Waktu

Prompt: “Dulu asik. Sekarang kita sudah asing, ya?”

Jumlah Kata: 500

KUTAHU, HIDUP INI DIGELUNG DURJANA bernama waktu. Yang menciptakan tangan-tangan tak tampak untuk menjauhkan taut atau menautkan yang jauh. ‘Ada’ bisa saja disulapnya ‘tiada’, sebab tiada yang akan selamanya ada.

Masih kusimpan gelang sewarna darah itu. Manik-maniknya kaurangkai sendiri sepuluh tahun lalu, guna mendamaikan kerusuhan batinku karena mengulang ujian menyebalkan.

“Merah adalah gairah. Gelang dekat dengan nadi, urat kehidupan. Hidupmu tidak kuperbolehkan mengakrabi kata menyerah,” katamu.

Masih terekam dalam berkas memori, saat dengan tabahnya kau mengambil alih posisi guru, sebab suara guru sesungguhnya telah menjelma latar samar di tengah kebingunganku yang malang melintang.

Masih terbayang di pelupuk, kala mulut dan kedua matamu melengkungkan sabit lantaran nilai ujianku melewati batas kelulusan. Tentu saja, ini berkat ketekunanmu mengajari apa yang sulit kumengerti. Lantas, bukannya merayakan predikat ‘lulusan terbaik’-mu, kau malah mentraktir demi nilaiku yang biasa-biasa.

Kilahmu, “Aku bisa karena terbiasa. Kau bisa karena berusaha. Bagiku, usaha harus lebih diapresiasi ketimbang kebiasaan.”

Andai aku orang lain, sudah kupiting leher itu karena menganggapmu sengaja membumi untuk melangit. Namun, aku adalah aku. Yang telah jadi teman sebangkumu tiga tahun lamanya. Yang pernah melalui fase merengek tanpa malu di ruang guru, hanya agar diizinkan sekelas denganmu sekalipun harusnya aku dijebloskan ke jurusan sebelah. Yang telah kenyang dengan bisik-bisik penghakiman, “Kalau bukan karena teman sebangkunya, dia pasti sudah ketinggalan kelas.”

Masih pula sering terngiang di telinga, raunganku sendiri ketika harus terpisah jarak denganmu. Padahal telah kita sumpahkan untuk terus bersama di jenjang pendidikan selanjutnya. Apa daya, meninggalnya ayahmu meruntuhkan segala rencana. Hingga kau dan ibumu terpaksa minggat ke kampung. Menanggalkan segala hal yang bisa membuat kita saling terhubung.

Mungkin ini salahku. Kaubilang akan selalu mendoakanku sukses. Akulah yang barangkali luput mendoakanmu hal yang sama.

Kupikir kita akan menjalani ritual reuni seperti sahabat-sahabat lain. Berkisah soal pekerjaan, tabungan, atau mungkin suami. Memiliki anak-anak yang akan memanggil satu sama lain sepupu kendati tak punya pertalian darah sama sekali.

Biar kusalahkan saja jarak dan waktu yang menerjang. Tangan-tangan tak tampak—sialan—yang seenaknya menjauhkan taut. Meniadakan yang ada, sekalipun kutahu tiada yang selamanya akan ada.

‘Tunggu aku. Biarkan aku datang menjumpaimu. Mengecupi keningmu dan mengatakan, terima kasih telah pernah ada dalam hidupku.’

Harapan itu terus kulafalkan saat menerima tumpahan kabar buruk tentangmu. Perihal ibumu yang ikut meninggal dua tahun lalu. Perihal dirimu yang terpaksa bekerja hingga merelakan kuliahmu karena tak punya cukup waktu. Perihal engkau yang jatuh sakit sejak lima bulan lalu. Perihal dirimu yang kini terbaring sekarat dan hanya tinggal menunggu waktu melenyapkanmu.

Harapan itu terus kubatinkan saat terjejal dalam penerbangan jarak jauh dan tak sanggup melelapkan diri. Saat memaki-maki supir taksi karena ogah mengebut lebih kencang lagi. Saat berderap di atas lantai putih, menyingkirkan kebencianku akan bau obat-obatan yang memualkan. Hanya demi satu tujuan, menemuimu sebelum kau ditiadakan waktu.

Aku bersikeras menantang waktu untuk berperang, perkara manakah yang lebih kuat di dunia ini. Sayangku untukmu, ataukah kekejamannya yang tak kenal toleransi.

Namun, yang menyahutiku hanya isak tangis teman-teman lama di tengah tubuh pucatmu yang membujur kaku.

Di telinga, suara itu bagai denting kekalahanku. Dari sang waktu, yang berhasil membuatmu tiada.

2 respons untuk ‘Waktu

    1. Hehehehe … Blog yang ini tak dikunci kok, blog nonfiksi yang dikunci. Tapi sekarang akses ke blog nonfiksi sudah saya ganti jadi blog khusus Astraffiyah, Rin.

      Suka

Tinggalkan komentar