Sarak

“Kita sudahi saja, ya.”

SEHARUSNYA KALIMAT ITU TIDAK mematahkan hatinya. Martha sudah mempersiapkan diri sepekan terakhir. Meredupnya bara dari hubungannya dengan Tom telah menampakkan tanda-tanda dini.

Dimulai dari ketiadaan rutinitas saling peluk setiap bertemu. Sekalipun ada, dekapan Tom tidak sehangat dulu. Yang disebut ‘pelukan’ hanya saling menempelnya lengan dan dada sekilas. Seolah-olah Tom melakukannya tanpa rasa ikhlas.

Disusul sesosok gadis bernama Kiara yang rutin menyambangi postingan Tom setiap pria itu memposting pembaruan. Interaksi mereka memang tidak mencurigakan. Satu-satunya yang patut dicurigai adalah keterasingan Martha akan Kiara. Teman Tom adalah temannya. Dan, Tom tidak pernah seakrab itu dengan gadis yang tidak Martha kenali.

Faktanya, saat kata sesakral ‘sudahi’ mencelat dari lisan Tom, tetap ada efek retak dalam dadanya.

Martha berusaha agar kesakitannya tidak seberapa kentara. Telah dia sugestikan tangisannya untuk menunda kemunculan. Dia bisa mengucurkan air matanya nanti malam, hingga mengkuyupkan ranjang jika perlu. Saat ini, yang harus dipasangnya adalah ketegaran palsu. Ada yang ingin Martha dengarkan. Dia butuh validasi, bahwa dia tidak pernah melakukan kesalahan dalam hubungan mereka.

“Boleh kutahu alasannya?”

Dia sendiri takjub oleh absennya getar yang diantisipasi dalam ucapannya barusan. Mungkin demikian juga Tom. Kilatan matanya menampakkan keterperangahan.

“Aku dijodohin.”

Kedua kelopak mata Martha mengerjap lamban.

Ah. Dia lupa fakta itu. Keluarga Tom tidak menyukainya, bahkan sejak awal Martha diperkenalkan ke hadapan mereka. Sentimen ekonomi keluargalah kesalahan Martha satu-satunya. Rupanya, statusnya sebagai putri buruh bangunan, sekalipun ia punya potensi untuk mengubah nasib masa depannya, masih menjadi noda bagi pihak seberang. Dan, rupanya, selama hubungan mereka, Martha memperjuangkan ini sendirian.

“Begitu ….” Martha menggumam. Setelah yakin panas dalam matanya sendiri berhasil ditekannya, dia mendongak pada Tom, “Kiara, ya?”

Riak keterkejutan menggelegak dari pandangan si lelaki. “Kamu kenal?”

Jawaban Martha hanya gelengan lemah. Dia tidak kenal Kiara, dan inilah asas praduganya. Siapa yang tak memerhatikan sosok yang seakrab itu dengan kekasihnya, tapi tidak ada dalam daftar teman yang dikenalinya?

Tiada sahutan lagi dari Tom. Laki-laki itu bahkan tidak memanfaatkan jeda untuk menyentuh kopi yang Martha suguhkan. Kopi yang pernah menjadi favoritnya, kini dibiarkan mendingin tanpa pernah disesap lagi.

Sama seperti Martha.

Waktu melaju dalam kebungkaman yang diisi suara-suara latar belakang: deru kendaraan di luar, seruan anak-anak kos tetangga Martha, dan kokok ayam yang menjejali sela-selanya.

Barangkali, karena gerah oleh keterdiaman yang tidak menentramkan, Tom kembali buka suara, “Barang-barangmu di kosku, nanti aku paketkan—”

“Tidak perlu,” Martha menyela agak cepat. “Boleh dibuang, kok.” Tak diperlukannya barang-barang yang hanya akan mengingatkannya bahwa ia dicampakkan. “Semoga kamu dan Kiara bisa berbahagia bersama.”

Tom membuang pandangan pada langit-langit kamar Martha, berikut desahannya. “Kamu jangan bikin aku nggak enak.”

Bebal, Martha menyambung, “Jangan ragu meninggalkanku. Jalanmu sudah ditentukan di sana. Aku sanggup hidup tanpamu, walaupun mungkin aku nggak mau.”

Kalimatnya membekap mulut Tom yang semula membuka. Laki-laki itu menyugar rambutnya gusar. Napasnya terbuang kasar.

Martha kembali bersuara, “Tapi, boleh aku minta satu hal?”

Mata Tom yang sehitam langit malam kembali terarah pada Martha.

Gadis itu tersenyum lemah. Menahan bibirnya agar tidak bergetar, dia menyuarakan pinta, “Boleh, aku minta kamu memelukku untuk terakhir kalinya?”


Prompt Lagu Terpilih: Agnes Monica – Karena Ku Sanggup
Jumlah Kata: 499 kata

Sa·rak (a) pisah; cerai;

Tinggalkan komentar