“𝘕𝘥𝘶𝘬, sesekali ambil cuti, 𝘵𝘰. Kasihan itu tubuhmu dikerahkan terus.”
ENTAH SUDAH BERAPA KALI Ibu menuang petuah demikian. Timpalanku selalu sama. Senyum tipis yang menandakan ketegaran. Sesapuan ringis yang menandaskan keputusan.
“𝘕𝘨𝘨𝘪𝘩. Nanti, ya, Bu. Masih semangat, kok. Cutinya mau kutabung aja.”
Ibu harus tahu putri bungsunya yang rapuh kini telah tumbuh menjadi sosok teguh. Yang bekerja lima hari dalam sepekan—kadang-kadang bahkan menambah hari ekstra—delapan jam sehari—lebih sering merambah dua belas—tetapi tidak pernah melontarkan kesah.
Telah kumiliki sebuah rencana sejak awal tahun. Jatah cutiku selama sewarsa ini akan kutabung untuk sebuah kejutan. Kutahu, kendati tak pernah mengutarakan, Ibu pasti merindukan kampung halaman. Dan, dua belas hari jatah cutiku ingin kumanfaatkan untuk mengajak ia pulang ke seberang pulau, menyambangi kota kelahirannya, berjumpa dengan tanah makam orang tuanya, juga sanak famili yang barangkali merindukan pelukannya. Berikut hal-hal lain yang membangkitkan gelombang nostalgia baginya.
Dapat kubayangkan matanya disepuh binaran haru, dalam benakku yang terbiasa menyusun siasat.
Sepanjang ingatanku berkelana, Ibu memang tidak pernah berkeluh. Pundaknya mungkin bangunan paling kuat dari beton apa pun di dunia. Barangkali karena asli buatan tangan Tuhan. Di sanalah keenam anaknya, termasuk diriku, bersandar penuh-penuh selama berdekade. Dahulu, nyaris tidak ada yang bisa kami lakukan tanpa Ibu. Ibulah fondasi rumah, di mana kami diriami agar tak pernah menyicip bagaimana rasanya goyah. Bahkan sejak saat Ayah mangkat, Ibu juga tidak menampakkan kesedihan apalagi menyambat. Tatkala menelepon putra-putrinya yang telah tersebar ke berbagai penjuru dunia pun, Ibu lebih kerap bertanya daripada menginformasikan.
Usai kelima kakakku berdikari dalam keluarga masing-masing, kucanangkan dalam tekad. Akan kuambil alih peran itu dalam rumah kami. Untuk menjadi fondasi bagi Ibu yang telah sepuh. Untuk menjadi tempat baginya bersandar penuh-penuh. Untuk memberikannya kebahagiaan yang utuh.
Sayangnya, rencanaku harus pupus dan menjelma sebatas rencana, tanpa bisa dimanifestasikan. Semua karena Ibu yang tidak pernah melontarkan keluh. Semua karena wanita itu, yang selalu terlalu rapi menyembunyikan rapuh. Semua karena perempuan yang menjadi perantara kehadiranku dalam kehidupan itu tidak pernah mau memercayaiku kala ia sakit atau terdayuh.
Ataukah, semua karena aku, yang tidak bisa lebih jeli menangkap pertanda?
Pasalnya, dua bulan sebelum akhir tahun yang kunanti-nantikan, Ibu masuk rumah sakit.
✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏
“Kamu juga jangan lupa istirahat. Di sana sudah dini hari, bukannya?”
Jawabanku untuk kakak kelima adalah gumaman serak. Tanganku gemetar sesaat usai sambungan diputuskan.
Kakak-kakaku sedang dalam perjalanan datang, mengambil keberangkatan paling awal yang bisa mereka jangkau dari negeri masing-masing tempat mereka berdiaspora. Mereka—kami—semua seakan-akan tahu dan menyepakati, apa yang berada di ujung titian ini. Mau tidak mau, bisa tidak bisa, semuanya harus hadir.
Tidak pernah kusangka akan mengirimkan kabar ini pada anggota keluargaku yang lain. Sekalinya informasi tentang Ibu menjadi topik utama dalam obrolan, justru adalah saat di mana pemilik kata sandang tersebut tengah berbaring di ranjang putih beraroma disinfektan.
Lagi-lagi, sebabnya satu: Ibu tidak pernah berkeluh. Siapa yang tahu di balik senyumnya yang senantiasa mengembang, terpendam paru-paru, ginjal, dan jantung yang sekaligus meradang?
Masa kritisnya sudah terlewati, kata dokter yang memperjuangkannya dalam lima jam terakhir, setelah aku dalam kepanikan tiada tara, mengantarkan tubuhnya yang tak sadarkan diri. Namun, garis-garis kehidupan itu kini terasa seperti tali tipis di tepi jurang. Deru monitor yang konstan itu hanya menjadi alarm yang menegangkan. Pengingat bahwa sewaktu-waktu, denyut tersebut akan menyerah menghantarkan energi. Ibu bisa saja pergi kapan saja. Aku bisa kehilangannya sebagaimana aku kehilangan Ayah, dalam detik yang mana pun yang akan ditentukan Semesta.
