NGGAK ADA YANG LEBIH HOROR ketimbang pagi-pagi disamperin Alan.
Belum dua menit bokongku mendarat, harus kubawa laporan kemarin ke ruangannya. Pupuslah rencana bersantai sebelum jam masuk dengan menyesap seduhan ๐๐ถ๐ฏ๐ฏ๐ช๐ฏ๐จ๐ด sambil menontoni lalu-lalang Sudirman melalui jendela kaca.
Dari semua bagian kantor, ruangan Alan adalah area-paling-dihindari. Atmosfernya berat sekalipun masih pagi.
Aku sudah duduk kala pintu kembali diketuk. Seseorang ikutan nyelonong dan Alan mempersilakannya ikut. Tercengang kutatap Alan. Apakah aku mau diomelinya di depan Zidan?
Telepatiku padanya untuk mengusir salah satu dari kami, entah aku atau Zidan, sia-sia belaka. Alan berada di frekuensi berbeda. Kerutnya mengukir kening, pandangannya lurus padaku.
โKenapa ๐ฅ๐ฆ๐ฃ๐ต ๐ต๐ฐ ๐ฆ๐ฒ๐ถ๐ช๐ต๐บ ๐ณ๐ข๐ต๐ช๐ฐยน klien melonjak?โ
Kutarik napas demi secarik ketenangan. โTahun ini mereka ngadain investasi besar-besaran buat ekspansi, Pak. Jadi, terpaksa minjem dana besar.โ
Zidan berceletuk, โPT. Glory, ya?โ
Aku mendelik.
Alan membolak-balikkan lembar laporanku. โUdah dijelasin risikonya? Paham, โkan, dampaknya buat kita kalau mereka gagal ngelunasin? Gede ini.โ
Kujelaskan bahwa sudah dilakukan restrukturisasi utang dan suku bunga, diversifikasi sumber pendanaan buat mengurangi risiko, plus perbaikan efisiensi operasional demi meningkatkan profitabilitas.
โBakal dilakuin uji stres buat proyeksi keuangan juga,โ imbuhku. โMereka punya aset nggak strategis yang bisa dijual kalau situasi nggak memungkinkan.โ
Alan nggak puas. โ๐๐๐ยฒ setahun terakhir berapa?โ
Aku tergeragap. โItuโโ
Bosku menyalak seolah baru kulakukan kesalahan fatal, โHarusnya disiapin dong, Nal!โ Tanganku dimuncrati celatan ludahnya.
Pagi-pagi, sarapan amukan dan hujan lokal dari si bos, sungguh lezat dan bergizi. Di hadapan Zidan pula. Aku baru mau menyahut saat Zidan menceletuk, โ๐๐ฏ ๐ค๐ข๐ด๐ฆ lo lupa, Nal, keuntungan bersih dibagi total investasi.โ
Kuberi ๐ฃ๐ฐ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ด๐ต๐ช๐ค ๐ด๐ช๐ฅ๐ฆ ๐ฆ๐บ๐ฆ๐ด yang dibalas cengiran. Prosesiku mentransfer murka diakhiri raungan Alan kemudian.
โMasukin semua laporan keuangan klien lima tahun terakhir. Konsultasiin juga sama Zidan, kita punya analis buat dipakai ngitungin rasionya! Dia bukan boneka pajangan doang! Gue tunggu besok pagi. Lo boleh keluar.โ
Laporanku yang dibanting ke meja kuraup tanpa melirik siapa-siapa. Ada hasrat menjungkirbalikkan mejanya, tapi kuganti dengan mendoakan Alan mencret hingga bolak-balik kamar mandi, serta Zidan kepeleset di tangga.
Sayang, memang pamali mendoakan keburukan karena akan melandas diri sendiri. Poni yang menghalangi separuh pandanganku membuat kepalaku kepentok bingkai pintu.
Terdengar, โHati-hati, Nal!โ dari balik punggung. Disampaikan dalam balutan tawa.
Han, juniorku yang baru datang, menatapku prihatin. Segelas kopi berlogo ๐๐ฆ๐ต๐ถ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ด disodorkannya. โNgopi, Kak, biar mukanya disetrika.โ
Tanpa pikir panjang, kuraih kopi itu dan menyesapnya.
Sungguh malas berkoalisi sama Zidan.
Sejak awal masuk bareng, dia sudah mengesalkan. Dimulai dari namanya yang menurutku senorak nama pemain sepakbola. Ujungnya, dialah yang ditempatkan sebagai analis, padahal, akulah yang menaksir posisi itu. Kuakui, Zidan lebih tangkas soal angka. Namun egoku sebagai lulusan magister luar negeri terluka dikalahkannya dengan ijazah lokal.
