya. “Diajak main bentar sama adiknya kenapa nggak mau? Dua puluh menit doang kok!”

Ya, selalu seperti ini. Adiknya adalah Si Tukang Merajuk yang setiap laporannya adalah peringatan bagi orang tua mereka untuk menghakimi Ria. Karena Ira anak bungsu perempuan yang disayang-sayang. Kebanggaan utama ayahnya. 

Sesak di dada Ria mulai membuatnya tercekat. Sendok diletakkannya ke piring dengan kasar. Kali ini, yang meluap adalah kejengkelan kolektifnya yang lama terpendam, hingga menolak untuk dibendungnya lagi.

Ya, selalu seperti ini. Ria adalah Si Tukang Mengalah, yang harus melakukan semua titah Ari, dan harus rela disalahkan atas segenap rajukan Ira. Itu karena dirinya anak tengah, jadi posisinya nggak penting bagi siapa-siapa.

Tidak tahan lagi, Ria akhirnya melirih untuk pertama kalinya, “Ria capek, Ma, Pa.”

Tinggalkan komentar