Prompt: Poker
Jumlah Kata: 450
BUTUH BANYAK MODAL UNTUK BERJUDI. Dan, jika kau melihat meja di ujung, yang dilingkari empat manusia berwajah frustrasi, ketahuilah. Mereka adalah orang-orang yang kehabisan modal berupa waktu, tanpa mendapatkan apa-apa dari permainan.
Orang-orang di sini menyebutnya meja kekalahan. Meja ratapan. Meja para pecundang.
Sementara pancaran lelampu yang membanjiri meja-meja, meja di sudut harus kenyang berenang dalam bayang-bayang. Bahkan bartender menyerahkan minuman pada mereka dengan kasar. Gelas dibanting hingga nyaris pecah. Minuman di dalamnya bergolak sampai sebagian tumpah. Pelayanan dilakukan sambil marah-marah.
Akan tetapi, para pecundang tidak diperkenankan murka. Mereka pun sadar, sebagai orang-orang gagal di mata dunia, mereka pantas menerima perlakuan dan tatapan miring. Yang ingin mereka lakukan hanyalah berkeluh kesah; sekalipun itu diselipi lontaran tatapan iri pada meja yang bersepuh privilese nan mewah dan megah.
“Jadi, apa yang membuat kalian terjebak di sini?”
Adri, orang pertama yang buka suara usai menenggak minuman dan mengelap air mata. Ia tampak lebih tua dari ketiga lainnya; si paling tua. Ketuaan yang dilukis oleh stres bertahun-tahun.
“Kau tahu …,”
Sarah bersuara di tengah kesadaran yang mulai hilang-timbul. Kepalanya terkulai lemas di atas meja berisi kartu-kartu kesialan.
“Kupertaruhkan lima tahunku demi pendidikan. Tapi, yang kuperoleh malah drop out beserta tumpukan utang.”
“Kau sih masih mending,” sela David, si pemuda, didorong hasrat mengadu nasib buruk, siapa yang paling dibuat menderita.
“Kukorbankan sepuluh tahunku, energi, bahkan masa muda, untuk hubungan yang berakhir sia-sia. Sepuluh tahun …”
Ia mendesah. Lapisan kaca di matanya bersiap-siap pecah.
“Pacarku menikahi orang lain. Sepuluh tahun aku menjagai jodoh orang.”
Kemudian, ia larut dalam isak tangis tak berujung.
Diana, wanita di samping David, terdorong menepuk-nepuk pundak si pemuda tuna-asmara. Tiba gilirannya bercerita.
“Aku mempertaruhkan segalanya untuk keluargaku,” katanya perlahan.
“Lima belas tahunku yang malang. Aku mengundurkan diri dari pekerjaan yang susah kuperoleh, demi menikah. Namun, suamiku mencampakkanku dengan berselingkuh. Kurawat anakku sepenuh hati, mengorbankan segenap waktuku untuk mereka. Tapi, mereka memilih suamiku. Aku dibuang, akulah si paling pecundang.”
David dan Sarah seketika dibuat bungkam. Mereka tahu dalam peraduan nasib buruk ini, mereka bukanlah apa-apa dibandingkan Diana.
Waktu bergulir. Gedebukan musik di seberang beserta huru-hara dan hura-hura para pemenang, sejenak mencuri atensi ketiganya selagi menanti giliran selanjutnya.
Akan tetapi, tak kunjung ada kalimat terlontar dari Adri. Serempak mereka mengangkat wajah, memberi isyarat pada Adri berkisah tentang kekalahannya.
Adri, akhirnya melunturkan senyum pedih yang sedari tadi menggelantungi rautnya yang dihinggapi keriput kelelahan.
“Jujur, aku malu menceritakan ini. Kehidupanku adalah taruhan besar.”
Kedua tangannya bertemu di atas meja.
“Aku bekerja tanpa henti, mempertaruhkan kesehatan dan kebahagiaanku demi karier yang seolah tidak ada ujungnya.”
Ia mengangkat bahu.
“Namun, setelah pengrobananku selama lebih dari dua dekade, kini aku tak memiliki apa-apa. Karierku lenyap. Aku bangkrut. Istri dan anakku pergi, tidak sudi mengurusiku yang didiagnosa mengidap penyakit mematikan.”
