“Purnama darah.” Tangan pucat berkuku runcing menyodorkan pisau perunggu klasik. “Tepat untuk ritual darah perawan suci.”
Hamba yang berutang nyawa menjemputnya takzim. Hidungnya mencium lantai pualam sedingin es. “Siap, Lady.”
ALARM DI KEPALA COCO BERDENTANG. Seharusnya ia sadar lebih awal, Withby bukanlah destinasi menarik demi semalam bersama kekasih.
Disanggupinya ajakan Fin untuk memperkenalkan Coco pada orang paling penting baginya. Namun, nihil dari imajinasinya bahwa moncong mobil Fin akan berhenti mengaum pada lokasi yang senyap, gelap, dan berhawa lembab.
“Bukankah kita mau ke tempatmu?”
Di balik kaca mobil hanya menculak rerimbunan pohon dan belukar. Tiada tanda-tanda kehidupan. Kala kedua mata lampu mobil itu dipadamkan, satu-satunya cahaya semata rembulan yang bertahta kemerahan di angkasa malam. Angkuh. Seolah punya kuasa penuh.
Coco keceplosan mengaku perawan, sebab kadung terpesona pada Fin yang tampan. Rela disanggupinya pula permintaan Fin untuk melepaskan status tersebut malam ini. Akan tetapi, wanita waras mana pun akan menolak melakukannya di semak-semak.
Jawaban Fin diselubungi setarikan napas, “Di dalam ada kastil Lady Vera, tempat tinggalku juga. Ayo, turun.”
Langkah mereka dibauri derak kerikil dan serakan dedaunan kering. Rembulan ranum kian merangkak membuntuti mereka. Tanah menjadi kanvas bayangan. Rupanya kata-kata Fin bisa dipercaya. Lorong penuh kerikil terputus. Ujung jempol mereka dihadapkan pada pelataran.
Gedung yang menantangnya tampak tua. Seolah telah melahap bilangan masa melebihi umur ibunya. Namun, jejak-jejak kemegahannya masih terinklusi dalam pilar-pilar klasik, ukiran masonik, juga kristal-kristal apik. Bagai sesosok nenek bangsawan jemawa yang menjagai sejuta misteri tak terulik.
Mengekori Fin, Coco sibuk menganga; mengagumi interior bangunan. Ruang tamunya seluas lapangan, minim furnitur kecuali sofa-sofa klasik dan lampu gantung bercahaya muram. Kemudian seuntai suara mezzosopran yang terpantul dinding-dinding tak berperedam, menghela atensinya.
“Selamat datang.”
Sumbernya seorang wanita berkerudung tipis. Cadar menudungi matanya, wajahnya tak teridentifikasi. Hanya bibir bergincu merah dengan senyuman yang urung lungsurlah yang ditampakkan, selain busana nan ramai ornamen, juga seekor gagak hitam yang bertengger di pundaknya.
“Coco. Namamu manis. Aku pemilik kastil ini. Fin dan teman-temannya biasa memanggilku Lady Vera.”
Tak hentinya Vera mengapresiasi, Fin punya selera yang bagus. Bukan tanpa alasan pemuda itu dinamainya ‘Fin’. Fin yang berarti akhir; selesai. Cocok untuk peran eksekutor. Perempuan bernama Coco, bukan hanya namanya yang manis, tetapi juga aroma tubuhnya. Belum apa-apa Vera telah membayangkan mereguk manis darahnya dan berendam dalam hangatnya.
“Selagi santap malam disiapkan, bagaimana jika kuajak berjalan-jalan? Bulan cantik sekali malam ini.”
Coco mengangguk. Tertuntun langkahnya mengekori, berhati-hati agar tidak menginjak tepi gaun sang Lady yang menjulur menyapu tanah. Sebagaimana tuturannya, mereka punya taman yang indah. Pepohonan tua bermandikan sinar rembulan melukis siluet mistis memanjang di atas rerumputan.
Benak Coco sibuk mematri tanya. Apakah Vera, orang yang berarti bagi Fin? Tak bernyali menyuarakannya, jantung Coco mencelus. Bukan saatnya cemburu, tetapi, bersanding dengan keanggunan dan kemuliaan Vera membuatnya kusam.
Langkah Sang Lady berhenti di tengah jalan. Tempat yang sempurna disinari cahaya perak kemerahan dari angkasa, nihil kanopi atau naungan. Kepalanya mendongak, menantang dewi malam yang telah merambahi puncak. Bibir merahnya separuh membuka, cadarnya sekilas dikebitkan angin. Lamban, ia menoleh pada Coco.
“Sudah waktunya, Coco.”
Alis Coco bergerak naik, bingung.
Angin sekali lagi menyibak tudung muka Vera. Di sanalah Coco melihat sepasang mata selegam malam yang menjurus padanya penuh hasrat. Denyut nadinya ditabuh lebih cepat. Kemudian, tempo yang semula lambat tiba-tiba saja turut berlalu selekas lesatan kilat. Coco merasakan tangan Fin meraba wajahnya dengan lembut, tetapi tangan itu juga membawa senjata maut yang tak terlihat. Dalam sekejap, pisau perunggu berukiran klasik itu mengelebatkan pantulan cahaya pucat.
Coco mencoba berteriak, tetapi suaranya terpenggal di tenggorokan. Bisa ia rasakan tangan Fin yang kuat mencengkramnya. Coco tercekat. Pisau itu mendarat—menyayat lehernya. Memutus temali kehidupan bernama nadi. Darah Coco membersil dan menyeruak. Rasa sakit yang tak terlukiskan, juga dinginnya besi dapat ia rasakan.
Sebelum tubuhnya ambruk dihisap gravitasi karena lenyapnya daya dan kuasa, Fin merengkuhnya. Cawan dalam kuasanya menampungi tetes demi tetes yang tercurah dari bukaan kulit Coco.
Dunia Coco memudar saat napasnya buyar. Wajahnya yang cantik semakin pias seiring dengan kehilangan hemoglobin. Sebelum gelap menginvasi keseluruhan pandangannya, Coco melihatnya. Mata Fin bagai mata predator yang siap memburu mangsanya. Bukan nafsu untuk kehidupan. Melainkan nafsu untuk kematian.
Seakan merasakan kenikmatan dalam ritual ini, bibir Vera merekah. Ujarnya dalam nada seperti tengah bersenandung, “Jangan sia-siakan setetes pun, Fin. Purnama indah sekali.”
699 kata.
Prompt Frasa Terpilih: Stare At The Moon
Genre: Horror/ Thriller/ Suspense
