Happy New Year

⚠️ Plot ini agak … errr … 1151 words.

πŸ‘πŸ π‘«π’†π’„π’†π’Žπ’ƒπ’†π’“ πŸπŸŽπŸπŸ’
π‘ͺπ’‚π’“π’“π’π’˜ 𝑴𝒂𝒏𝒐𝒓, π‘²π’†π’π’”π’Šπ’π’ˆπ’•π’π’, 𝑳𝒐𝒏𝒅𝒐𝒏, π‘¬π’π’ˆπ’π’‚π’π’…

𝓛ETUSAN KEMBANG API DI LUAR sana menyala lagi. Cahayanya senantiasa berkilat dan berkelebat dari jendela kaca besar ruang tamu. Semua karena di malam tahun baru ini, salju tidak menyertakan dirinya dalam perayaan.

Ini nyala kembang api kelima puluh lima sejak mentari dibenamkan kaki langit, andai Nindhita menghitung. Sayangnya, ia tak menghitung. Si puan sementara sibuk mencuri cicip sepotong sosis panggang dari pinggan yang baru saja diletakkan Brielle Carrow, yang ia panggil β€˜Ibund’.

Jangan ditanya mengapa Brielle memilih panggilan tersebut di antara ribuan kata sandang lainnya. Wanita bersurai pirang sepertinya sudah kadung jatuh hati kala diperkenalkan pada kosakata berbahasa Indonesia yang dibawa Nindhita.

Kelakuan Nindhita yang amat santai di tengah ke-hectic-an para wanita lain di rumah, tak ayal menerbitkan hasrat Cherrylle Carrow untuk mengkhutbahi sang putri angkat. β€œHonestly, Nindhita Yzharanada Carrow, snatching food before its time? Aren’t you supposed to help instead of loitering about?”

Nindhita meringis sembari menjilat bumbu yang melekati jemari. Rupanya, sensasi horor ketika namamu dilafalkan komplet oleh seorang ibu memang valid. Beruntung, pembelaan datang tak lama setelah itu. Aunty-nya, Aizyvin Carrow, yang datang memikul sekaligus dua nampan berisi kalkun berbalurkan rempah eksotis, balas mengomeli sang adik, β€œLet her be, Cherrylle! She’s just arrived all the way from Indonesia!”

Jujur, Nindhita ingin meralat. Bahwa ia tak langsung datang dari Indonesia, tetapi dari Islandia, usai menaiki kapal pesiar yang dilayarkan Durmstrang Institute. Akan tetapi, diurungkannya mulut itu membuka. Alih-alih, ia ambil salah satu nampan dari tangan Aizvyn, membantu membawa dan menyusunnya di atas meja. Di saat bersamaan, Alova selaku bungsu di antara para sepupu datang membawa nampan berisi selusin gelas kaca. Ia letakkan satu per satu gelas itu di hadapan kursi-kursi.

Dalam sejarah, keluarga Carrow memang keluarga pelahap maut. Akan tetapi, modernisasi menggerus paham kuno tersebut. Akhirnya keturunan terakhir mereka, yang paling muda, menikahi seorang Asian, dan bahkan menurunkan marga yang ada pada orang-orang yang tak sedarah.

Kini Carrow Manor mencacak megah di jantung Kensington. Ia berupa rumah bergaya Victoria dengan menara kecil di sudut, diornameni gargoyle batu yang konon menjadi penjaga magis, serta mantra pelindung di gerbang utama sebagai barikade keamanan dari penyusup tak diundang.

Di keluarga dan manor inilah, Nindhita menghabiskan waktunya kini. Bersama mereka, ia rayakan pergantian tahun dalam keriuhan, yang sejatinya tak pernah dirasakannya dalam dua dekade lebih hidupnya sebelum ini; tidak juga pernah dalam keluarganya di bawah Samudra Hindia.

β€œWe’re done in here! How’s it there, Lads?” Terdengar suara tepukan tangan bersama seruan Brielle dari ambang pintu. Wanita itu berkacak pinggang memunggungi orang di dalam rumah. β€œAre you boys done with the grilling out there?”

Di pelataran belakangan, Revendrick dan Renzuka tengah diamanahi bagian barbekyu. Hanya saja, siapa pun yang mungkin mengenal mereka bakalan skeptis. Dan, keskeptisan itu pun menjumpai validasi kemudian. Sebab sesaat setelah Aizvyn turut bersambang ke sana, omelannya langsung mengonfirmasi segala.

β€œOh, for Merlin’s sake! You were told to grill! G-r-i-l-l, not gorge yourselves! You two … Gosh! Right! I’ll bring this inside. Finish what’s left, and … don’t touch it! I told you, REVENDRICK VIDYASAGARA CARROW, π˜‹π˜–π˜•’π˜› π˜›π˜–π˜œπ˜Šπ˜ π˜π˜›β€”Nindhita! NINDHITA! Help your aunty, will you?”

