aku ingin hidup dalam kurungan embun,
sekali-kali
meringkuk di balik dinginnya,
bersembunyi dari mata sang rawi
kurungannya adalah kemerdekaan
dari beban
dari sorotan
sebab hanya tahu menetes perlahan,
menggenang di ujung daun,
lalu jatuh tanpa perlu alasan
dalam kurungan embun,
waktu tak perlu diukur,
warna tak perlu disadur,
hanya pagi yang sibuk membiaskan diri,
dan bayang burung ‘kan mampir di sela ranting sunyi
kemudian aku dapat belajar memahami angin,
yang suka datang tanpa janji
dan pergi tanpa permisi
andai segenap rasa bisa jadi embun,
akan kubiarkan ia jatuh berkali-kali,
lalu terserap ke dalam tanah,
untuk menyuburkan apa saja
karena pada akhirnya,
bukankah kita semua hanya butiran kecil,
bersiap lenyap di kecupan pertama mentari?
dan dalam kurungan embun, aku tak perlu kalut
pada hari yang berubah tanpa aba-aba
atau carik masa depan yang abu-abu
sebab, tahukah engkau seperti apa warna ikhlas?
ia bening; purnawarna,
ada, tetapi tidak bisa dileksikonkan
maka aku ingin hidup dalam kurungan embun,
sekali-kali saja,
bersama ketulusan nan semerawang,
bertemankan basah
yang tak akan mengadili
Aku Ingin Embun
