Obscura


𝙿𝚛𝚘𝚖𝚙𝚝 𝚝𝚎𝚛𝚙𝚒𝚕𝚒𝚑: ‘𝙸𝚜 𝙼𝚢 𝚂𝚘𝚞𝚕 𝚃𝚘𝚘 𝙳𝚊𝚛𝚔 𝙵𝚘𝚛 𝚈𝚘𝚞?’

𝑷𝒆𝒓𝒊𝒏𝒈𝒂𝒕𝒂𝒏!

𝑪𝒆𝒓𝒊𝒕𝒂 𝒊𝒏𝒊, 𝒆𝒓𝒓𝒓, 𝒂𝒈𝒂𝒌 𝒑𝒂𝒏𝒋𝒂𝒏𝒈. 𝟑𝟓𝟎𝟎+ 𝒌𝒂𝒕𝒂.

DI HUTAN, POHON-POHON TUA LAKSANA barikade bisu. Memagari eksistensi Jian Kai dari keriuhan di tengah peradaban. Sudah dua bulan ia bertahan, mengakrabi kesunyian yang menyelubungi bagai selimut musim dingin. Setiap akar yang mencengkeram tanah, ranting yang menjulur ke langit, hingga daun-daun yang luruh di musim ini, sepertinya telah mulai memahami rahasianya.

Sampai suatu hari, 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘪𝘵𝘶 datang. Kedatangannya membabat kesunyian yang sebelumnya terasa sedekat nadi. Di tangannya terjinjing keranjang berisi teh herbal dan makan siang. Di wajahnya tersembul senyum yang tak kalah ringan dari embun di pucuk daun.

“Halo, aku Lan Yin. Ayahku memintaku mengantarkan minuman untukmu.”

Kai bergeming. Dari tempat bersilanya dalam pertapaan harian di atas batu besar yang mencuat, hanya matanya yang membuka sedikit. Sekilas ia menghunus gadis itu dengan tatapan dingin dan tajam. Layaknya bilah es yang tak mengenal musim semi. Dalam penglihatan batiniahnya, gadis di hadapannya itu serupa kabut di pagi hari. Bercahaya, tetapi tipis dan rapuh.

“Siapa ayahmu?” tanyanya pendek, layaknya sang hakim yang menuntut kejujuran tanpa perlu basa-basi.

Lan Yin tidak terusik sedikit pun oleh nada yang jelas tak ramah. Sebaliknya, senyumnya malah kian melebar. Dengan tenang, ia duduk di atas batu lainnya dan menurunkan keranjang. Tangannya mulai menuang teh dari poci ke dalam cangkir porselen.

“Lan Zhi.” Nama itu dilafalkan serupa kata sandi yang bisa menaklukkan pertanyaan barusan. Lantas, cangkir dengan tatakan disodorkannya tanpa ragu. “Minumlah.”

Kai memejamkan mata lagi. Menutup akses antara keduanya dengan defensif. “Aku tidak menerima makanan atau minuman dari siapa pun.” Nada suaranya masih dingin. Lalu, setelah jeda yang sengaja dibuat panjang, ia menambahkan, “Kecuali dari Lan Zhi.”

Terdengar bunyi dengkusan dan hentakan kaki. Kai terpaksa membuka mata lagi, hanya untuk mendapati Lan Yin telah berdiri dengan tangan berkacak pinggang. Senyumnya pudar. Sorot matanya menyala nyalang, mengintensikan kejengkelan. Cahaya musim gugur ikut berpendar di irisnya, membuat warna bola mata gadis itu tampak sewarna tanah basah.

“Sudah kubilang, aku ini putri Lan Zhi!” tukasnya.

“Kau 𝘱𝘶𝘵𝘳𝘪 Lan Zhi. Bukan Lan Zhi.”

“Oh, terserahlah!” Lan Yin kembali menjatuhkan dirinya ke atas batu. Mata cokelatnya yang terang berputar malas, seolah sudah jenuh menghadapi sikap Kai yang terlampau kaku. Namun, jika Jian Kai keras kepala, Lan Yin pun jelas tak akan kalah.