Nindhita tersenyum masam. Entah ke mana Aunty-nya yang tadi memperkenankan ia bermalas-malasan. Akan tetapi, sebagai anak gadis yang tahu diri, ia pun menyahut, β€œAight! I’m coming, Aunty!” sembari menyeret derap kakinya keluar. Sepertinya ia memang harus membantu agar Aunty tersayangnya tidak menjelma petasan yang bisa saja meletup lebih parah ketimbang kembang api malam tahun baru karena kelakuan sepupunya.

Pukul delapan malam, seluruh santapan telah dikumpulkan. Kepulangan Kacleir dari Gereja akhirnya menghimpun mereka semua di meja besar. Lilin-lilin dinyalakan. Obrolan-obrolan berseliweran. Gelak tawa mengudara.

Sudah tiga jam lebih berlalu kala piring-piring kotor disingkirkan dan dibersihkan dengan mantra. Untuk beberapa jenak mereka sibuk masing-masing. Sampai akhirnya, Renzuka, yang sebelumnya sibuk memainkan game, mengangkat muka dan melirik jam dinding magis berornamen burung hantu yang beruhu-uhu setiap satu jam sekali. β€œUh-oh! We still have some time before we start.”

Di luar, langit yang gelap sudah semakin riuh diwarnai lesatan kembang api. Suaranya tumpang tindih dengan Symphony No. 4 milik Mozart yang diputar Nindhita dari piringan hitam. Gadis itu baru keluar dari balik bayang-bayang meja, begitu terdengar Kacleir mengultimatum:

”Everyone, come on! Don’t just talk amongst yourselves! New Year’s only comes once!”

Mereka jumpai bahwa di meja telah terhidang santapan ronde kedua. Beberapa aneka kudapan dan minuman beralkohol disusun rapi. Alova tampak paling girang. Per satu Januari tahun ini, usianya sembilan belas umur Korea, dan dengan demikian, ia telah dilegalkan oleh orang tuanya, hukum Inggris, dan hukum Korea, untuk turut mengonsumsi alkohol di malam ini.

Anak perempuan lucu itu bahkan bersenandung, β€œYeay! Say goodbye to orange juice~”

Mendengar itu, Nindhita tertawa. Tak bisa ia cegah lengannya terulur guna mengelusi puncak kepala sepupunya dengan gemas.

Revendrick ikut muncul dengan kehebohan tiada tara. β€œWohooo! Let’s make this night unforgettable!”

Aizvyn memandang satu demi satu anggota keluarga yang kembali berkumpul ke tengah meja dengan pandangan puas bercampur bangga. β€œFor our sake, this year has to be the most memorable!”

β€œExactly. Nothing beats celebrating with family,” Kacleir membenarkan. β€œHow many minutes left until midnight, Renzuka?”

Renzuka menyahut, β€œTwenty minutes left, Grandpa.”

Kacleir bertepuk tangan. β€œAight! I think it’s time to enjoy every second of this together, right?” Tiba-tiba, tatapannya tertuju pada Nindhita yang sedang memainkan tisu.β€œNindhita, why don’t you start? Lead the prayer.”

Nindhita tersentak. β€œHuh? Sorry, Uncle? But … why me?” Masalahnya, Nindhita memiliki keyakinan yang berbeda dari Uncle-nya, dan bahkan dari semua anggota keluarga ini. Diminta memimpin doa itu, agak …

Kacleir mengangguk dalam, meyakinkan sembari mengembangkan senyum. β€œJust do it.”

Tentu saja, doa yang dimaksud bukan doa yang serius-serius amat. Semua keluarga tertawa melihat Nindhita yang masih kebingungan, tetapi kendati sempat disergap keraguan, ia berdeham. Ia satukan tangan kanan dan kirinya dengan Cherylle dan Brielle di masing-masing sisi, dan memejamkan mata.

β€œLord, thank You for another year that we have successfully completed. Thank You for Your abundant blessings throughout the past year. Thank You for the life challenges that have strengthened us this year. Thank You for uniting us in this bond that You have blessed. Please continue to guide us in blessing, happiness, health, and peace in the years to come. Please protect the Carrow Family with Your best care, wherever we may be.”

Serempak seluruh anggota keluarga menggumamkan, β€œAmen!”

Aizvyn tersenyum lebar, wajahnya memerah oleh antusiasme. β€œAight, let’s celebrate this time together with joy, and may the year ahead bring even more laughter to the Carrow family!”

Seketika, tepuk tangan riuh memenuhi ruangan, dan denting gelas bergema. Tak lama setelahnya, apa yang dinanti-nantikan tuba. Dentangan lonceng dari kejauhan yang menandai pergantian tahun. Semua orang mengangkat gelas mereka, menyatu dalam satu seruan:

β€œHappy New Year!”

Di luar, langit malam menjelma siang sekejap. Puluhan kembang api secara sinkronik diletuskan  ke angkasa bersamaan. Sementara di dalam, Nindhita harus menahan air mata yang rasa-rasanya hendak merebak, kala tubuhnya direngkuh erat dalam pelukan massal anggota keluarga barunya. Untuk pertama kalinya, apa-apa yang semula jauh kini terasa begitu dekat. Untuk pertama kalinya, musim yang seharusnya dingin kini terasa begitu hangat.

Tinggalkan komentar