{ đť“‘đť“®đť“𝓽𝓲𝓶𝓮 𝓢𝓽𝓸𝓻𝓲𝓮𝓼: 𝓜𝓪𝓻𝓽𝓲𝓷𝓪𝓼 • 0(𝓜𝓪-đť“—) 𝓒𝓮𝓵𝓮𝓼𝓽𝓲𝓵𝓵𝓪 }
Didedikasikan untuk Event Asrama Mart & Sunrise, Februari 2023. 895 kata tanpa header.
BIAR KUKISAHKAN PADAMU, NAK. Bangunan di masa kini kalah jauh nilai artistiknya, dibandingkan dengan apa yang pernah nenek moyangmu bangun di masa silam. Jauh sebelum peperangan pecah dan meruntuhkan mereka hingga harus hilang dalam sejarah, tanah di tengah-tengah pulau surgawi pernah punya cerita yang indah.
Ada sebuah gedung opera yang berdikara di atas tanah itu. Dengan rerumputan sehat yang menciptakan lapangan sebagai tempat orang-orang berlarian, merebahkan diri beratapkan langit, dan melepaskan kelinci-kelinci yang bebas berkitaran sebagai pagar hidupnya. Bila disorot dari angkasa, burung-burung mungkin akan bersaksi bahwa gedung itu terlihat bagai sebuah Lira raksasa.
Pilarnya sendiri seperti cakar-cakar bangau yang menancap erat ke lapisan bumi. Atapnya bagai sayap-sayap merak yang menjulang indah menantang angkasa. Mereka rekam kisah kejayaan masa itu dalam berbagai ukiran dan arca menghiasi dinding-dinding, yang langsung dipahat tangan sendiri atau dilelehkan dari batuan alam.
Gedung opera itu akan berwarna keemasan saat pagi dan petang, keabuan ketika siang, dan keperakan kala malam mengguyurinya dengan cahaya bulan.
Setiap hari Saturnus petang, sehari jelang hari Matahari—yang didedikasikan sebagai hari untuk menyembah Sang Penguasa Semesta—warga setempat khususnya muda-mudi, berkumpul di sana. Mengenakan busana-busana terbaik yang mereka punya, duduk menikmati sajian seni yang memanjakan mata dan telinga. Bila engkau memasuki gerbang batu megah yang membingkai lingkar luarnya, akan kau temui kursi-kursi pahatan batu yang melingkari panggung raksasa.
Panggung itu ada di bawah kaki. Suara penyanyi dan tabuhan musik dari para pengisi acara yang sering disebut sebagai Martinas, menggema dari pusat atensi, memantul di dinding-dinding batu, hingga menggetarkan pilar-pilar yang berdiri. Lampu-lampu dari api menjadi pengganti cahaya matahari yang hilang dilahap rotasi bumi.
Secara ajaib, begitu meninggalkan gedung usai tengah malam menyurutkan euforia, para pemirsa akan pulang dengan suasana hati yang gembira, menjemput lelap yang damai, dan terbangun untuk beribadah pada esok paginya dengan sukacita.
Jangan lupakan, pulau itu dijuluki Pulau Surgawi nan Damai.
Sebelum akhirnya, para pendatang yang serakah pada kesaktian, dan ingin memang sendiri pun berhasil menemukan pulau itu. Hingga peperangan menyapa mereka untuk pertama kalinya.
Kedamaian itu pun berakhir.
Alam selalu punya cara untuk menggaungkan alarm pertanda bahaya. Hanya mereka yang ditampungnya sajalah yang buta, tuli, atau tak mau memperhatikan, sebab terlalu sibuk berbicara. Pagi sebelum peperangan datang, pertanda kehancuran telah terekam oleh para Martinas yang punya mata jeli menangkap berbagai fenomena alam demi secuil inspirasi.
Terbangnya burung-burung.
Ribuan burung itu terbang rendah kala fajar menyingsing. Dari kaki langit sebelah Barat, mereka mengerumuni angkasa untuk berangkat terburu-buru menuju taring terang yang bersemayam di arah Timur.