“Begini saja.” Suara gadis itu lebih ringan, tetapi terkesan penuh ancaman. Senyumnya turut kembali ke rautnya yang cerah. Kali ini tampak disepuh kesan seram. “Kalau kau tidak mau minum, biar kutuang saja tehnya ke tanah. Lalu, aku akan pulang dan bilang pada ayahku kalau kau sudah meminumnya. Toh, bukan aku yang rugi, ‘kan?”

Mata Jian Kai membuka penuh sekarang. Ia menatap gadis itu dengan tercengang. Ada sesuatu dalam sikap Lan Yin yang—anehnya—terasa familiar. Gadis ini memang benar putri Lan Zhi. Kekerasan hatinya, keteguhan yang menyelusup dalam setiap kata dan tindakan, itu persis ayahnya. Kini Jian Kai percaya, tabiat lebih dari sekadar bentukan kehidupan. Ia warisan darah. Sikap yang tumbuh seperti pohon: mengakar, kukuh, dan tak mudah dirobohkan.

✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏

Jian Kai pertama kali tiba di desa tanpa rencana, dua bulan yang lalu. Tubuhnya tergeletak di pinggir jalan bagai onggokan benda tak berguna—kesakitan, kepayahan, porak poranda, terlipat di antara semak dan ilalang basah.

Lalu Lan Zhi, sang kepala desa, menemukannya dan memutuskan bahwa hidup 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 belum boleh berakhir di sana. Maka, Jian Kai dibawanya ke balai, diberi tempat berteduh di suatu gubuk warga yang tak lagi berpenghuni.

Pada malam ketika tubuhnya sudah sedikit pulih, akhirnya Jian Kai mengungkapkan apa yang seharusnya tak pernah ia kisahkan kepada siapa pun. Hanya karena Lan Zhi bersikeras. Hanya karena lelaki tua itu kukuh menolak membiarkannya pergi, setelah tahu Jian Kai tak punya tempat pulang. 

Jian Kai berkisah bahwa: dirinya adalah pengelana dengan jiwa yang sudah tercemar. Ia pernah mencuri kekuatan dan kedigdayaan dengan cara yang keliru. Akibatnya, kini ia hidup menanggung segala konsekuensi. Kuasa gelap telah menyusup ke dalam dirinya, memudarkan nurani dan merongrong kewarasan. Dan, setiap kali purnama tiba, tubuhnya bukan lagi miliknya. Ia berubah menjadi predator, menyerang siapa pun yang cukup malang untuk berada di dekatnya. 

Yang paling penting adalah ancaman dari sang entitas kelam yang menguasainya: 

“𝘒𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩. 𝘈𝘱𝘢𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘳, 𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶𝘩𝘢𝘯𝘤𝘶𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘴𝘢𝘭.”

Namun, alih-alih ketakutan, Lan Zhi hanya menguap panjang setelah mendengar cerita itu. 

“Baiklah,” gumamnya. Seolah keseluruhan ancaman dalam cerita Kai merupakan hal sepele. “Akan kuberikan kau tempat di hutan. Warga desa tak akan kubiarkan mengganggumu, jadi kau bisa hidup dengan tenang. Tapi aku sendiri akan datang memeriksa tiap pagi. Istriku sering memasak banyak, kau tahu?” 

Dan, memang demikian adanya. Selama beberapa hari, Lan Zhi rutin berkunjung. Membawa teh herbal dan makanan setiap hari. Namun, lambat laun, intensitas kunjungan itu berkurang. Dari setiap pagi, menjadi tiga hari sekali, hingga akhirnya hanya sepekan sekali.

“Kau baik-baik saja, ‘kan?” tanya Lan Zhi suatu hari. Retoris. Ia memberi alasan bahwa Jian Kai lebih kuat dari yang diduga, dan teh herbal buatannya cukup ampuh menjaga tubuh serta pikiran Jian Kai lebih lama. “Karena itu, kupikir aku tidak perlu berkunjung sering-sering.”

Yang tidak bisa diterima Jian Kai adalah delegasi baru yang datang hari ini. 

