𝓝INDHITA SUKA TEMPAT INI. Bayang-bayang rak tinggi yang menjulang memungkinkannya terbenam dalam dunia lain. Berselimutkan aroma kertas tua yang dipelintir kayu jati. Menikmati waktu yang seakan membeku, sejak kali pertama ia membuka buku.
Akan tetapi, belakangan ini tujuannya mengalami deviasi.
Semua orang yang mengenalnya sepakat: Nindhita selalu tersenyum. Senyum itu serupa tanda tangan: konstan, tak dilebih-kurangkan, cukup membuat mereka merasa diterima. Namun, terdapat seulas senyum kecil yang khusus ia sisipkan untuk hal tertentu.
Hari ini, dikencani ketenangan bilik pustaka, senyum kecil itu muncul lagi. Netra Nindhita sesekali menyapa meja yang cukup berspasi dari tempat duduknya. Di sanalah seorang pemuda bercokol dalam postur agak bungkuk. Kakinya terlipat di bawah meja. Sementara tangannya sibuk mengguratkan ujung pensil pada buku sketsa. Sebagian rupanya terhalang topi bisbol, tetapi Nindhita tahu siapa dirinya.
Surya. Mahasiswa seni yang rutin menghabiskan waktunya di sini, mencoret-coret sketsa yang, menurut kabar angin, senantiasa menampilkan orang-orang yang ia temui.
Yang membuat Nindhita tersenyum diam-diam bukan hanya fakta ia tahu Surya sedang menggambarnya—ini sudah terjadi berkali-kali sebelumnya—melainkan juga ekspresi serius yang pemuda itu lahirkan selama menggambar. Bagi Nindhita, Surya tampak tak hanya sedang mencoba menangkap garis wajah atau bayangan rambut. Turut ia ciptakan selubung di sekitar; dunia privat berisi passion yang tidak semua orang bisa jangkau. Begitu apik. Begitu estetik.
Jadi Nindhita berpura-pura tidak tahu. Buku Memories, Dreams, Reflections karya Carl Jung setengah menjadi kamuflase, sementara mata itu sesekali membagi atensi dari untaian aksara pada siluet di seberang. Sudut bibirnya melengkung sedikit lebih dalam setiap ekor matanya menangkap Surya mencuri pandang.
Selang beberapa saat yang terasa seperti keabadian, derit kursi memecahkan keheningan. Surya berdiri. Ia rapikan buku catatannya dan bersiap pergi. Nindhita sudah nyaris melepaskan napas tertahan, kala tahu-tahu ada bayang-bayang tinggi yang jatuh ke atas mejanya. Gadis itu mengangkat muka. Sesuatu yang tak pernah diantisipasikan sebelumnya tengah berlangsung. Surya yang selama ini ia kenali dari distansi sekian meter, menjulang di hadapannya.
“Sorry ….” Suara si pemuda mengalun dalam frekuensi rendah berupa bisikan, “I hope you don’t mind. I … drew you. Again.”
Kendati napasnya lagi-lagi tertahan, binar dalam pandangan Nindhita tak bisa disembunyikan. Butuh mengerahkan upaya lebih guna memaksakan senyum normalnya terkembang bagi Surya. “You don’t have to apologize, Surya.”
Pria itu menggaruk tengkuknya, tampak canggung. “Well … I just thought I should say something. You’ve been my muse for weeks now. Feels wrong to keep it a secret.”
Sebelum Nindhita sempat melontarkan respons, Surya letakkan sehelai kertas di atas meja, tersenyum kecil, dan akhirnya berlalu.
Gemuruh bertabuhan di rongga dada Nindhita. Ia gigit bibirnya, mencegah senyum itu terkembang lebih awal. 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘦𝘬𝘴𝘱𝘦𝘬𝘵𝘢𝘴𝘪, batinnya. Akhirnya ia buka lipatan kertas itu. Di sanalah ia diperhadapkan pada sketsa dirinya yang sedang tersenyum. Bukan senyum ramah nan biasa ia tunjukkan pada dunia. Melainkan senyum kecil yang ia pikir hanya ia sendiri yang menyadarinya.
Di bawah sketsa itu, tertoreh catatan: ‘Your smile, the secret one, is my favorite masterpiece.’
Senyum itu kembali menyemburat di wajah Nindhita, lebih lebar dari biasanya. Namun, kali ini, ia merasa tidak perlu lagi menyembunyikannya. ■
496 kata
Prompt: Secret Smile
Sombra
