#MyWords26 • Lensaku, Lensamu
dalam 300 kata
Prompt: I Wonder How The World In Your Eyes Be Like
Senja itu pastilah jingga jika kita mengobrolkan kenyataan. Namun, di lensaku yang cacat dan lelah akan dunia, ia hanya tampak bagai angkasa yang memar, habis digebuki dosa-dosa penduduk Bumi. Sama seperti batinku yang retak, remuk, setelah bertubi-tubi menerima omelan-omelan bos.
Setiap ada di fase ini, rasanya aku ingin sekali hidup menggelandang. Akan tetapi, mengingat tuntutan hidup yang kian lama kian mencekik, aku tidak bisa berlaku sembarang. Jadi, untuk hari ini, seperti kemarin dan kemarinnya lagi, aku hanya ingin cepat-cepat pulang.
Suara cekikikan dari sudut kubikel menarik atensiku. Aina, persona paling positive vibes di kantor, menyusul keluar dari ruang atasan. Padahal barusan kudengar suara bentakan dan amukan yang serupa, lebih parah dari yang kudapatkan dua puluh lima menit sebelumnya. Namun, lihatlah. Respons kami sebegitu berbedanya.
“Bos ngapain, Na?” tanyaku akhirnya, meskipun sudah kutahu jawabannya seperti apa.
Aina masih cengengesan. Binar itu, yang selalu dan seolah selamanya tampak seperti tengah jatuh cinta pada siapa saja, menari-nari di lensa matanya.
“Biasalah, kalau nggak ngamuk, ya bukan Bos. Oh, padahal hari ini aku udah ada janji kumpul sama teman-teman sepulang kerja. Nggak apa-apa deh, kubatalin. Lebih penting pekerjaanku. Revisi menanti, semangat, semangat. Kamu juga jangan lupa semangat, ya.”
Masih dengan sisa-sisa senyumnya, ia mengalihkan sepenuh perhatian pada layar komputernya.
Sekarang, aku pun jadi bertanya-tanya bagaimana caranya agar bisa hidup sepertinya. Hal-hal yang menjadi momok bagiku hingga membuatku ingin menggerung saja selama-lamanya, malah dijadikannya pecut untuk senantiasa bergembira. Apakah Aina memang pribadi yang tidak disistem untuk berpikir negatif, barang sekali saja?
Tidak tahan dibebani rasa penasaran, akhirnya tanya itu terlisankan padanya.
“Aina, senja di luar, di lensamu seperti apa?”
Gadis itu mengerjap sepintas. Kepala serta matanya perlahan ditambatkan pada kaca jendela, yang meneruskan memar-memar yang menghinggapi angkasa luar pada lensa kami. Seketika, senyum lebarnya merekah.
“Senjanya lagi jatuh cinta sama dunia ini, makanya dia bersemu-semu.”