Lan Zhi mengutus putri bungsunya untuk menggantikannya. Bagi Jian Kai, ini terasa seperti pengkhianatan. Ia baru mulai membiarkan dirinya percaya bahwa ia mungkin memiliki teman. Atau mungkin figur ayah yang tidak pernah ia miliki. Seseorang yang ia izinkan menembus sunyi yang selama ini mengungkung hidupnya.

Sekarang, harapan itu pupus. Ia merasa seperti terbuang. Kepercayaan yang baru saja coba ia tumbuhkan, harus ia telan kembali bulat-bulat, seperti racun yang memaksa masuk tanpa pilihan. 

✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏

“Ayahku sibuk.”

Suara Lan Yin meluncur. Mengungkapkan alasan mengapa ayahnya tidak bisa datang sendiri. Seolah tahu betul badai apa yang merundung Jian Kai; kecamuk apa yang tengah coba diredamnya; apa-apa yang menyebabkan pemuda itu menolak menyambut segala percakapan yang coba dibuka olehnya.

“Ada banyak warga yang membutuhkan kehadirannya, kebijaksanaannya, keputusannya. Ada banyak urusan di tempat kami yang memerlukan tangannya. Di sisi lain, Ibuku mengandung lagi—ya, memang menyebalkan memiliki adik di usiaku yang kedelapan belas ini, setelah satu dekade lebih akulah yang menjadi si bungsu. Tetapi bukan itu yang kukhawatirkan. Aku mengkhawatirkan kesehatan ibuku. Ia sudah tidak muda lagi.”

Seolah-olah baru tersadar bahwa ia menyerocos melewati batas, Lan Yin tersipu sejenak.

”Dengan kata lain, ayahku sudah cukup pusing tanpa perlu bertandang kemari. Kuharap kau—err, bisa memahaminya.”

Kata-kata Lan Yin menggarisbawahi banyak poin yang menyalakan pucuk api pemahaman Jian Kai. Pertama, Lan Zhi bukanlah ayahnya, sekalipun alam bawah sadar Jian Kai mungkin menganggapnya demikian. Pria itu sesosok kepala desa. Jelas ia perlu memberikan bantuan kepada siapa pun, tanpa terkecuali. Kedua, kemungkinan, Lan Yin diutus kemari, karena Lan Zhi tahu putri bungsunya memerlukan pelampiasan kejengkelennya. Ketiga, ada kepercayaan yang disematkan Lan Zhi padanya, bahwa Jian Kai takkan menyakiti putrinya. Dan, bukankah ini strata kepercayaan tertinggi yang bisa diterimanya dari seseorang yang dianggapnya sahabat?

Lalu, kelima. Sejak kapan ia merasa bahwa seorang manusia adalah miliknya?

“Aku sudah dengar kondisimu dari Ayahku,” imbuh Lan Yin, tanpa menunggu balasan verbal dari Jian Kai.

Kalimat itulah yang membuat Jian Kai mengangkat wajah. Ia memandang Lan Yin, heran bercampur bingung. Yang menjadi persoalan kini adalah, mengapa Lan Yin tetap memilih menyanggupi beban, untuk mengunjungi seorang pria yang memikul kutukan di tubuhnya, setelah mengetahui kebenaran? Apa yang ia cari? Tidakkah seharusnya ia takut?

Akhirnya, terbitlah kalimat pertama Jian Kai setelah berpuluh-puluh menit menjaga mulutnya tetap berada dalam satu garis lurus yang tertutup. “Tidakkah kau takut? Aku bisa menyakitimu kapan saja.”

Gadis itu tiba-tiba tersenyum. Cerah, seperti sinar matahari yang berhasil menembus celah gelap dalam rerimbunan hutan. Yang tanpa sadar, tanpa sengaja, menghidupkan asa kecil yang mengusik ketenangan Kai.

”Ayahku mengajari kami untuk mengasihi seluruh makhluk hidup, tanpa terkecuali.”

✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏

Hutan yang merangkul Jian Kai kini tidak lagi sepi. Sejak kedatangan Lan Yin, kesunyian yang selama ini menjadi teman setianya tergusur. Gadis itu menyusup ke dalam sana menjadi bagian dari kesatuan rutinitas baru; serupa cahaya lembut musim semi yang menembus celah-celah ranting tua, lantas menghangatkan belantara yang seharusnya dingin dan gulita.

