𝓒AHAYA KEEMASAN DARI LAMPU terpantul pada wajah-wajah yang mendekati simetri sempurna. Yang permukaannya halus, nyaris tanpa cela, bagai gerombolan porselen yang dipahat sepenuh jiwa.
Langkah demi langkah mereka mengalir dalam arus konstan. Aula ini lekas disesaki dalam ritme yang seakan-akan terprogram.
Di ekor arus itulah, Nindhita menjejak dalam kecemasan. Menjadi margin ekstra yang tak terbaca massa. Tepi gaunnya menyapu lantai, tetapi terasa bagai lapisan artifisial yang dipaksakan melekati raga. Jemarinya menggelantung lunglai, seakan mencoba menggenggam sisa nyali yang terurai. Sementara atensinya mengitar, mencari satu saja paras yang disodorkan ingatan di tengah puluh ribuan orang yang tiba.
Ia mengerling halus kala temukan sosok itu di sana. Pangerannya; pria yang pernah menatapnya dengan sorot serupa mentari pagi, di sebuah pesta yang lebih sederhana, dalam wujud Nindhita yang lebih seadanya.
Senyum si puan seketika mengembang. Akan tetapi, langkah itu tahu-tahu terjeda. Refleksi di gelas kaca memantulkan realita yang tak ia suka. Wajahnya terlalu biasa-biasa jika disandingkan dengan lautan manusia yang memesona. Ini takkan cukup untuk bisa membuatnya bersanding dengan Sang Pangeran.
Maka ia lalu mulai mencari apa pun yang bisa dipinjam dari dunia.
Setetes serpih debu kristal nan jatuh dari gaun seseorang dioleskannya di pipi, agar wajahnya lebih bercahaya. Kelopak mawar yang dikoyak hak sepatunya pun dipulung untuk mendelimakan bibirnya. Debu emas yang berterbangan dari cincin lamaran sepasang sejoli, dipoles ke kelopak mata guna tampilan lebih bersahaja.
Akhirnya, Nindhita tersenyum puas. Ia siap menjumpai pangerannya dengan wajah yang menurutnya lebih layak. Langkahnya terpatri mantap memasuki pusaran. Tubuh-tubuh di sekelilingnya bergerak, terpisah dengan sendirinya, bagai medan magnet yang otomatis menciptakan spasi. Seumpama Ratu sehari, semua mata kini tertuju padanya. Setiap geraknya seperti terkalibrasi.
Nindhita semakin dekat.
“Selamat malam, Pangeran.”
Lantun suaranya membuat pria itu mengangkat wajah. Pupil sewarna jelaga yang dibingkai alis tebal menyempit, tampak mengamatinya dengan analisis yang terkesan klinis.
“Siapa kau?”
Sejenak, dunia terasa terhenti.
Nindhita tercekat. Ini bukan sesuatu yang mungkin. Masih dapat ia ingat dengan jelas malam itu. Sentuhan lembut pada punggung tangannya yang mengirimkan sejuta impuls menyenangkan sekaligus menenangkan. Cara si pria mengucapkan namanya dengan penuh kehati-hatian, seperti menggumamkan sepatah mantra. Mereka juga pernah berdansa. Pernah bertukar tawa. Pernah bercumbu mesra.
“Ini aku ….” Suara Nindhita serupa kaca retak. “Tidakkah engkau ingat?”
Kerut ketidakmengertian tergurat di antara kedua alis Sang Pangeran.
“Aku tidak—”
Lalu kalimat itu dijatuhkan bagai palu hakim yang mesahihkan vonis mati:
“—pernah melihat orang berwajah kosong sepertimu.”
𝐵𝑒𝑟𝑤𝑎𝑗𝑎𝘩 𝑘𝑜𝑠𝑜𝑛𝑔.
Kata itu menggema dan menjalar di sepanjang kesadaran Nindhita. Telapak tangannya merabai pipi. Rupanya kilau peraknya telah hilang secara instan. Kelopak mawar di bibirnya gugur seperti residu yang terkelupas. Partikel debu emas pun dilunturkan oleh keringat.
Lebih buruk lagi, pada kilap lantai yang menduplikasi dirinya, ia lihat kebenaran yang tak ingin ia hadapi.
Tidak ada lagi matanya. Tidak ada bibirnya. Tidak ada wajahnya. Tidak ada lagi Nindhita.
Sementara pria itu berbalik jemawa lantas berbaur dalam keramaian; sementara pesta dilanjutkan oleh riuh musik dan obrolan-obrolan; sementara arus manusia-manusia porselen meninggalkannya, Nindhita malah terperangkap dalam selubung hampa, di mana ia sendiri tak pernah sekalipun mengenalinya. ■
497 kata
Prompt: Looking For In The Crowd
Evanesca
