Prompt: Water
1143 words
“Apakah semua air akan bermuara ke laut?”
Pertanyaan itu pernah tercetus dari lisan Rivera pada awal masa pembinaan. Selepas pelajaran Dasar Elemen berakhir, gadis itu terduduk di bangku taman belakang, menggenggam burger yang separuhnya sudah masuk ke dalam esofagus.
Sean, sang proktor, menjawab, “Tidak semua. Sebagian diserap tanah, sebagian ditampung oleh manusia.”
Sudah menjadi sebuah persyaratan bagi seorang siswa tingkat akhir untuk mendaulat diri sebagai pengampu bagi siswa level muda. Peraturannya, proktor dan perwalian harus memiliki elemen yang sama. Rivera mampu berlega hati sebab dirinya beroleh elemen air, dan nama Sean didapuk jadi pembina sampai musim berganti.
Sean ialah idola semua kalangan, kecerdasan dan kekuatannya membuat dia disebut jadi calon warrior terbaik seangkatan. Seperti tokoh kisah romansa yang menjamur di dunia maya, lelaki itu punya kepribadian dingin yang menawan. Semula, Rivera tidak tahu kalau Sean semempesona itu. Seiring waktu berlalu, gadis itu sadar bahwa Sean memang menakjubkan. Semua itu berkat statusnya sebagai keturunan campuran.
Kelak, Rivera mendapati dirinya pun tak luput terjerat daya tarik Sean yang luar biasa. Beberapa kali ia harus mengetuk akal sehatnya agar sadar diri bahwa mereka tak sama. Namun, Rivera menyerah kala malam pelepasan siswa baru yang sekaligus menjadi batu loncat bagi Rivera naik ke level berikutnya.
Malam pelepasan selalu jadi ritual yang spektakuler. Seusai pidato dewan widyaiswara yang diwakili kepala dewan—yang membosankan karena isinya selalu sama dari tahun ke tahun—pesta pora mengambil alih arena. Musik disko diputar, kembang api menggelegar, sorak-sorai membahana. Gelas-gelas berisi bir, tequilla, vermouth, koktail, berdentingan di segala penjuru. Semua siswa dari setiap level memekik dan menari. Merayakan lepasnya siswa tingkat akhir yang kelak akan menjadi warrior dan disebar di seantero dunia, serta peranjakan level siswa di bawahnya.
Malam itu, gempita hanya jadi latar belakang bagi mereka. Rivera dan Sean menepi di atap gedung utama, menyaksikan kembang api yang bertalu-talu di angkasa.
“Sekali lagi selamat, Sean.”
“Hm. Kau juga.”
Rivera mendesah. Hatinya gamang tak terkira. Selepas ini, kemungkinan besar mereka takkan bersua lagi. Haruskah ia mengaku? Dari mana?
“Ada apa?” Suara Sean menarik dirinya kembali pada realita.
“Aku … ingin bertanya.”
“Soal apa? Masih seputar filosofi air dan kawan-kawan?”
Rivera mendengus geli. “Ya, itu juga.”
Sean maju selangkah. Tangannya bersedekap di depan dada. “Silakan.”
“Menurutku, semua air akan bermuara ke laut.” Rivera meremas tangan demi melenyapkan rasa gugupnya. “Semuanya. Termasuk …, aku.” Dia memandang Sean yang menjulang, berusaha mencari apapun yang terpancar dari kelam bola matanya, namun lelaki itu bergeming.
Rivera mendesah. Dia sudah menduga akhirnya akan begini. Apa yang dia harapkan?
“Harusnya aku sadar diri. Bisa-bisanya karena aku menjadi perwalianmu, aku langsung merasa spesial,” cicitnya. “Padahal, kasta kita berbeda.”
Alis Sean naik. “Kasta?”
“Kau laut, Sean. Luas tanpa jeda. Kau laut. Biru di muka, gelap di lubuk. Sedang aku sungai, sempit, tanggul mengapit. Aku sungai. Membentang panjang, keruh tanpa akhir.”
Ada pergolakan dalam permata sekelam jelaga. Rivera menangkapnya dengan kabur akibat air mata yang menggenang. Pada detik kala Rivera hendak berkata lagi, Sean mereduksi jarak di antara mereka, dan berkata,
“Bodoh. Air di bumi ini, tetap saja air.”
Rivera tidak mengerti. Padahal air disebut-sebut sebagai elemen paling sejuk dari lima elemen dasar. Namun malam itu, kala kulitnya dan kulit Sean saling bergesekan, ia merasakan panas yang merambat sampai ke seluruh anggota tubuhnya.
Dengking alarm peringatan menghentakkan gadis itu dari alam mimpi. Rivera bergegas. Gesit mengenakan jubah perang, tangan menyambar senapan, dan bergabung bersama anggota batalion lainnya dalam tank yang akan membawa mereka melawan negeri seberang.