Hari demi hari, percakapan kecil di antara mereka mulai menumbuhkan kepercayaan, laksana tunas-tunas yang menyembul dari tanah basah. Obrolan itu mungkin remeh dan sesekali, tetapi setiap kata seolah memiliki bobot yang berat bagi Jian Kai. Layaknya kerikil yang dilempar untuk mengoyak permukaan danau nan tenang. Kemudian membentuk riak yang menggetarkan hingga ke dasar.

“Kau tahu,” kata Lan Yin suatu ketika, sambil mengaduk teh herbalnya dengan sendok kecil, “hutan ini memiliki banyak keajaiban. Setiap pohonnya berkisah seputar kehidupan yang saling terhubung.”

Kai menatapnya, ingin tahunya terpantik. Ada kebijaksanaan dalam setiap ungkapan Lan Yin. Mungkin karena tumbuh dalam didikan ayahnya, gadis itu mampu melihat sesuatu yang tidak bisa semua orang saksikan. “Kau percaya pohon-pohon bisa berbicara?”

“Pohon tidak hanya berbicara, Kai,” jawab Lan Yin, seraya melirik sebatang pohon besar di dekat mereka. “Mereka mendengarkan, merasakan, dan memberi kita pelajaran. Seperti kita, mereka juga mengalami kegelapan dan terang.”

𝘒𝘦𝘨𝘦𝘭𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨. Jian Kai termangu. Dua hal yang selalu berdampingan dalam hidupnya—hidup siapa saja. Akan tetapi, ia lebih memilih untuk bersembunyi dalam bayang-bayang, menyingkir dari cahaya yang menawarkan harapan. “Tetapi tidak seperti kita, mereka tidak bisa menutup telinga dan menolak mendengar,” gumamnya.

“Untuk apa menutup telinga? Justru, kita harus belajar dari mereka. Cara untuk mendengarkan lebih jauh, suara yang tidak bisa didengarkan orang lain. Suara hati kita sendiri,” balas Lan Yin. Ia tersenyum, senyumnya secerah sinar matahari yang menembus celah-celah ranting. “Mungkin kau merasa terjebak dalam kegelapan, Kai. Tapi percayalah padaku. Di dalam diri kita, selalu ada cahaya yang menunggu untuk dinyalakan.”

Kata-kata itu menyentuh bagian terdalam dari Jian Kai. Ada denyut dalam jiwanya yang lama terperangkap dalam jeratan rasa bersalah dan penyesalan. Di hadapan Lan Yin, mungkinkah akan datang, secercah harapan yang tidak ingin ia abaikan?

“Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa.” Ia menggeleng, lebih kepada dirinya sendiri. “Ketika purnama tiba—bahkan kapan saja, hal-hal bisa berubah. Aku bisa menjadi monster lagi.” 𝘋𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘩𝘢𝘳𝘪, 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘪𝘨𝘦𝘳𝘰𝘨𝘰𝘵𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮, imbuhnya dalam hati.

Lan Yin memandangnya lekat. Alih-alih menjauh, gadis itu mengeliminasi jarak. Bayang-bayang mereka yang jatuh di tanah menyatu. “Kau mungkin merasa terperangkap. Tetapi ingatlah, kau tidak sendirian. Kita semua memperjuangkan minimal satu hal dalam hidup. Dan ada banyak hal di dalam diri kita, juga di luar sana, yang akan membantu. Termasuk alam. Hanya jika kita ingin dijangkau dan menjangkaunya.”

Jian Kai bersikukuh agar tidak terhanyut dalam sesuatu yang membelainya, dari dalam dua manik cokelat yang menatapnya. “Jangkauan itu akan terasa sulit jika apa yang kau jangkau adalah sesuatu yang ingin kau hindari.”

“Maka, kita akan mencari jalan lain,” sahut Lan Yin penuh percaya diri. “Ada banyak cara untuk mengatasi ketakutan. Aku percaya kita bisa melakukannya bersama.”