Ketua Martinas, yang namanya tak pernah disebutkan dalam sejarah, yang pertama kali menangkapnya. Perempuan itu sudah agak renta, terlihat dari kerut yang mengukir di wajahnya ketika tidak dibalur riasan tebal yang selalu ada setiap kali pentas. Namun, keindahan parasnya tak lekang oleh masa, berikut lenggok tubuh dan suaranya yang masih menjadikannya primadona.
Pagi itu, suaranya yang merdu justru melengkingkan pengumuman kehancuran. Martinas lainnya terbangun dan menjemput pagi dengan mimpi buruk yang tidak pernah diprediksikan: angkasa yang berubah merah, kejatuhan batu-batuan berapi yang memusnahkan pepohonan. Kehancuran telah datang. Entah bagaimana wujudnya. Entah siapa yang memecahkannya.
Peperangan merambati tepi pulau dan menjalar hingga ke pusatnya. Memaksa diri menjadi sahabat karib bagi penghuninya. Setiap yang hidup diharuskan mewajari jatuhnya meteor, mencuatnya bah, terjangan topan dan guncangan gempa bumi, yang datangnya tak pernah bilang-bilang permisi. Mereka yang tak mengakrabi kehancuran serta kekuatan untuk menghancurkan pun harus lari tunggang langgang ke mana saja, selama itu bisa melindungi mereka.
“Kita juga harus menyelamatkan diri, seperti para burung itu!”
Usul-usul serupa menggaung di sekitar. Akan tetapi, hendak ke manakah para Martinas, ketika hidup dan mati telah kadung didedikasikan bagi gedung opera? Tiada tempat kabur, tiada yang sudi menampung. Jika harus meninggalkan dunia ini, mereka akan merebah bersama puing-puing reruntuhan tempat itu. Demikianlah sumpah mereka.
Mereka yang tidak pernah disebutkan jumlah pastinya itu—entah delapan belas atau sembilan belas jiwa—bergandengan tangan. Memejamkan mata. Sambil melaungkan lagu-lagu yang membangkitkan semangat menjemput keabadian, mereka menjadi latar dari peperangan yang berlangsung dan kemudian menghancurkan gedung-gedung dan pepohonan, menjadikannya rata dengan tanah.
Tidak ada yang tahu apakah para Martinas sudah mati atau masih hidup hingga kedamaian kembali menyapa. Bertahun-tahun kemudian, sebuah kastil diberdirikan di sana. Namun, kastil itu kembali lebur oleh peperangan yang kembali datang yang konon membangkitkan jiwa yang lama terperangkap dalam pendaman bumi. Tak butuh waktu lama untuk memulihkan pulau itu, ketika sekelompok kesatria bersatu-padu dan membangun kembali bangunan, yang kendati tak akan pernah menyamai kemegahan di masa lalu, tapi sudah cukup membuat jiwa Martinas yang tertinggal di sana bersorak riang.
Konon, Martinas pulalah yang membisikkan pada generasi berikutnya untuk membangun gedung asrama khusus para seniman, tepat di atas tanah yang diduga pernah menjadi opera mereka.
Martinas bersemayam dalam benda-benda bernilai seni. Maka jangan heran apabila para siswi menemukan foto-foto, lukisan potret, atau patung-patung dan boneka yang berubah letak dan lokasi dan posisi di waktu yang tidak bisa ditentukan.
Sebab, setiap malam ketika semua jiwa yang menghuni gedung di masa kini itu terlelap, jiwa-jiwa Martinas yang terjebak dalam setiap karya akan mengadakan pesta mereka sendiri. Apabila ada seorang siswi pun yang terjaga, pesta mereka tidak akan berlangsung. Namun, jika salah seorang penghuni memergoki mereka di tengah-tengah pesta, akan mereka ajak anak itu ke dunia di masa lalu yang terjebak dalam dimensi bawah tanah, guna menyaksikan pentas mereka secara eksklusif.
Para siswa itu hanya akan terbangun di ranjang sendiri dengan pemikiran bahwa, semalam, mereka telah bermimpi indah, mengunjungi Taman Eden, dengan dewa-dewi Yunani yang menyanyikan lagu penghantar tidur.
