ENTAH SUDAH BERAPA KALI Ibu menuang petuah demikian. Timpalanku selalu sama. Senyum tipis yang menandakan ketegaran. Sesapuan ringis yang menandaskan keputusan.
Naśvara
Fiksi yang melibatkan penyiksaan karakter secara emosional.
ENTAH SUDAH BERAPA KALI Ibu menuang petuah demikian. Timpalanku selalu sama. Senyum tipis yang menandakan ketegaran. Sesapuan ringis yang menandaskan keputusan.
DI HUTAN, POHON-POHON TUA LAKSANA barikade bisu. Memagari eksistensi Jian Kai dari keriuhan di tengah peradaban. Sudah dua bulan ia bertahan, mengakrabi kesunyian yang menyelubungi bagai selimut musim dingin.
MAYA BERPIJAK SENDIRIAN LAGI DI SINI. Tempat tinggalnya telah hampa. Rumah disulap menjadi puing-puing. Langit yang semula biru digumuli kelabu.
SABIRU, KABAR ITU DATANG bagai sambaran petir di jantungku. Melemahkannya, hingga aku tergolek tanpa daya. Penyesalan menyulap Bumi menjadi selapis es membekukan.
SEHARUSNYA KALIMAT ITU TIDAK mematahkan hatinya. Martha sudah mempersiapkan diri sepekan terakhir. Meredupnya bara dari hubungannya dengan Tom telah menampakkan tanda-tanda dini.
BUTUH BANYAK MODAL UNTUK BERJUDI. Dan, jika kau melihat meja di ujung, yang dilingkari empat manusia berwajah frustrasi, ketahuilah. Mereka adalah orang-orang yang kehabisan modal berupa waktu, tanpa mendapatkan apa-apa dari permainan.
SEHARUSNYA MALAM ITU menjadi puncak kegemilangan Venecia. Klimaks dari perjalanan bertahun-tahun meniti tangga. Pucuk dari langkah yang terbata-bata.
JARUM-JARUM AIR MENGHUJANIMU dengan rasa sakit. Saat terjaga, angin dan hujan tengah berkawinan. Lekas kau eratkan pegangan pada dasar hidupmu; rakit rumpang tanpa awak, nihil kubah pun dinding pelindung.
BU, TITIKMU ADALAH TITIKKU. Dua dekade aku bangun dan tidur bersamamu.
ADIKNYA GEMAR MENAPAKKAN kaki di sepenjuru pelosok negeri, dalam penjelajahan dan perburuan berseri. Sementara Putri Chrysanthemum, lebih suka membunuh waktu dengan menyambangi rumah bunga sendirian.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.