Dia juga membuatku dengki karena nyaris percaya ia dan Alan pasangan humu. Sebelum ilfeel gara-gara kegalakannya, aku sempat naksir Alan. Kuyakini dia jodohku berbekal nama yang bisa dijadikan palindromยณ. Maklum, saat awal jadi mahasiswi akuntansi, aku tergila-gila sama cocoklogi ๐ฃ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ๐ค๐ฆ-๐ฃ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ๐ค๐ฆ-an.
Namun, mungkin aku hanya malu karena pernah memuntahi Zidan waktu maag-ku kambuh dan dia malah mendekat. Zidan nggak marah, tapi, keenggananku berurusan dengannya awet hingga sekarang.
Ngomong-ngomong soal maag, sekarang perutku terasa perih.
Revisianku belum kelar. Seisi kantor sudah melompong. Jam di ujung layar komputer menampakkan pukul sembilan kurang lima menit. Kurutuki ketololanku. Menyesap kopi tanpa sarapan, melahap seporsi bakso bergelimang sambal guna membakar emosi, dan pukul segini belum makan malam. Jelas kambuh.
๐๐ฐ๐ถ๐ค๐ฉ obatku hanya membuatku mengerang. Stok obat maag habis, sementara perih di ulu hati semakin sadis. Hanya sanggup kutengkurapi meja, berharap nyerinya lekas-lekas mereda.
Terdengar suara Zidan, โKenapa, Nal?โ
Nggak ada energi buat mengangkat muka. โMaag kambuh.โ
โUdah makan malem?โ Napasnya menyapu tengkuk dan punggungku.
Ketiadaan jawabanku mungkin membuat Zidan menyerah. Terdengar decit roda menggesek lantai. Hilangnya hawa kehadirannya di dekatku membuatku mendongak, demi kecewa menemukannya telah duduk di kursi dari kubikel Han sambil mengutak-atik ponsel.
Kemudian dia bangkit dan beranjak pergi. Meninggalkanku yang bebas merintih akibat tusukan di ulu hati. Entah sudah berapa lama aku berada dalam situasi demikian, hingga bunyi langkah kembali terdengar disusul suaranya.
โNala, ada air anget sama obat. Terus makan, ya, udah gue ๐๐ถ๐ง๐ฐ๐ฐ๐ฅ-in nasi ayam.โ
Kata-katanya yang lembut membuatku mengangkat muka. Di hadapanku terhidang segelas besar air, se-strip obat pereda-asam-lambung yang biasa kuminum, dan sekotak katering.
Semenit berlalu usai menenggak obat, akhirnya perutku meringan, kewarasanku pun mendingan. Aku sudah percaya Zidan akan memandangku penuh ejekan, tapi yang kutangkap dari sorot matanya hanya kekhawatiran.
โUdah redaan nyerinya?โ Didorongnya kotak katering mendekati lenganku. โDimakan.โ
Mataku menyipit. โLo punya maksud apa, Dan? Lo suka gue?โ
Zidan tampak salah tingkah. โGimana?โ Kekehnya. โKalo udah galak lagi berarti udah pulih, ya? Punya maag tuh, dijaga makannya.โ
Omelannya yang halus malah membuatku tambah bingung. โAtau lo mau ngeracunin gue?โ
Sudut bibir Zidan berkedut. โCuma tinggal gue, lo, sama Pak Andi doang di kantor. Kalo mau ngeracunin, mending pas rame biar nggak langsung dituduh. Makan, daripada mikir aneh-aneh.โ
Aku masih curiga dia punya intensi lain dengan berlagak baik, jadi kusembur dengan sadis, โLo mau gue muntahin lagi, Dan?โ
Yang membuatku terkejut, Zidan malah bangkit dan mendekat dengan sorot khawatir. โIya, gue suka lo, Nala. Tapi lo beneran mau muntah? Kalo mau muntah bilang aja, gue anterin ke kamar mandi. Omong-omong, jidat lo tadi nggak apa-apa?โ
๐ข๐ฎ๐ต๐ฎ๐ผ๐ช๐ฒ
850 kata
๐๐๐ญ๐๐ญ๐๐ง ๐๐๐ค๐ข
ยน debt to equity ratio: rasio keuangan suatu perusahaan dengan membandingkan jumlah utang perusahaan dengan modal miliknya.
ยฒ return of investment: perhitungan laba bersih yang didapatkan dari nominal uang investasi yang sudah dikeluarkan.
ยณ palindrom: kata yang bisa dibaca dari dua arah (dalam sistem palindrom sesungguhnya, sebetulnya itu hanya satu kata yang sama, misalnya Kasur Rusak. Dalam cerita ini, palindromnya adalah Alan Nala).
Prompt kata dalam kotak: Intent
Genre: Romance-Comedy; Metropop
