BU, TITIKMU ADALAH TITIKKU. Dua dekade aku bangun dan tidur bersamamu.
Semikolon
BU, TITIKMU ADALAH TITIKKU. Dua dekade aku bangun dan tidur bersamamu.
SUATU HARI, AKU MENEMUKAN anak-anak dalam tubuh Mak.
SEUMUR HIDUP, SEPERTINYA aku tidak pernah peduli pada nama Mama. Dalam rekaman memoriku, nama itu serupa teman yang pernah kukenal sekali di masa lalu lalu kulupakan lagi karena tidak seberapa penting. Seolah telah diselaputi lumut dan kabut yang timbul saking tidak pernah kukunjungi.
AKU TAHU, ANANDA, konstelasimu tak terbilang jumlahnya. Maka kendati engkau terlahir dari bias sinarku sendiri, bukanlah hakku menuntutmu setia di sini, selalu. Selamanya. Sampai nanti. Sampai mati.
Ada yang layu ... dari dua lingkar yang mendiami rongga matamu ... ketika kita menunggang besi berkarat ...
Tangan waktu yang terus berputar dalam irama konstan menghantarkanku pada dua kata: Enam Bulan. Masa yang kumiliki sampai bom waktu dalam diri meledak dan menghancurkanku sendiri menjadi jutaan serdak-serdak kecil.
Haruskah keibuan seorang ibu hanya dinilai dari kelemah lembutan bagai putri keraton? Oh, tentu tidak!
Seorang gadis kecil ingin mewujudkan mimpinya. Mimpinya tidak muluk-muluk. Ia hanya ingin bisa keluar rumah, memiliki teman, dan membangun boneka salju bersama. Tapi dia tidak boleh. Kemudian, sebuah bantuan datang dari arah yang tidak disangka-sangka.
Qiang Jie kecil menyukai musim dingin, sebab aromanya seperti aroma ibu.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.