Prompt: Mom
Length: 1002 kata
“Mami, aku kena tilang.”
Aku menutup mata, mempersiapkan kuping demi mendengar semburan kalimat sakralnya yang selalu dia pakai dan kuanggap sebagai pernyataan cintanya.
“ANJING BABI ANAK LAKNAT JAHANNAM LU! Lu tuh nggak punya otak kali, ye! Kok ogeb amat jadi manusie! Bisa-bisanye lu kena tangkap!”
Aku cengengesan. Menggaruk kepala yang nggak gatal. Om-om polisi di sampingku sudah melotot garang. Aku lupa bawa dompet, semua surat-surat dan kartu identitas adanya di sana. Kupikir dengan pergi nyari makan di Sabtu pagi yang mendung begini semua bakal aman dan damai. Ternyata di dekat warung tujuanku ada operasi gabungan.
“Jangan haha-hehe aja lu babi! Tunggu ajalah gua kirim si Roy ke sane.” Kemudian ada bunyi tut-tut-tut sebagai pertanda kalau sambungan udah diputus.
“Jadi bagaimana, Saudara?” Si bapak polisi bermuka garang di sampingku bertanya dengan nada yang jauh dari kata ramah.
Aku cengengesan lagi. “Bentar, Pak. Utusan Mamiku bakal dateng bentar lagi. Hehehe.”
Ini memang pertama kalinya aku ditilang. Tapi masalah-masalah yang kubuat sudah banyak. Berkelahi sama temen sekelas yang mengata-ngatai keluargaku, ketahuan mencontek waktu ujian, dan kasus lain yang lumrah banget dialami remaja salah gaul. Kata guru-guruku, aku bukannya salah gaul. Aku salah asuhan.
Mami sudah berulang kali jadi bahan omongan miring dan gosip guru serta para ibu teman-temanku. Sebenarnya, kali pertama aku kena hukum itu karena aku membela nama Mami yang diolok-olok sebagai ‘jalang’ oleh salah satu temanku. Aku jengkel, dan langsung kuhantam rahang si mulut bau. Iya, sumpah kesel banget aku waktu mendengar dia jelek-jelekin nama Mami dengan mulutnya yang beraroma jigong dan selalu bikin hujan lokal. Hasilnya, aku dipanggil ke ruang guru, dikasih hukuman skors, dan Mami diminta menghadap mereka.
Mami bukan ‘jalang’, ya Sodara-sodara. Dia wanita paling keren yang ada di seluruh dunia.
Itu juga kali pertama bagi Mami untuk menunjukkan mukanya di sekolah. Selama ini, semua proses pendaftaran, penerimaan rapor dan rapat orang tua selalu diwakili oleh salah satu utusannya. Mami pergi ketika aku masih tidur. Aku nggak tahu apa yang terjadi waktu itu di antara Mami dan wali kelasku, tapi sejak saat itu, wali kelasku jadi berhenti berurusan denganku. Anak bau jigong yang kulupa namanya nggak pernah lagi kulihat. Katanya dia pindah.
Buat yang nggak tahu profesiku Mamiku apa, sini kujelasin. Mami adalah kepala gangster Betawi yang terkemuka. Badannya kurus dan pendek, kulitnya sawo matang dan punya tatto naga di punggung. Dia memang kecil, tapi yang takluk di bawah perintahnya adalah preman-preman bertubuh kekar dan berwajah garang. Sebelum aku melihat kejadian Mami menghabisi anak buahnya dengan tangan yang sama sekali nggak berotot, aku sempat ragu Mami bisa berkelahi.
Orang tua lain akan merasa jengkel bila anaknya mendapat masalah. Sama halnya seperti Mami. Yang membedakannya adalah topik ceramah antara Mami dengan mereka. Bila orang tua lain mengkhawatirkan reputasi mereka atau keselamatan anaknya, Mami malah:
“Cemen amat lu. Mestinya lu patahin rahangnya kemarin,” atau “Kok sampai ketahuan nyontek sih? Tolol lu! Kagak lihai!”
Berbeda jauh sama Mami, putra satu-satunya ini memang lemah. Aku nggak bisa berkelahi meski berkali-kali diajarin. Aku punya hati yang mudah merasa terharu. Dan aku cukup manja pada Mami.