Dalam perjalanan, Rivera masih memikirkan mimpinya. Malam perpisahan empat angkatan sebelum angkatannya sudah terjadi bertahun-tahun silam. Rivera bertanya-tanya mengapa setelah sekian lama, ia malah memimpikan peristiwa itu?
Sean … bagaimana keadaannya saat ini?
Menahun sudah berlalu, tetapi panas yang merayapi dada masih bersisa sampai sekarang. Betapa sentuhan Sean atas dirinya dikristalkan memori tanpa Rivera sadari. Sean dan letupan kembang apinya membuat Rivera jatuh sejatuh-jatuhnya.
Kenangannya akan Sean lenyap kala tank tiba di lokasi tujuan. Perbatasan porak-poranda. Mayat-mayat dari dua kubu bergelimpangan. Rivera melesat turun, terjun dalam pertempuran demi pertempuran. Senapannya bekerja, ia membidik berkali-kali, menyalak berkali-kali. Langkahnya memburu salah satu dari tim musuh yang berderap menaiki tangga demi memulihkan diri akibat kekurangan darah. Dalam kondisi fisik yang lemah, sihir elemen tak bisa dikerahkan.
Derap sepatunya berhenti kala buruannya ia temukan. Terkapar di kakinya, dengan jejak darah yang terseret. Gadis itu berjongkok, memastikan status. Denyut nadi musuh tak lagi terasa.
Baru saja kakinya melangkahi mayat itu, sebuah moncong senapan ditempel di pelipisnya. Rivera tertegun. Bola mata itu …
“Lepaskan senapanmu, Riv.”
Dan, suara itu …
“Sean ….”
“Ya ….”
Rivera menyikut ujung senjata yang panasnya terasa di kepala. Bukan saatnya untuk larut dalam drama masa lalu. Gerakannya tak cukup kuat untuk melontarkan senapan sebab orang itu masih memegangnya. Gadis itu berbalik, berdiri dengan sikap siap menembak. Matanya membidik, moncong senapan menghadap Sean yang berpijak dengan pose serupa.
Berjumpa orang yang dikenali dalam pertarungan yang sama di mana mereka harus saling membasmi bukan pertama kalinya bagi Rivera. Namun, mereka bukan Sean. Ini kali pertama Rivera bertemu lelaki itu sejak apa yang mereka alami pada malam perpisahan.
“Kubilang lepaskan, Riv.” Suara Sean tidak terdengar seperti sebuah ancaman. Nadanya saja yang dingin, menembusi tulang Riv, membuat rusuknya ngilu.
“Tidak. Kau yang lepaskan.”
Ada hening yang didominasi letusan senapan dari bawah sana. Rivera jelas tidak bisa menebak bahwa berikutnya, Sean benar-benar melemparkan senapannya ke luar, dan berpijak dengan eskpresi yang masih sama.
“Giliranmu,” kata Sean. “Kita tidak akan menggunakan benda itu. Air harus melawan air.”
Air melawan air. Bulu kuduk Rivera meremang. Gadis itu menurut. Senapannya ikut terjun ke bawah. Melalui matanya yang memburam, Rivera menyaksikan Sean mengumpulkan chakra. Gadis itu tak juga bergerak sampai sebuah panah es melesat ke arahnya, menabrak dinding dan berakhir jadi genangan air di lantai.
Rivera merasa telinganya berdarah. Laki-laki itu benar-benar serius.
Berikutnya, berlusin-lusin panah es saling menghujan. Berkali-kali meleset, beberapa kali menyerempet. Tak puas akan hasilnya, metode beralih jadi semburan bah yang saling dorong dengan kekuatan imbang.
Pipi Rivera basah, namun dirinya lupa apakah itu percikan bah, atau air matanya.
Semakin lama, dorongan Rivera kian mengendur. Gadis itu merasa tidak kuat lagi kala matanya menangkap seulas senyum terukir di wajah Sean, dan semburan bah sang adam mundur seketika, meloloskan milik Rivera, dan melontarkan tubuh Sean menabrak dinding.
Rivera memekik, “SEAN!” Kakinya berderap, menghampiri tubuh Sean yang tergolek dengan posisi aneh, cukup meyakinkan Rivera bahwa tulangnya, entah satu atau beberapa telah remuk karena terjangannya.
“Sean …” Dia meraup kepala Sean, meletakkannya ke atas pangkuan “Tidak ….”
“R-riv ….” Tangan lelaki itu menggapai-gapai, mencari tangan Rivera yang bergemetar hebat untuk kemudian digenggam. “Maaf, dan terima kasih ….”
Rivera menggeleng. “Tidak, tidak ….”
“Kau semakin hebat ….”
“Tidak ….”
“Pada akhirnya, aku harus kembali ke laut ….”
“Sean, tolonglah ….”
Di antara deru pertempuran, Rivera mendengar bisikan terakhir nan lirih dari lisan lelaki itu, yang membuat airmatanya tak mau juga berhenti bergulir, sebelum Sean kehilangan napas beserta denyut nadinya:
Semoga kita bermuara di tempat yang sama.
