πam tiga dini hari. Ini sudah tidak bisa dibilang malam lagi, karena pagi akan menjelang sebentar pagi. Jam-jam ketelanjangan. Jam-jam keserampangan. Jam-jam di mana hidup yang selama ini ditamengi keriuhan duniawi akhirnya ditelanjangi kesunyian; dikupas satu demi satu oleh otak dalam kegiatan yang dinamakan ππ£πππ‘βππππππ.
Suara detik jam terdengar lebih keras daripada biasanya. Seolah ia sedang berlomba dengan denyut nadi yang enggan tenang. Gelap di luar jendela terasa hanya ilusi. Di dalam kepala, lampu-lampu menyala terang. Menyoroti setiap ingatan, kesalahan, dan kemungkinan.
Kendati mataku kupaksa kembali memejam, di pelupuk membayang siluet menyerupai wajah-wajah yang pernah kukenal. Mereka memanggil-manggil. Bukan dengan suara, melainkan dengan kenangan.
Lantas, terjebaklah aku di antara apa-apa yang pernah terjadi dan yang belum tentu akan terjadi. Otak ini berubah bagai mesin usang yang terus berdengung tanpa henti. Ada pemutaran ulang percakapan yang silap ucap, keputusan yang keliru ditancap, dan kesempatan yang salah tangkap.
πΎπππππ πππ’ ππππππ‘π π πππππ‘π ππ‘π’? π΄ππ π¦πππ π ππππππππ¦π πππ ππππ π’π π€πππ‘π’ ππ‘π’? πΎπππππ πππ’ π‘ππππ ππππππ πππππππππ πππππ π¦πππ πππππππ? π»πππ ππ‘π’, πππππππ πππ’ ππππππβ ππππ, ππππβππ βπππ’π ππ¦π πππ’ ππππππ.
Aku pun ingat kalimat yang termuntahkan terburu-buru, nan akhirnya menutup pintu kemungkinan yang kini terasa bagai kehilangan. Pertanyaan-pertanyaan tak berguna dan tak pernah memiliki jawaban pun berlarian di lorong pikiran, layaknya anak-anak nakal yang pantang berhenti meski telah ditegur berkali-kali.
Jam tiga dini hari memang waktu yang sempurna untuk menjadi hakim atas diri sendiri. Membuka sidang atas hal-hal yang sudah berlalu, yang seharusnya sudah selesai. Membongkar apa yang tidak butuh lagi jawaban, lalu menyerahkan diri pada kekosongan yang justru membuat dada terasa dibeludaki beban.
Kutarik napas. Panjang-panjang. Menahannya di diafragma. Mengembuskannya. Juga panjang-panjang.
Apakah ada gunanya? Mungkin, tidak. Namun, untuk malam iniβatau pagi iniβaku memasrahkan; biarlah otakku bersidang. Barangkali besok aku akan lupa. Atau, semoga saja, besok aku memaafkan.
Jam tiga dini hari. Ini sudah tidak bisa dibilang malam lagi, karena pagi akan menjelang sebentar pagi. Jam-jam ketelanjangan. Jam-jam keserampangan. Jam-jam di mana hidup yang selama ini ditamengi keriuhan duniawi akhirnya ditelanjangi kesunyian; dikupas satu demi satu oleh otak dalam kegiatan yang dinamakan ππ£πππ‘βππππππ.
Kini datang episode berikutnya: apa-apa yang belum terjadi dan belum tentu terjadi. π΅ππππππππ ππππ πππ π‘ππππ πππππ-πππππ ππππ’ππ? π΅ππππππππ ππππ ππππππ π ππππππππ¦π βπππ¦π πππππ’ππ-ππ’ππ? π΅ππππππππ ππππ πππ’ πππππ ππππ, π πππππ‘π π¦πππ π π’ππβ-π π’ππβ? Pikiran ini terus meloncat-loncat bagai bajing, dari skenario buruk ke skenario terburuk. Mungkin memang ia sungguhan sudah berubah menjadi seonggok ππππππππ.
Jam tiga dini hari memang waktu ketika pikiran tidak mengenal belas kasih. Logika dikalahkan ketakutan. Kepercayaan diri dikubur pertanyaan-pertanyaan yang tak perlu ada. Ini jam-jam tanpa pelarian. Sudah terlalu sadar untuk kembali tidur. Agak terlalu asing untuk mencari secuil bising.
Lagi-lagi kucoba menenangkan diri. Tarik napas, buang napas. Mataku nyalang menatap langit-langit kamar, menghitung guratan kecil yang sudah kukenal sejak lama. Akan tetapi, napas yang kutarik malah terasa menyesakkan rongga dada, seperti balon yang terlalu penuh udara. Bayangan-bayangan itu tetap ada. Satu per satu, bertandangan. Malang melintang, membawa:
Penyesalan.
Rasa malu.
Ketakutan.
Dan, entah bagaimana; Rindu.
Sementara jarum jam terus berputar, aku semakin sadar: tengah kulawan musuh yang tidak kasat-mata. Substansinya bukanlah tentang kejadian, orang, masa lalu, atau masa depan. Ini tentang aku melawan diriku sendiri. Memerangi pikiran yang pantang patuh untuk diam, sebab terus mencari lubang kecil untuk menciptakan keraguan.
Jam tiga dini hari. Dunia masih sunyi, tetapi aku malah ribut sendiri. Kutahu rutinitas membuatku akan bangun beberapa jam lagi, memakai topeng wajah yang tampak baik-baik saja, lalu melanjutkan hidup seperti tidak terjadi apa-apa. Namun, kuharap waktu berjalan lebih cepat kali ini, agar aku tidak hanyut dalam pusarannya lebih lama lagi. Ini … sungguh-sungguh bukan aktivitas yang menyenangkan.
ββ .β¦
Fragmen Emosi: Super Cogitatio