Ketika si Roy datang, aku sudah cengar-cengir gaje. Si bapak polisi garang ternyata kalah garang sama utusan Mami itu. Setelah mereka ngelewatin sesi negosiasi yang nggak kusimak karena asyik main hape, polisi itu melepaskan aku tanpa syarat apa pun. Keduanya bahkan berangkulan begitu kami hendak pulang.
Beberapa waktu kemudian baru aku diberi tahu kalau polisi itu murid Mami dulu. Nepotisme yang menguntungkan. Aku nggak tahu Mami pernah jadi guru apa, karena Roy menolak buat memberi tahu.
Pulang-pulang, aku menemukan Mami yang lagi bersantai di ruang tengah, menyimak infotainment di televisi yang menyala sambil mengisap sebagang rokok. Mami berdaster, tapi kakinya naik ke atas meja.
“Udah kelar urusannye?” tanya Mami tanpa mengalihkan muka dari layar teve.
Roy menjawab. “Udah, Bos!”
Mami menghembuskan asap rokoknya. “Good.” Lalu dia menoleh ke arahku yang menyengir. “Goblok lu. Mestinya tadi lu langsung tancap gas aje.”
“Hehe. Aku takut jatuh atau kena tembak.”
“Haduh. Kenapa gua punya anak lembek macam lu, sih?! Udah! Lu makan sana gih! Itu si Jack udah beliin sarapan.”
Aku kembali menyengir, lalu dengan patuh pergi ke ruang makan. Semangkuk besar soto udah tersedia di atas meja. Kulihat Jack, preman berambut mohawk mengangguk dan tersenyum padaku, mempersilakan aku buat duduk dan makan dengan tenang.
Yang aku pertanyakan dalam hati adalah, gimana Mami tahu aku kepingin sarapan soto?
Dulu, aku sempat berpikir kalau aku ini bukan anak kandung Mami. Mami terlalu strong dan aku kelewat lembek. Mami nggak pernah menangis, dan harga airmataku murah. Padahal akulah yang cowok. Akulah yang mestinya bisa menjaga Mami, bukan sebaliknya.
Maka kuputuskan buat mengonfirmasi hal itu pada Mami suatu ketika. Mami lagi asyik maskeran. Kepalanya wangi, kayaknya baru selesai dikeramas oleh salah satu anak buahnya. Aku duduk di sampingnya. Mata Mami ketutupan potongan timun, tapi dia tahu kalau aku datang.
“Mau ngomong ape?” tanya Mami dengan rahang tertutup. Takut maskernya retak.
Aku cengengesan. “Mi, cerita dong waktu Mami lahirin aku tuh gimana?” pancingku.
“Lu kagak keluar dari rahim gua. Lu gua muntahin.”
Spontan, aku tergelak. “Ih, Mami nih!”
“Ya emang. Lu gua muntahin, langsung jadi bayi. Ngapa juge lu mesti kepo soal ini. Lu tipe gagal move on, ye? Segala yang udah jadi sejarah masih dikorek-korek.”
Aku menatap Mami yang masih berada dalam posisi yang sama. Tahun ini, usia Mami empat puluh enam tahun. Mestinya sudah muncul kerutan di muka, atau uban di rambut. Aku tahu Mami berusaha menyembunyikan semua itu.
“Heh! Anak gua belum jadi gagu, pan?”
Kekehanku keluar. Aku menggenggam tangan kurusnya yang bersidekap. “Mami, maaf dan makasih.”
“Lu abis nonton drama ape lagi, dah?”
Aku menatap Mami lekat-lekat. Kurasakan gelombang rasa bersalah merayapi dada. Mami udah ngelahirin aku, ngebesarin aku seorang diri. Aku punya kartu keluarga dengan anggota yang cuma terdiri dari kami berdua. Di mata hukum, aku adalah anak Mami. Kenapa aku malah ragu?
“Nggak.” Aku nyengir, lebar banget. “Selamat hari Ibu.”
Mami terdiam. Beberapa detik kemudian, tangannya menoyor kepalaku dengan telak meski matanya nggak melihatku. “Kagak usah lebay dah lu. Apa perlu gua batasin jatah nonton drama Korea lu tiap hari?”
Aku ketawa.

