đNI SUDAH BUKAN LAGI PERCAKAPAN. Ketika suara mereka saling bertolak. Lantas menjelma dua arus deras yang mencoba memenangkan ruang, satu di atas yang lainnya.
âSelalu? Gimana bisa aku âselaluâ ngeluh, sementara kamu âjarangâ ada?â
âYa, intinya setiap kali aku muncul, yang kamu lakukan hanya ngeluh!â
Raka dan Nindhita ialah dua gunung berapi yang saling hadang. Berdiri di atas landasan magma yang sama. Setiap langkah yang terkayuh seumpama gempa kecil nan mengakselerasi kehancuran.
âAku ngeluh karena ngerasa sendirian! Kita tinggal seatap tapi macam dua orang asing yang cuma numpang tidur di rumah yang sama.â
âKita kan, udah sepakat, Nin, buat nggak punya anak. Kamu yang ngide. Sekarang kamu juga yang ribut soal kesepian. Maumu apa?â
Mulailah mereka meletup, menyemburkan asap. Argumentasi tak seiras saling bertabrakan seperti dua aliran lava yang berlomba menuju kesudahan.
âBukan masalah itu. Ngerti nggak, sih?â
âAku nggak ngerti. Yang kutahu aku capek.â
Nindhita tak lagi menjawab. Matanya panas, tetapi ia tak juga ingin menangis. Kedongkolan itu terperangkap di tenggorokan.
Kemudian suara-suara lenyap disapu kegamangan. Menyisakan hanya helaan napas yang terputus. Wajah mereka saling berhadapan. Namun, yang mereka tatap bukan sekadar raut wajah.
Melainkan juga: lelah yang tak tersuarakan. Luka yang tak terucap. Kepercayaan yang mulai goyah.
Nindhita, selaku makhluk yang dikaruniai Tuhan dengan sedikit lebih banyak empati, yang pertama kali menyadari. Api yang dilawan api hanya akan memegarkan bara. Tak terkecuali kemurkaan.
Perlahan ia seret langkahnya mendekat. Tidak ada rencana. Tidak ada pertanda. Ia hanya sebatas mengerti, berdebat sudah tidak lagi berguna. Kata-kata kini tak lagi bisa dipahami.
Maka biarkanlah tubuhnya yang menyuarakannya. Dengan itu, tangannya terangkat. Jemarinya menelusup di antara bahu Raka. Dan, ia rekatkan tubuhnya dengan tubuh lelaki itu.
Raka membeku. Sejenak, tubuhnya lupa bagaimana seharusnya merespons. Serasa otaknya mendadak direm. Ia terbiasa memasang tanggul demi menamengi ego dari segala yang rapuh. Akan tetapi, hangat yang didatangkan Nindhita perlahan-lahan menggetarkannya. Hangat yang bukan lagi dari api atau magma.
Pertahanannya runtuh. Napasnya memendek, lalu perlahan melambat. Akhirnya, ia menyerah. Lengannya melingkari lengan Nindhita. Dekapan itu terasa akrab sekaligus asing. Mendatangkan carikan pertanyaan seketika: sudah berapa lama mereka tak melakukan ini?
Usai ini, masalah tak seketika lenyap. Luka tidak ajaibnya hirap. Akan tetapi, dari balik hangat nan mengalir mencuat kesepahaman. Kilas-kilas balik dalam benak mengingatkan bahwa apa-apa yang terbentang di sini adalah yang telah dipilih. Bahwa keduanya pernah bertukar janji untuk saling menjaga, kendati kini kata-kata justru lebih sering melukai.
Akhirnya, kalimat itu tersuarakan dari lisan Nindhita, âAku minta maaf, Raka.â
Tak perlu menuang serta hal-hal yang perlu dimaafkan. Ia meminta maaf untuk segalanya, sembari berharap rengkuhan ini bisa mengirimkan Raka secarik kejujuran. Bahwasanya, ia merindukan mereka yang seperti ini.
Lambat-lambat, kepala Raka menggeleng. Telapak tangannya mengusap puncak kepala sang istri. âAku yang minta maaf. Maaf, ya, Nin, sering ngebiarin kamu sendirian.â
Nindhita mengulas senyum. Perasaannya tersampaikan.
Entah berapa bilangan sekon telah terlewati. Tatkala pelukan itu terlerai, ruang tamu masih sama seperti sedia kala. Sekali lagi, problematika belum sepenuhnya selesai. Namun, setidaknya mereka tahu, di bawah segenap perbedaan, terdapat dasar yang cukup menahan segala.
497 kata
Prompt: Hug
Kintsugi
