Patah

Prompt: Venus
Jumlah Kata: 450



SEHARUSNYA MALAM ITU menjadi puncak kegemilangan Venecia. Klimaks dari perjalanan bertahun-tahun meniti tangga. Pucuk dari langkah yang terbata-bata.

Panggung adalah dunianya. Tirai beludru yang dikuak itu gerbang menuju surganya. Bermandikan pilinan cahaya emas dan perak, Venecia memasukinya. Keanggunan dan keindahan menopangi pundaknya.

Saat musik dimulai, dirinya bukan lagi manusia. Ia adalah dewi. Ia adalah seekor angsa. Ia adalah sapuan angin. Ia adalah cahaya. Dan sang bintang. Dan keindahan, yang konon ditakdirkan menguasai surga.

Tiada satu pun gerakan kaki dan tangannya, selain nyanyian tanpa nada. Venecia berkisah tanpa perlu berkata-kata. Jari-jari kakinya yang memutar sebagai prima ballerina, menenun lukisan melalui setiap inci perpindahan.

Penonton menahan napas. Mata-mata mereka berkilat; dipikat tarian halus dalam iringan Swan Lake.

Sayang, sang angsa gagal diterbangkan.

Tangan takdir memutuskan untuk membalikkan nasib dari lambungan asa.

Saat Venecia melakukan Fouetté dengan segenap hati, kakinya menyerah mengayuh angin yang membawanya ke surga. Tubuh kurusnya ambruk; mengalah atas denyut mematikan yang menghantam pergelangan serta melahap ujung-ujung jari kakinya.

Gema tepuk tangan yang diharapkan, digantikan eksistensinya oleh seruan, jeritan, serta bisikan kasihan.

Tubuh Venecia dibawa pulang ke Bumi yang berbeda. Malam tumpah oleh isak tangis; terburai antara rasa sakit fisik, mental, dan kekecewaan. Ia berharap peristiwa itu tak pernah ada. Ia berharap malam itu hanya mimpi semata. Namun, saat pagi terkuak, Venecia membuka mata hanya untuk lagi-lagi mendapati rentetan luka.

Kerugiannya mencapai puluhan juta. Orang tua telah dibuatnya kecewa. Dan, Venecia harus menerima vonis yang sama seperti kematiannya: tak bisa melanjutkan karier sebagai ballerina.

Venecia meratap saat Ambrosius datang menjenguknya. Berharap laki-laki itu sudi meminjamkan sebelah sayapnya untuk mengajaknya bangkit bersama.

Sayang, Venecia lagi-lagi dijatuhkan.

“Aku tidak bisa bersama seseorang yang tidak bisa lagi menari.”

Oleh Ambrosius yang menemaninya meniti tangga. Ambrosius yang menyertainya dalam segenap cerita. Ambrosius yang selalu membanggakannya; menjadi yang pertama bertepuk tangan setiap Venecia menuntaskan pose penutup. Ambrosius yang sama, tapi kini mendingin. Angkuh. Jauh.

Kata-kata Ambrosius menggaung, sukses membuat tubuh serta mimpi Venecia terbakar, menjelma abu. Dan, begitu saja, Ambrosius meninggalkannya, tanpa pernah sudi menengok lagi. Sekalipun Venecia menghiba dan menganaksungaikan air mata, hingga ambruk dari kursi rodanya.

Penari macam apa yang tidak bisa menari? Identitas Venecia hilang sudah. Gairahnya musnah. Ia berputar ke jurang depresi yang gelap. Venecia bagai bunga halus yang mekarnya perlahan, tapi sekejap mati begitu ditinggal matahari. Dunia yang susah payah ia genggam, begitu saja menyelinap keluar melalui ujung jarinya bagai butir pepasiran.

Hari berubah melahap kalender menjadi bulanan. Malam menjadi kegelapan tanpa akhir. Dunia Venecia menjadi chiaroscuro keputusasaan. Hatinya menggemakan sakit. Dan sunyi. Dan rindu akan panggung, yang mengakrabinya bertahun-tahun, tapi telah mengucapkan selamat tinggal nan pahit.

Venecia tak pernah bisa lagi mendengar musik tanpa merasa terusik.

Selang sembilan belas malam setelah kejatuhannya, Venecia mengiris kedua daun telinga, juga nadinya.

Tinggalkan komentar