Hari yang Indah Untuk Mati

#MyWords23 • Hari yang Indah untuk Mátî
dalam 300 kata
(tantangan format puisi)

Prompt: Hari yang Indah untuk Mátî



di rongga dada;
lama-lama kesejukan permisi
dari rusuk-rusuk yang remuk
dari jantung yang semata menggelantung
dari hati yang kian pasi

organ-organ rapuh ini
menyisakan hanya tanda-tanda tanya
menuju akhir dari kayuhan
sementara jawabannya tertimbun
oleh rutinitas-rutinitas biasa,
lalu semakin terbenam
nyaris menuju perpisahan

napasku seperti deru angin malam
dari seorang pelaut yang menyesali
pengarungan yang dilaluinya
sebab di samudraku tidak ada seekor makarel pun
di saat yang lain berpesta bersama hiu
di tamanku tidak sudi tumbuh sehelai rumput pun
di saat mereka tertidur dibuai hijau
di dalamku tidak ada setetes air pun
di saat dia bahkan tak pernah berkenalan dengan kemarau

dan kakiku nyaris dilalap tombak
dan mataku nyaris dilahap gagak

dari jendela, langit berwarna gulita
aku tidak kenal pagi, siang, atau senja
coba kubayangkan diriku sebagai pelukis
memercikkan warna-warna dalam coretan abadi
hingga lukisan-lukisan hati kutoreh begitu dalam
pagiku kuning, siangku jingga, senjaku biru
dan aku tertawa-tawa seperti kewarasanku digigit naga

di rongga kepala;
otak mulai mengontak
tempat kenangan-kenangan bergenangan sepanjang waktu
kucoba petik putik dari kebun bunga yang bersemi
sebelum kini, di lorong-lorong kota
bukan punyaku, tapi bisa kujadikan milikku dalam mimpi sendiri
tidak ada yang akan menghakimi pencuri dalam imajinasi
hanya dengan begitu

hengkanglah apa yang hampir menguasai
dari ketidakmampuanku mengubah dunia
yang terlalu suram memayungi langit
dan segala hal yang seharusnya memberi kehidupan
tapi malah mendatangkan alasan-alasan kematian

merdekakanlah saja air-air mata dari penjaramu dan penjaraku
biar hanyut dengannya segenap tanda-tanda tanya
dan menyembullah tawa-tawa yang mungkin sudah kaulupa
dari gorong-gorong berlumut tebal

hidup maha singkat di bawah kuasa yang tidak peduli
tidak peduli dengan mereka yang lebih jahat dari hiu
tidak peduli dengan mereka yang lebih haus dari kemarau
jadi, bolehkah hanya menerima nasib ini?
ukir sendiri alasan-alasan tertawa padahal tidak ada
dan orang-orang menyangkali kegilaannya
karena setiap hari
adalah hari yang indah
untuk mátî

Tinggalkan komentar