Munafik

𝘍𝘭𝘢𝘵 𝘸𝘩𝘪𝘵𝘦 di tanganku penuh akan kalor. Jemariku sengaja mencuri konduksi melalui uapnya, sebelum kuseruput isinya, membiarkan pahit-manisnya menggelantung di tepi lidah.

Pandanganku melayang ke luar, menembus kaca besar di sisi kanan. Jalanan Soho di West End terus bergerak dalam ritmenya. Ornamen tahun baru masih tertinggal di beberapa sudut, mengisyaratkan sisa-sisa euforia yang belum sepenuhnya surut. Akan tetapi, sepertinya orang-orang tak mau mempercumai pagi yang cerah dan nihil salju ini. Mereka menapak di trotoar, berlalu-lalang. Senyum-senyum kecil bertebaran, menyelip di antara hiruk-pikuk. Sesekali, roda sepeda turut melintas di tengah riuh.

Denting lonceng di pintu kafe kembali berbunyi. Ini kali kelima sejak aku duduk di sini. Seperti kali sebelumnya, refleks kepalaku menoleh. Hanya saja, kali ini, barulah senyumku tertoreh. Sebab, di sana, Lavanya muncul. Mantel hitam panjang membingkai tubuhnya, kantung kertas besar tersemat dalam genggamannya, dan senyumnya—ah, senyum itu—rasanya mampu mencairkan salju.

Dengan langkah cepat, ia menuju meja begitu matanya menjumpaiku. Aku pun bangkit, menyambutnya dengan pelukan. Kehangatan pelukan itu seakan menjadi katalis pengusir jejak angin yang dibawanya.

“Vanya, Vanya, Vanya,” sapaku penuh kelegaan. “Akhirnya ketemu juga! 𝘏𝘢𝘱𝘱𝘺 𝘕𝘦𝘸 𝘠𝘦𝘢𝘳, Sayangku!”

“𝘏𝘢𝘱𝘱𝘺 𝘕𝘦𝘸 𝘠𝘦𝘢𝘳, Nindhi! 𝘍𝘪𝘯𝘢𝘭𝘭𝘺,” balasnya, setengah menghela napas, seolah mensyukuri tibanya waktu yang telah mengulur terlalu lama.

Ada semesta kecil yang bekerja mempertemukan kami pagi ini. Kebetulan aku berlibur ke sini. Kebetulan juga, ia sedang berada di kota yang sama. Dan, begitulah, sebuah agenda tersusun tanpa perlu melibatkan banyak drama.

“𝘛𝘶𝘣𝘦-nya lama banget,” ujarnya, merujuk pada kereta bawah tanah di London yang bentuknya seperti tabung. Ia lepas mantel dengan gerakan ringkas lalu menyampirkannya pada sandaran. Hanya berbalutkan kaus yang pas membungkus badan dan celana pendek, ia pun duduk. Melihatnya, aku menyipitkan mata. Mulai curiga ia bukan sungguhan orang negeri tropis. “Serius, rasanya kayak lagi ikut ujian kesabaran.”

Kekehanku terhela keluar. Kulambaikan tangan pada pelayan. “𝘊𝘩𝘢𝘪 𝘭𝘢𝘵𝘵𝘦, ‘kan?”

Dia mengangguk, sebelah tangannya kini sibuk memangku dagunya. “𝘈𝘭𝘸𝘢𝘺𝘴.”

Pesanan kami tercatat, dan obrolan pun mulai mengalir, seperti air yang meluncur bebas setelah lama tertahan tanggul. Kami berbincang soal kabar, pekerjaan, hubungannya dengan sang kekasih yang kini penuh warna, hingga lingkaran pertemanan barunya yang katanya terasa seperti mimpi. Lavanya, seperti biasa, adalah pencerita ulung yang mampu membuat segala hal terasa lebih hidup. Tidak kuherankan bila ia memiliki banyak teman dan kenalan dari berbagai belahan dunia.

Di antara jeda yang terisi oleh obrolan samar dari sekitar, aku menceletuk sembari memutar-mutar sendok kecil di tangan, “Omong-omong, aku mau tanya.” Sementara alunan Nocturne Op. 9 No. 2-nya Chopin mulai merambati kupingku dari pemutar musik kafe. “Menurutmu, orang yang selalu menunjukkan sisi baiknya ke orang lain tetapi menyembunyikan sisi gelapnya …, itu munafik, tidak?”

Suara tubrukan antar dua benda solid terdengar kala ia meletakkan cangkir. Tak tampak keterkejutan sama sekali di rautnya. Hanya kerut yang terajut di kening. Isyarat nonverbal pertanda berpikir atau mungkin heran. “Tidak selalu. Tergantung alasannya. Masa, hanya karena ramah dikatakan munafik?”