Jian Kai berkedip halus. Satu kalimat itu, seperti mantra yang meruntuhkan barikade. Terembus dan menembus ke kedalaman jiwanya. Mungkin ia tidak sepenuhnya meyakini, tetapi ada keinginan yang mulai tumbuh. Keinginan untuk mencoba, untuk berjuang, demi sesuatu yang lebih baik. Ia pun ingin percaya, dirinya tidak sekelam yang ia sangka.

✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏

Sejak hari itu, Lan Yin tidak pernah berhenti datang, dua hari sekali. Setiap pertemuan menjadi sebuah tradisi yang meneguhkan jalinan. Ia membawa segenggam cerita, tawa, dan harapan. Membuat Jian Kai, dalam ketidakpastiannya, berusaha membuka hati sedikit demi sedikit.

Di bawah bentangan kubah alam, mereka saling belajar. Tentang mendengarkan. Tentang keberanian. Tentang cahaya dan kegelapan. Tentang kasih yang tidak bersyarat. Dan tentang arti hidup, yang lebih dalam dari sekadar bertahan.

Tanpa sadar, Lan Yin adalah sinar matahari pagi yang menyapa dedaunan setelah malam sukses tergusur. Jian Kai menjadi percaya, bahwa pagi itu pasti. 𝘗𝘢𝘨𝘪-nya, pun.

Hari ini, Lan Yin menambahkan bawaannya dengan manisan jeruk yang, berdasarkan pengakuannya, dibuat atas inisiatifnya sendiri.

“Ambillah. Aku tahu kau bilang tidak suka yang manis, tapi setidaknya coba sekali seumur hidup,” katanya, matanya berkilau penuh harap.

Kai menatap manisan itu dengan alis berkerut, skeptis. “Manis hanya membuatmu menginginkan lebih.”

Lan Yin hanya tersenyum, senyum yang mengisyaratkan kebijaksanaan di balik wajahnya yang ceria. “Di sisi lain, rasa manis bisa mengurangi rasa sakit. Ayolah. Atau, mau kusuap saja?”

Jian Kai mendengkus, tapi pada akhirnya ia jumput juga sepotong manisan itu. Rasanya aneh. Manis, tetapi menyisakan pahit di ujung lidah. Seperti kebahagiaan yang datang dengan harga yang harus dibayar.

“Ngomong-ngomong,” Lan Yin melanjutkan, suaranya sehalus gemericik air di sungai dangkal, “hutan ini tidak sekelam yang kukira.” Ia menatap sekeliling. Mengabsen satu-satu pepohonan tua yang berdiri angkuh, dengan masing-masingnya mengandung kisah individual untuk digali.

Jian Kai menimpali dengan senyum samar. “Kekelaman dan kegelapan selalu menunggu. Ia sabar. Hanya perlu waktu sebelum tangannya menyelimuti segala sesuatu yang ada.”

Lan Yin tertawa kecil, tawa yang ceria seperti denting lonceng di pagi hari. “Tapi aku tak melihat kegelapan saat bersamamu, Kai. Yang kulihat, hanya seorang pria yang berusaha menyelamatkan apa yang tersisa dari dirinya.”

Kata-kata itu, menghujam langsung ke dalam hati Jian Kai. Bagaimana mungkin seseorang bisa melihat terang di dalam dirinya, ketika ia sendiri sudah lama menyerah mencarinya?

𝘉𝘰𝘭𝘦𝘩𝘬𝘢𝘩 … 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩𝘬𝘢𝘩 𝘪𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱?

Namun, saat Lan Yin pergi, Kai merasakan hutan kembali tenggelam dalam bayangan. Kehadiran gadis itu, yang sejenak membawa cahaya ke dalam hidupnya, justru semakin memperkuat kontras antara terang dan gelap dalam dirinya.

Lan Yin adalah bulan di malam-malam panjangnya. Indah, tetapi tak abadi. Dan ia tahu satu hal: semakin terang suatu cahaya, semakin tinggi potensinya untuk membakar. Sementara salah satu ketakutan terbesarnya adalah menjadi abu dalam pelukannya, usai sejenak menyicipi rasanya bercahaya.

✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏

Langit bergumulan gumpalan awan kelabu ketika seorang lelaki tua berbusana biksu melangkah masuk ke tengah hutan. Pria tua itu tampak seperti badai berjalan. Tatapannya berat. Langkah kakinya di antara serakan dedaunan kering menghujam, bagai petir yang membabat kesunyian.

Dari kejauhan, ia mengamati pelataran gubuk reyot tempat tinggal Jian Kai. Sementara sang pemilik ada di sana, tengah mendengarkan celotehan ceria Lan Yin yang tidak ada habis-habisnya.

Merasakan perubahan atmosfer yang tak biasa, Jian Kai menoleh. Tatapannya berserobok dengan tatapan sang biksu. Seketika itu juga, Lan Yin menghentikan aliran kata-katanya, menggiring atensinya ikut terfokus pada pada yang menjadi penyebab dari distraksi kebersamaan mereka.

Pria tua itu akhirnya mendekat dengan langkah cepat, bagai sambaran mata petir. Mungkin karena merasa eksistensinya ketahuan, hingga sekalian saja ia memunculkan diri. Di sisi lain, Lan Yin bersikap seolah pahlawan, bersiap melindungi Jian Kai dengan tubuh mungilnya.

Jian Kai sendiri kebingungan. Meski ia bisa melihat dengan mata fisiknya perihal keberadaan sosok itu, jiwanya tidak mampu mendeteksi energi kehadiran sang biksu. Sosok itu bagai kabut di pandangan batinnya. Gelap dan terang bercampur tanpa kejelasan; tanpa intensi yang dapat ia tangkap.

Kai masih termangu ketika sang biksu berkata tegas, begitu tiba-tiba, “Kau harus pergi dari sini!” Tak ia hiraukan Lan Yin yang berdiri menghadangnya. “Kutukan itu semakin kuat. Semakin dekat kau dengan terang, semakin cepat kegelapan dalam dirimu bangkit.”

Lan Yin memelototi sang biksu. Tangannya menyambar tangan Kai dalam genggaman erat, seolah bermaksud mentransfer keteguhannya. “Apa? Siapa kau?! Apa hakmu mengusir Kai dari sini?”

Namun pria tua itu tidak goyah, tidak pula teralihkan. Ia hanya melanjutkan, “Bukan hanya kau yang akan hancur, Jian Kai. Dia juga. Terang yang terlalu lama berdampingan dengan gelap, akan pudar dan padam perlahan. Kuharap kau tidak lupa apa yang terjadi sebelumnya.”

𝘈𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮𝘯𝘺𝘢.

Kata-kata itu menancapi jantung Kai. Kini setiap harapan yang mulai ia semai bersama Lan Yin terasa menguap di udara. Kebenaran yang tak bisa ia elakkan kini berdiri di hadapannya, benderang dalam segenap kegelapan. Memintanya untuk selamanya membuka mata dan tidak lagi terjebak dalam asa yang semu semata.

“Aku tidak mengerti apa katamu, tapi biar kuluruskan satu hal, Biksu,” Lan Yin membalas dengan suara lantang. “Aku teman Kai. Aku tidak peduli pada ancamanmu, selama aku masih bisa berteman dengan Kai.”

Sang biksu melirik gadis itu sepintas. Kelebatan kilat muncul di kedua matanya, sebelum ia menepuk pundak Jian Kai. “Selalu ingat kata-kataku.”

Kemudian, ia berlalu pergi. Meninggalkan Lan Yin yang berseru-seru kesal, dan Jian Kai yang berdiri bungkam tanpa bisa menerbitkan balasan sepatah pun.

✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏

Kai tahu, ‘momen itu’ berpotensi tiba kapan saja. Ia hanya tidak menduga kedatangannya secepat ini. Yang paling tidak diinginkannya adalah kegelapan dalam dirinya meletup ganas saat ia bersama Lan Yin.

Kali ini, tubuhnya basah oleh keringat. Napasnya memburu. Tangannya gemetar, seperti daun tertiup deru angin musim gugur. Semua itu upaya yang sia-sia untuk mengendalikan diri, di tengah desakan kekuatan yang hendak melonjak keluar dan ingin mengambil alih kesadarannya.

