𝓢ETELAH DUA JAM NON-STOP dipaksa bergerak, akhirnya aku diperkenankan beristirahat juga. Melelahkan sekali menjadi alas pergumulan panjang dua insan ini.
Bukan semata lelah menandak-nandak. Aku juga mual dan muak. Sejak kedatangan pria itu di kamar Nindhita, wangiku yang selalu mawar lebih sering menjadi pandan busuk.
Kini Nindhita terbenam dalam pelukannya. Suara serak gadis itu lirih melontarkan pertanyaan-pertanyaan tak berguna. Yang paling terdengar jelas ialah:
“Jadi, istrimu meminta kita berhenti?”
Suara si pria yang sama serak terdengar menggumam. “Tetapi, tenang aja. Dia nggak bakalan berani ngapa-ngapain. Bisanya cuma ngancem. Nama baiknya juga bakalan kena kalau aku hancur.”
Lalu keduanya larut dalam cekikik remeh. Seolah dunia memang milik mereka, di mana batas legalitas dan moralitas cuma seutas lelucon. Kerap kubertanya-tanya, mengapa manusia yang dikaruniai akal sehat malah mengenyampingkannya demi menyepadankan diri dengan binatang.
Tiba-tiba, dering ponsel mengusik kesenangan mereka dan ketenanganku. Nindhita malas-malasan mengulurkan lengan demi menjemputnya dari nakas, sementara lengan satunya menahan selimut menutupi raga—yang percuma saja, sejujurnya.
Ada telepon masuk. Ekspresi wajahnya seketika berubah. Ia lekatkan telunjuk pada bibir. Isyarat agar kekasih haramnya tak bersuara. Selama beberapa menit terlibat obrolan, ia tutup percakapan dengan kepanikan tiada tara.
“Ibu! Besok pagi. Mau datang!” jeritnya tertahan.
Udara seakan berubah. Ketegangan mulai mengaliri setiap sudut kamar. Tergesa, Nindhita kenakan pakaian yang terserak, lantas membereskan barang-barang di sekitarnya. Rasanya ingin sekali tertawa saat ia mengusir keluar papi gulanya.
“Kan besok datangnya?” Lelaki itu bertanya dengan mimik tolol.
“Besok, datangnya! Tetapi aku harus siap-siap! Aduh, ini, kolormu minggu lalu, bawa pulang sekalian, deh!”
Di momen-momen seperti inilah kusesali jati diriku. Andai aku CCTV, mataku tak hanya berfungsi untuk menyaksikan, tetapi juga mengabadikan. Dan dengan bantuan Sumika, penunggu kos yang super-usil, tayangan tak senonoh yang hanya aku saksinya bisa kulaporkan pada Ibu Nindhita. Biar lenyaplah segenap penderitaan sepanjang malamku.
Sayangnya, aku bukan CCTV.
Benar juga. Sumika! Kupanggil ia melalui isyarat angin. Kendati aku bukanlah CCTV, ia bisa membantuku untuk yang satu ini.
✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏
Nindhita dan ibunya tiba. Samar obrolan mereka terdengar sebelum pintu itu terkuak. Mereka membahas seputar perkuliahan sang putri bungsu, yang kini memasuki semester keenam. Um-hm … penasaran sekali aku, apa yang akan dipikirkan ibunya andai ia tahu yang sesungguhnya.
Sumika pun memunculkan benda yang sebelumnya disembunyikan dari mata Nindhita di bawah kolongku. Seketika, tatapan ibunya tertuju ke sana. Ia pungut benda itu. Matanya membelalak. Bahkan orang tua dari kota seberang pun, semestinya tahu fungsi si karet pelindung, bukan?
“Nin …? Apa-apaan ini?”
Wajah Nindhita seketika pias. Teh panas yang hendak ia tuang ke dalam gelas menempias ke telapak tangan. Hentakan kalor di kulit membuat kuasanya lunglai. Gelas alumunium itu terlepas dan bergulingan di lantai.
Kegelisahannya merayapi udara, senyata alur dingin pengatur suhu yang melambaikan tirai.
“Ehm … it—itu bukan punya Nindhi, Bu,” jawab Nindhita separuh mengawang, dengan suara yang hampir-hampir hilang.
Nada ibunya naik setengah oktaf setengah volume. “Lah, terus punya siapa?! Gimana bisa ada di sini kalau bukan punyamu, hah?!”
Di sudutku, Sumika tertawa. Aku pun, ingin sekali terbahak. Sayang, tiada kuasa untuk itu. Aku hanya ranjang. â–
495 kata
Prompt: Check To See What They Think
Tantangan menulis dengan POV benda mati.