“Hm …, ya, jadi …,” tuturku hati-hati, “…, ada kemungkinan bahwa, di belahan Bumi ini, terdapat orang yang mungkin menganggap, orang yang tampak baik pasti menyembunyikan sesuatu di baliknya. Kebaikan itu adalah sesuatu yang palsu.”

Jemarinya menuding diri sendiri. “Jadi, apa aku orang yang munafik juga?” Lavanya Aaralyn mendengkuskan tawa kecil sejenak. “Palsu atau tidak, yang tahu hanya orang-orang terdekat. Kalau orang yang tidak mengenalnya yang mengatakan pribadi itu palsu, biarkan saja. Bagaimana bisa menaksir kepalsuan jika yang asli saja tidak diketahui? Benar, sih, kita pasti mempunyai sisi munafik, tetapi kalau kita ramah karena memang berusaha untuk itu, menurutku bukan kemunafikan.”

Refleks, aku menjentikkan jemari. Apa yang dijelaskan temanku ini juga merupakan apa yang aku pikirkan. “Betul, ‘kan?! Soal munafik ini, kita semua munafik. Kita pernah minimal sekali berbohong, minimal menampakkan wajah baik-baik saja padahal aslinya tidak. Tetapi, selama kemunafikan itu tidak bikin rugi orang lain, sebetulnya ya, manusiawi saja, begitu.” Kuseruput kembali kopiku dengan hati senang.

Vanya mencondongkan tubuhnya kala kembali bertopang dagu. “Kenapa tiba-tiba menanyakan ini? 𝘖𝘶𝘵 𝘰𝘧 𝘯𝘰𝘸𝘩𝘦𝘳𝘦 …? Ada yang membicarakanmu, ya?

Aku memelotkan mata, sedikit terkejut. “Tidak, kok, sama sekali tidak. Kamu tahu, aku punya kebiasaan menjadikan ‘problematika orang’ sebagai ‘bahan pemikiranku’ sendiri.” Tawaku menggelak lepas.

Ia menggeleng-gelengkan kepala. “Astaga … Hobimu merepotkan diri, rupanya. Tetapi, kalaupun ada, saranku, jangan pedulikan. Aku tidak begitu peduli omongan orang lain yang tidak mengenalku, Nindhi, sesekali mungkin kita harus pura pura tuli saja.”

Pernyatannya membuatku tertawa kecil. “𝘠𝘦𝘢𝘩 …. Aku mendadak terpikirkan karena banyak sekali orang yang … merasa bahwa, lebih baik orang yang menampakkan sisi buruknya dan menyembunyikan sisi baik, daripada orang yang menampakkan sisi baik dan menyembunyikan sisi buruk.”

Ia mengibaskan tangan. “Ah! Tetapi lebih bagus lagi kita tampakkan sisi baik dan mencoba menjadi sisi baik itu, walaupun kita semua pasti punya sisi buruk yang tanpa sengaja kita tampakkan. Orang terdekat kita, pasti bisa menerima sisi buruk itu.”

Alisku berjinjit. Masuk akal. Obrolan ini membawaku pada perenungan tanpa membuat suasana jadi berat. Lavanya, dengan caranya yang khas, selalu berhasil membawa percakapan ke tempat nan hangat—meski kami berbicara tentang hal-hal yang terasa dingin.

“Kecuali jika memang penjilat,” imbuhku perlahan. “Semacam di sini bicara soal si A yang baik-baik, padahal tidak menganggapnya demikian. Dan, karena kepribadian itu berkembang, menjadi seseorang yang lebih baik itu juga bisa dimulai dari sugesti. Dari penjelasanmu juga aku mengkonklusikan satu hal. Mereka yang tidak bisa menilai kita secara utuh itu, ya, yang tidak mengenal kita dengan baik. Ah, senang aku membahas ini dengan kamu. Vanya cerdas sekali!”

Kali ini, rambutnya yang dikibaskan. “Aku memang aslinya cerdas, tetapi sedikit gila saja!” Ia terbahak.

Gelakku turut lepas tanpa bisa ditahan. “Eh, jangan salah. Orang cerdas itu umumnya memang ‘gila’. Soalnya standar kewarasan tidak cukup buat membendung cara berpikir mereka.”

Dia memiringkan kepala, menatapku dengan senyum iseng di sela-sela sisa tawanya. “Kamu filosofis banget hari ini. 𝘍𝘭𝘢𝘵 𝘸𝘩𝘪𝘵𝘦-nya dicampur apa, sih?”

Mau tak mau, lagi-lagi aku terbahak. “Mungkin secangkir London, sedikit euforia tahun baru, dan …, kamu.” Kuberi ia 𝘭𝘰𝘷𝘦 𝘴𝘪𝘨𝘯 dengan membentuk jempol dan telunjuk.

Tinggalkan komentar