Lalu hal yang lebih tidak dikehendakinya terjadi: Lan Yin berlari ke sisinya. “Ada apa, Kai?” tanyanya. Suaranya lembut, tetapi penuh keprihatinan.

“Pergi!” teriak Jian Kai. Parau oleh frustrasi dan keputusasaan. “Aku tidak bisa—tidak bisa menahannya lagi!”

Namun, Lan Yin pantang mundur. Ia berdiri di depan Kai, mengulurkan tangan. Seakan ia yakin dan ingin, dirinya menjadi penyejuk di tengah badai yang sementara bergolak.

“Kai,” bibirnya berbisik semerdu desau angin, “aku di sini. Aku tetap di sini.”

Sementara suara-suara di kepala Jian Kai berteriak, mendesaknya untuk lekas menghancurkan. Untuk membabat. Untuk menelan terang yang bermukim di hadapannya.

Tangannya hampir terangkat, pedangnya bergetar oleh gemetar yang timbul dari genggamannya sendiri.

Alih-alih mundur, Lan Yin malah menyambarnya dalam satu pelukan erat. Seakan-akan tengah berusaha menyatukan kembali jiwa Jian Kai yang hampir lebur ke udara.

Namun, rasa sakit dalam diri Jian Kai semakin menggila. Pemuda itu mengerang. Daya pertahanannya melemah. Dan, desakan itu tak lagi terhindarkan.

Desing pedang yang terhunus pun menyayat malam. Bercahaya bagai kilatan mata petir.

Saat pandangannya mulai kembali pulih, ia terkejut demi apa yang di hadapannya: kepala Lan Yin tergeletak di kakinya, darahnya menggenangi tanah, dan tubuh gadis itu terkulai tanpa daya.

Jian Kai jatuh terisap gravitasi. Lututnya terkubur tanah basah. Petir melintas di langit kelam, bergema bersama gegap tawa gelap dalam kepalanya.

Kemudian Jian Kai dihisap spiral kegelapan yang misterius. Ketika ia membuka mata, ia mendapati dirinya terbaring di atas dipan. Tubuhnya bersimbah oleh keringatnya sendiri.

Di luar, hujan menggelontor lebat. Petir menyalak-nyalak, tetapi Lan Yin tak ada di sana. Tidak ada Lan Yin di mana-mana. Napas Jian Kai tersengal, kepala dan matanya dikuasai rasa sakit.

Mimpi. Syukurlah, ini hanya mimpi. Lan Yin tidak mungkin di sini. Seharusnya gadis itu tengah tidur nyenyak di kediaman mereka, dikelilingi ayah, ibu, dan mungkin kakak-kakaknya. Namun, Jian Kai tahu, ini adalah ultimatum dari alam. Peringatan yang menyusuli kata-kata sang biksu. Bahwa cepat atau lambat, langsung atau tidak, Jian Kai akan menyakiti Lan Yin.

Seperti yang telah dilakukannya pada Mei Ling, Xiao Yue, dan Zhen Ning. Ketiga sosok yang tak akan pernah bisa terhapus dari memorinya, seberapa getol pun ia mengusahakannya. Mereka adalah tumbal dalam upaya pemberontakan terhadap kutukan ini, hingga semuanya berakhir mengenaskan oleh tangannya sendiri.

Jian Kai memandang langit-langit yang bergetar hebat, berusaha mengukuhkan posisinya di tengah terpaan badai di luar. 𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘫𝘪𝘸𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘨𝘦𝘭𝘢𝘱 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘤𝘦𝘳𝘤𝘢𝘩 𝘤𝘢𝘩𝘢𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘚𝘦𝘮𝘦𝘴𝘵𝘢?

“Apakah jiwaku memang sekelam itu, bagimu?”

Pertanyaannya disambut oleh hunusan kilat disusul gelegar gemuruh, yang menyambar sebuah pohon di ujung hutan. Menyebabkan ketumbangan dan kebakaran kecil lokal di malam itu.

✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏

“Ayah juga ingin menjenguk, tetapi ibumu tidak bisa ditinggal,” cetus Lan Zhi. Ia menutup poci teh dengan hati-hati.

