Kantung Mayat

#MyWords30 • Kantung Mayat
dalam 450 kata
Prompt: Kantung Mayat


Dalam dunia di mana rembulan dan mentari saling berbincang-bincang, bayi-bayi dilahirkan dengan kantung mayat masing-masing.

Awalnya transparan, tipis, rapuh sekali. Menyelubungi diri, untuk dinodai oleh perilaku semasa hidup kelak, yang akan penuh pilihan dan konsekuensi.

Satu-satunya yang akan menyertai insan kala mati.

Semakin berdosa engkau, semakin menebal kantungmu. Jadilah tebal tipisnya kantung mayat penentu tebal-tipisnya amal buruk. Menetapkan penilaian siapa saja manusia yang jauh dari Ilahi.

Anehnya, mereka bisa menilai tebalnya kantung orang lain, tapi tidak untuk kepunyaan sendiri. Sebab itulah, takkan mereka sadari beratnya beban yang dipikul mandiri. Hanya semakin tebal ia, semakin dibicarakanlah engkau. Pada hari yang telah ditentukan, mungkin aib dan rahasia yang tak terucapkan akan terburai untuk dipergunjingkan bersama.

Mereka yang sadar diri mungkin akan menempuhi jalan penipisan. Ada dua cara: pertobatan sungguh-sungguh, atau membayar jasa sedot dosa. Yang pertama cukup sulit jalannya. Hanya manusia spesial yang mungkin bisa memenuhinya. Yang kedua memang instan. Tapi mengaku menggunakannya adalah aib tersendiri.

Apa kau dengar dua wanita yang tengah sibuk berkelahi? Seperti biasanya, akan ada sesi saling mempermasalahkan ukuran kantung mayat satu dengan yang lain.

“Tutup mulut busukmu itu, Ya, Orang Tua Bau Tanah! Cepat-cepatlah taubat. Kau sudah tua. Semakin tua, bukannya semakin tipis kantung mayatmu, malah semakin melebar saja! Tidakkah kau takut nanti susah masuk kuburmu?!”

“Wahai, Anak Bau Kencur! Tidak usahlah perhatikan hidupku! Urusilah kantung mayatmu sendiri! Umur tidak ada yang tahu! Bisa jadi kau mati duluan daripada aku! Minimal malu, masih muda tapi kantung mayatmu sudah setebal itu!”

Hanya ada satu cara mendamaikan pertengkaran perbandingan ketebalan kantung: menemukan yang lebih tebal ukurannya.

Di desa mereka, ada seseorang yang menyatukan semua pendapat. Orang-orang bersepakat, perempuan di Rumah Kenanga adalah pemecah rekor ‘Kantung Mayat Paling Tebal’.

Logis saja menjelaskan bagaimana ia bisa memikul kantung setebal itu di usianya yang baru tiga puluhan. Setiap malam selama masa bugarnya, selalu ada laki-laki berbeda yang memasuki Rumah Kenanga. Perempuan itu pasti menanggung dosa berzina berkali-kali. Tidak heran jika ia dikucilkan; dijadikan potret spesies manusia terburuk yang pernah ada.

“Jangan pernah hidup sepertinya, Nak. Nanti kuburanmu akan terasa sempit. Beban yang kaupikul ke alam sana pun akan berat hingga menyusahkanmu sendiri. Semakin berat bebanmu, semakin busuk bau bangkaimu nanti.”

Sudah tiga bulanan ini, Rumah Kenanga tertutup rapat-rapat. Tidak ada seorang laki-laki pun yang berkunjung lagi.

“Tentu saja, wanita itu sudah sekarat. Kena azab Tuhan. Mengerikan!”

Hingga ketika hari itu tiba, hari di mana terkuak alasan kenapa wanita itu tidak keluar-keluar rumah. Mereka menemukannya tertidur selamanya di atas pembaringan. Ajaibnya, saat ia ditemukan, kantung mayatnya tampak begitu tipis. Begitu bening. Begitu wangi.

Warga desa malah tertawa meremehkan. “Masih sempat juga dia menggunakan bisnis penipisan kantung mayat!” Demikianlah praduga menjadi isu. Tanpa sadar bahwa kalimat itu memompa kantung mereka sendiri, lebih tebal lagi.

Tinggalkan komentar