ℐA ADALAH MENDUNG di langit-langitku. Kedatangannya tidak meninggalkan jejak. Yang jelas, membersamainya, aku disapa serpihan memori yang telah berlalu, kekecewaan yang bertalu-talu, kehilangan yang pilu, serta adukan haru dan malu.
Tahu-tahu tangannya sudah menempel di dinding. Meresapkan lembab. Mencipta lumut, juga kerak. Menambahi beban untuk menekan paru-paru setiap kali aku menarik napas. Pelan-pelan, ia turut menginvasi saraf motorik. Mengunci gerakku. Mencegahku melangkah.
Tekanan atmosfer di sekitar akhirnya turut memberat. Suara-suara terempap, seolah datang dari kejauhan. Di tengah arus dunia, aku terjebak dalam kesunyian tunggal. Terkungkung dalam ruang hampa. Tempat laju waktu seolah berhenti dan melunglaikanku sendiri. Detik jam masih berdetak di luar dengan nyaring, tetapi aku malah merasa hening. Dunia bergerak dan berderap, tetapi aku tertinggal dan terjerembab.
Sewaktu mendongak pada langit-langitku, kutangkap tetes-tetes air akhirnya merembes. Ia terus saja jatuh di tempat yang sama. Berulang-ulang. Sampai akhirnya menciptakan genangan. Sungguh, tidak ada amukan badai. Tidak ada jeritan yang terberai. Hanya saja, ketiadaan suara-suara itu, ternyata mencekik dari dalam dan membantai.
Akan tetapi, ketika aku mendengar seseorang menggedor-gedor pintu, aku masih juga tidak beranjak. Sebab, aku tidak tahu mereka siapa. Aku tidak tahu apa yang bisa mereka tawarkan. Jadi, aku tak pernah berani membuka.
Mereka akhirnya bertanya apa yang salah. Sayang, hanya ada satu-satunya jawaban yang menggelantung di ujung lidah:
“Entah.”
Karena benar, aku memang tidak tahu. Selain bahwa ada sesuatu yang salah. Entah kesalahan itu ada padaku, pada sekelilingku, atau dikandung sendiri oleh Sang Kehidupan. Rasanya, seperti mengenakan pakaian yang terlalu sempit, kendati kuyakin ukuran tubuhku masih sama. Bagai berlari di tengah arus dengan telapak kaki tercelup sepatu yang tiba-tiba menggigit; tak nyaman, tetapi tidak bisa pula kutanggalkan. Seperti mataku ditabiri kacamata buram, memudarkan segenap warna dan menyisakan guram.
Secangkir kopi yang kusesap di pagi hari hanya meninggalkan pahit belaka. Cermin yang kupandang, semata-mata memantulkan refleksi ketidaksempurnaan. Sementara suara-suara kecil di kepalaku terus bergaung, “Tidak pernah cukup …. Ini tidak pernah cukup.”
Beberapa kali, aku mencoba melawan. Kusemprot parfum favorit demi membuat udara sekitar menjadi lebih segar. Kubuka tingkap jendela, agar sinar matahari merasuk lebar-lebar. Akan tetapi, aroma yang di masa normalku begitu menenangkan, kini malah membangkitkan rasa mual. Sinar matahari menusuk dalam intensitas yang terlalu tajam, membuat mataku serasa dilontar keping kerakal.
Percobaan memanggil-manggil tidak menjumpai sambutan. 𝐷𝑜𝑝𝑎𝑚𝑖𝑛 menulikan diri. 𝑆𝑒𝑟𝑜𝑡𝑜𝑛𝑖𝑛 terkubur di balik lumut yang berkerak. 𝑂𝑘𝑠𝑖𝑡𝑜𝑠𝑖𝑛 sendiri telah semaput ditenggelamkan sang genangan. Sementara 𝑒𝑛𝑑𝑜𝑟𝑓𝑖𝑛 teronggok lemas di sudut, tak ubahnya lelucon murahan, kehilangan daya sehabis dikoyak-koyak 𝑘𝑜𝑟𝑡𝑖𝑠𝑜𝑙. Hanya satu entitas asing bernama 𝑛𝑜𝑟𝑒𝑝𝑖𝑛𝑒𝑓𝑟𝑖𝑛, yang tahu-tahu muncul, berdiri dalam kecanggungan. Seolah menungguku agar lekas mencari jalan keluar.
Namun, bagaimana bisa kucari jalan keluar, jika yang tersisa adalah misteri yang aku sendiri pun tak tahu bagaimana caranya terisi? Seperti pelukis yang kehabisan warna, yang bisa kulakukan terus-menerus hanya menggores hitam di atas kanvas yang mulai sobek.
Aku berada dalam lingkaran paradoks. Merasa tenggelam, tetapi tetap bisa berdiri. Merasa 𝑚𝑎𝑡𝑖, padahal jantung ini masih berdetak. Aku tidak jatuh, tetapi setiap langkah yang terkayuh terasa seperti menjatuhkan diri. Sekuat apa pun aku berusaha, semua terasa seperti jalan panjang yang sama sekali tak menuju ke mana-mana. Sementara tetesan air semakin banyak. Genangan air semakin naik. Bersiap menenggelamkanku ke antah-berantah.
Sampai sesuatu membisik dari balik sisa-sisa kesadaran. Mungkin keadaan ini tidak akan pernah benar-benar pergi, katanya. Mungkin, ia tidak untuk dilawan atau dihalau, lanjutnya. Barangkali, tugasku adalah duduk bersamanya, sarannya.
Yang harus kulakukan adalah memandangnya tanpa gentar. Mengenalinya seperti seseorang yang lama tak kutemui. Hingga akhirnya, ia berhenti menakutiku. Hingga akhirnya, ia tak lebih dari sekadar perasaan yang singgah, bukan rumah yang menetap. Dalam kemuraman yang ia bawa, ada secercah kesadaran tentang keterbatasanku sebagai manusia. Tentang luka yang perlu diakui, dan sisi-sisi gelap yang perlu didengarkan. Sebab, menolak hanya membuatnya terus tumbuh. Seperti gulma yang semakin liar ketika dicabut paksa.
Maka, kupandang kebocoran yang terus meneteskan air dari langit-langitku itu dengan tatapan pemahaman.
𝑀𝑒𝑛𝑒𝑡𝑒𝑠𝑙𝑎ℎ, 𝑆𝑎𝑦𝑎𝑛𝑔. 𝐾𝑢𝑏𝑖𝑎𝑟𝑘𝑎𝑛 𝑒𝑛𝑔𝑘𝑎𝑢 ℎ𝑎𝑑𝑖𝑟. 𝐾𝑢𝑟𝑒𝑙𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑒𝑛𝑔𝑘𝑎𝑢 𝑑𝑎𝑡𝑎𝑛𝑔 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑚𝑒𝑛𝑐𝑖𝑝𝑡𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑙𝑎𝑢𝑡𝑎𝑛𝑚𝑢 𝑑𝑖 𝑠𝑖𝑛𝑖. 𝑇𝑒𝑛𝑔𝑔𝑒𝑙𝑎𝑚𝑘𝑎𝑛𝑙𝑎ℎ 𝑎𝑘𝑢.
…
…
…
Kemudian …,
…, secara tidak disangka-sangka, genangan yang nyaris melahap seutuh-utuhku malah menjumpai jalan keluar.
Melalui kedua mataku.
Ajaib: justru berkat itulah, segala beban berat yang semula mendesak, akhirnya meledakkan dirinya. Hingga aku bisa kembali, menjemput ketenangan.
── .✦
Fragmen Emosi: Dysphoria