Jadi, aku tidak mau tidur. Aku tidak bisa melewatkan sedetik pun pengawasanku.
Kuraih telapak tangan Ibu yang bebas dari jarum infus. Membungkusnya dalam genggamanku sendiri. Mencoba menyalurkan apa pun yang tersisa dalam dari diriku ke tubuhnya yang ringkih itu. Aku teringat, telapak tangan ini yang kukecup setiap hari. Yang rutin mengusap puncak kepalaku penuh arti. Yang bersikeras memasakkan untukku sarapan pagi.
Dalam keheningan, tidak ada yang mampu kulakukan selain memejamkan mata dan melirihkan doa. Kendati logikaku tahu kemungkinan apa yang akan terjadi, dan kami hanya tinggal tunggu waktu, aku masih mengharapkan keajaiban. 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘬𝘶𝘮𝘰𝘩𝘰𝘯, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶. Aku menyayangi Ibu lebih dari apa pun di alam semesta ini. Aku mengasihinya bahkan lebih daripada rasa kasihku pada diri sendiri. Selama ini, ialah motivasiku untuk melakukan segala sesuatu. Takkan bisa aku merelakan masa-masa di mana ia tidak lagi membersamaiku.
Mau tidak mau, harus kuakui satu hal. Nyatanya, setelah dua dekade kulewati, ia masih menjadi fondasi kehidupanku, bukan sebaliknya. Akulah yang sudah pasti akan rapuh tanpa eksistensinya.
✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏
Aku tidak tahu, bagian mana yang lebih mirip mimpi. Segalanya berlangsung begitu lekas. Lelap yang bertandang tanpa bisa kucegah telah memangkas durasi penantian, mengambangkanku antara kesadaran dan ketidaksadaran, serta menggulung memoriku.
Tahu-tahu saja, aku sudah berada di sini. Seolah masih menjadi bagian dari mimpi. Sayangnya, aku masih tidak mengerti bagian mana yang paling mirip mimpi.
Apakah itu keluargaku yang akhirnya berkumpul kembali dalam formasi lengkap setelah sepuluh tahun diberai-beraikan kehidupan? Atau lantun bacaan Yasin yang mengumandang dari lautan manusia, yang separuhnya tidak kukenali? Atau tubuh Ibu yang tergolek di atas ranjang dan tertutupi helai kain batik, dalam kedamaian yang anomali?
Namun, perlahan bisa kumengerti. Aku memang harus mengalami duka. Doaku rupanya gagal menjelma tali tambatan untuk mencoba menahan Ibu tetap di dermaga dunia. Perahunya berangkat, menyerah pada gelombang yang mungkin akan membawanya menyusul ke tempat cinta sejatinya berada. Sementara rumah yang selama tiga tahunan ini lengang karena hanya dihuni dua orang, kini disesaki ratusan jiwa. Semuanya berbusana hitam yang cuma mengingatkanku bahwa kami tengah terluka. Lalu besok-lusa, orang-orang itu akan sirna. Dan, aku tertinggal sendirian. Satu jiwa yang selama ini membersamaiku sudah tidak ada.
Kutahu ratusan orang asing itu tengah menatapku heran. Kalimat ‘Turut berduka cita, semoga almarhumah diterima di sini terbaik Yang Maha Kuasa,’ yang mereka lontarkan tidak kusambut sama sekali, hingga kakak-kakakulah yang harus memasang badan. Mungkin pula mereka malah bertanya-tanya, kenapa aku tidak kunjung menangis juga.
Yang jelas, aku tidak memedulikan semua. Pandanganku tertumbuk pada Ibuku. Memuaskan relung memoriku dengan sosoknya sebelum tubuh itu ditelan Bumi dan bayangannya dipudarkan memori. Aku menunduk, mencium, mengecup punggung tangannya sepanjang yang bisa kulakukan, untuk terakhir kali. Sesekali kucoba merogoh ingatan bagaimana wangi kulit itu seperti aroma daun basah setelah hujan, sebab kini, aroma yang menyapa hidungku hanyalah aroma kefanaan.
Aku ingin sekali berdoa, lagi. Agar diriku dikuatkan menerima kesepian yang barangkali akan bertandang. Hanya saja, aku takut. Takut harapan itu juga terlalu jauh untuk kulayangkan dan mementahkanku kemudian.
Jadi, aku tidak berdoa. Aku tidak bisa dikecewakan lagi. Apa pun yang terjadi, terjadilah. Kerapuhan atau kekuatan yang kumiliki kemudian, itulah yang akan menemaniku nanti. ■
─────────────────────
Lagu Terpilih: Agnes Monica – Rapuh
Jumlah Kata: 1061 kata
Naśvara : (Sansekerta) rapuh, tidak abadi, mudah ruşak.
