𝓢UATU HARI, CELAH HITAM merekah di langit semestaku. Malam tiba terlampau dini. Dari angkasa yang nirbintang, namamu mencuat dan memelesat. Ekornya membias bagai gema yang tak pudar-pudar.
Kucari-cari akar gemanya, padahal sendirinya tak tahu persis apa yang kutuju. Laksana seorang pelaut yang memetakan angin di atas lautan tak bernama, aku cuma tahu ada sesuatu di ujungnya. Hanya saja, aku tak tahu itu apa.
Ironisnya, dalam penelusuran nan payah, kujumpai biangnya ialah sesuatu di balik tulang dada, yang tak selaras dengan nadi. Dari sana, gema itu kian jelas. Kian deras. Seiring kusingkapkan segenap ego dan mengenyampingkan rasionalitas.
Mungkin, itulah jejakmu. Yang lantas menjelma irama tak rampung dalam sekumpulan notasi yang terlalu kompleks. Padahal, engkau bahkan hanya sekilasan menjelma. Akan tetapi, eksistensimu seperti bintang mati. Cahayanya masih tiba sekalipun sumbernya lenyap sudah. Dan, namamu terus berdentingan dalam jarak subsonik, melintas melewati koklea, mencipta ilusi panggilan yang tak pernah terjawab.
Jika ini adalah perasaan, maka kupastikan ia bukan milik dunia nyata. Ia adalah lintasan komet yang tak pernah menyentuh orbit. Hanya tahu memelesat. Lantas, menghilang. Hingga yang tertinggal hanyalah ekor cahaya yang membakar retina, lalu aku pun sejenak lupa bagaimana rupa gulita yang sebelumnya; yang semestinya. Sebab, ia telah membaur dalam semestaku sendiri.
Saat aku kembali ke setiap sudut ruang khayali, engkau telah mewujud siluet samar yang tak pernah terbentuk sempurna, tetapi memekarkan imajinasi. Seuntai nada dasar yang memintaku untuk terus menciptakan melodi.
Jadilah: aku menciptamu. Dari puing gema nan kupulung dari lembar malam yang kutahu takkan abadi. Dari sisa-sisa kata yang bahkan tidak akan mau kuucapkan sampai mati. Dari jeda kosong antara logika dan asa pribadi. Kubunyikan rangkaian nada itu hingga merambat di udara. Kunyanyikan sonata bernama engkau dalam keheningan malam, menggunakan bahasa yang lebih renta daripada waktu.
Tahukah engkau, bagaimana rasanya mencipta narasi dari bayang? Harus kubayangkan aroma udara di sekitarmu, membingkai siluet wajah yang berkelabuan, hingga merangkai percakapan yang tak pernah terjadi, seakan mencoba mensolidkan sesuatu yang bahkan tak punya dimensi?
Kupusatkan padamu, energi yang mungkin agak membuat kewalahan; terlalu intens, hingga menyesaki ruang yang bahkan tidak pernah diisi. Keadaan liminal; simulakra nan menggantung di antara realitas dan fantasi. Di sana aku tinggal sebentar, berdebar-debar, sementara waktu terus merangkak mundur, maju, dan berputar seperti dial jam yang retak—tetapi aku tak mau peduli.
Maka kujumpai: keindahan dan kengerian bersekutu dalam dirimu, bagai malam yang tak bisa diceraikan dari kelam. Ada sesuatu yang mendebarkan; ketidakpastian. Sebagaimana horizon yang menyulam langit dan bumi sekaligus memisahkannya. Engkau pula menjelma pertanyaan tanpa jawab; nyala sepucuk lilin di luar ruangan nan penuh deru angin. Ragu yang mendesak di tengah gumulan ingin.
Mungkin karena engkau, seperti juga segala yang tak abadi, mengundang rasa kagum sekaligus gentar. Karena di balik senyummu, ada jurang yang dalam. Di balik pendar matamu, ada gulita dalam badai yang diam. Sedang, aku hanya bisa berdiri di ambang; terhenti dan terpikat pada keutuhan.
Aku berakhir memutuskan melupa dan melangkah mundur usai menjahit kembali celah di angkasaku. Malam yang kelewat dini pun diakhiri. Kudekatkan kembali diriku pada pagi yang selama ini kucintai—rutinitas menahun sebelum engkau tiba.
Namun, bagiku, dirimu tetap sekilas keindahan dalam relung memori. Rasanya seperti tiba-tiba berkesempatan menjumpai gerhana matahari, disusul perjumpaan dengan hujan meteor nan langka dan memukau, mengaguminya, merekamnya dalam sepintasan pandangan. Pengalaman yang mungkin takkan bisa sempat kuabadikan, kecuali melalui retorika.
Gulita