Suara keramik yang bersentuhan selintas mendominasi. Dengan rapi, ia menyusun kotak-kotak makan, masing-masing berisi masakan rumahan buatan sendiri, dalam keranjang rotan yang telah usang.

“Lokasi kebakaran akibat pohon yang tersambar kilat itu agak jauh. Tapi tolong, pastikan ia baik-baik saja.”

“Akan kulakukan, Ayah,” Lan Yin menyahut, berusaha menyembunyikan kecemasannya sendiri di dalam hatinya. Ia menoleh pada ibunya yang duduk terkulai di kursi kayu, lunglai tanpa daya. Wajah wanita itu makin banyak dirambati garis-garis halus. Masa-masa ini mungkin tidaklah mudah baginya. Hamil di usia senja, sungguh perjuangan yang berat.

Lembut, putri bungsunya menunduk, mengecup perut sang ibu yang telah mulai membesar. Ia pun berpamitan keluar, menapak di atas daun-daun

yang berserakan.

Dalam benak mereka, menugaskan Lan Yin untuk mengantarkan makanan ke hutan terasa seperti langkah yang tepat. Seiring waktu berlalu, gadis itu perlahan menemukan kembali keceriaannya yang sempat pudar sebelumnya, seakan-akan cahayanya tertahan di balik carikan awan kelabu. Kejengkelen yang mungkin melingkupinya saat mengetahui akan memiliki adik di usia sekarang kini perlahan sirna. Semua ini karena Jian Kai.

Jika ditanya, tidakkah Lan Zhi takut putrinya akan menghadapi bahaya? Jawabannya tegas, tidak. Ia yang paling menahami, di balik tubuh ringkih khas gadis belia, terdapat kekuatan yang mahadahsyat. Putrinya lebih dari sekadar gadis muda. Dari kedelapan anak-anaknya, yang ketujuhnya sudah tinggal di tempat lain, bungsu itu satu-satunya yang menguasai ilmu yang Lan Zhi ciptakan, bahkan di usia yang masih terbilang amat dini.

Selain itu, ia pun percaya pada Jian Kai. Meski terbelenggu oleh kegelapan yang mengintai, pemuda itu mampu mengendalikan dirinya sendiri; mengalahkan segala ketakutan yang merenggut kedamaiannya.

Di tengah hutan yang senyap dari suara jangkrik yang biasa berkeliaran, Lan Yin tercengang. Ia berharap menemukan Jian Kai, terkurung dalam ketenangan kala duduk bersila di atas batu besar.

Di sanalah tempat di mana pemuda itu duduk bermeditasi saban pagi, dengan mata terpejam dan keanggunan mengikatnya. Lalu Lan Yin akan duduk di batu kecil yang lebih rendah, satu setengah meter dari tempat Jian Kai bertengger, menuang teh dengan penuh ketulusan, mempersiapkan camilan yang dibawanya, membiarkan Jian Kai mendengarkan segala keluh kesahnya tanpa memerlukan respons apa-apa.

Namun, di tempat itu tak ada siapa-siapa. Sunyi. Apa mungkin Jian Kai masih berada di dalam gubuk reyotnya yang tersembunyi?

Langkah kakinya berderak di atas dedaunan kering dan ranting tua, menciptakan simfoni kecil dalam keheningan. Didekatinya pintu kayu yang telah reput itu. Dan diketukkanlah tulang yang menonjol dari sendi gulung pada bagian luar jari-jarinya yang ramping, ke permukaan pintu nan kasar.

Lagi-lagi hanya keheningan yang menyambut.

“Kai?” panggilnya. “Jian Kai? Aku membawakan teh-mu!”

Kecemasan merayap dalam dirinya. Membangkitkan ketaksabaran untuk menunggu jawaban yang tidak kunjung datang. Dalam sekejap, ia mendorong pintu kayu dengan satu dorongan kuat.

Dan ketika pintu terbuka, apa yang dijumpainya hanyalah kelengangan yang menyesakkan. Ruangan itu kosong. Sosok Jian Kai, berikut pertanda akan eksistensinya selama ini, kini tak ada di mana-mana.

𝐒𝐄𝐋𝐄𝐒𝐀𝐈

Tinggalkan komentar