Prompt: Winter Hope
1838 kata
“Jenni, kembali ke kamarmu!”
Kaki dengan sepatu merah mengkilap dan kaos kaki putih berenda ditarik masuk kembali. Jennifer merengut. Dengan muka murung, gadis bersurai sewarna emas kembali menutup pintu yang tadi dibuka diam-diam, terpaksa mengurungkan niatnya untuk bermain di luar sana. Namun, tak ia turuti perintah Ibu untuk pergi ke kamar. Bocah berumur enam tahun malah berdiri di depan jendela. Dengan berpijak di atas kursi kayu jati Kalimantan tanpa melepaskan sepatunya, dapat ia melihat dengan jelas salju yang turun pelan-pelan, beserta teman-temannya yang bermain di luar sana. Melihat betapa asyiknya mereka melempar bola salju, Jennifer ikut menyunggingkan senyum.
Jennifer kepingin berada di antara mereka. Saling lempar bola salju, menciptakan boneka salju dengan wortel sebagai hidung dan kancing-kancing sebagai matanya seperti yang sering ia lihat di televisi. Teman-teman yang tidak ia ketahui namanya di luar sana membentuk boneka salju tanpa wajah, dan Jennifer yakin itu karena mereka tidak punya imajinasi selihai dia. Padahal, Jennifer percaya dirinya bisa membentuk boneka salju yang jauh … jauh lebih cantik dan gagah daripada yang mereka buat kalau saja ia bisa diizinkan keluar rumah.
Tetapi Jennifer tak pernah diizinkan keluar rumah.
Ibu selalu tahu setiap kali Jennifer berusaha memutar kenop pintu. Bukan berarti wanita itu cenayang, karena Jennifer melihat layar-layar kecil yang ada di kamar ibu, dapur, bahkan kamar mandi yang menampakkan kondisi pintu depan, dan Jennifer tahu Ibu bisa melihat dirinya kabur dari sana, sekalipun dengan mengendap-endap.
Selama Ibu dan Ayah bersamanya, Jennifer tak pernah diperkenankan keluar dari rumah. Selama ibu dan ayah pergi, Jennifer diurus oleh Rose, seorang suster yang sering membacakannya cerita-cerita namun juga tak pernah membolehkan Jennifer keluar rumah.
Jennifer tahu dirinya sakit karena ibunya sering berkata demikian. Kulitnya tidak punya cukup kekebalan untuk dikecup cahaya matahari langsung. Pernah suatu ketika, ia memohon dan menangis pada Ibu untuk keluar kala malam tiba, tetapi ibu tetap menggeleng tegas. Akhirnya, Jennifer meneriakkan Ibu Jahat. Kata Rose, Ibu cuma terlalu khawatir, sebab ia satu-satunya mutiara ibu.
Jennifer juga pernah mencoba kabur lewat jendela kamar. Besoknya, seluruh jendela di lantai dasar dipagari teralis besi, kecuali jendela yang ada di lantai atas. Tetapi Jennifer tidak bisa memanjat. Ia takut ketinggian.
Dia merasa seperti Rapunzel yang dikurung di menara. Namun dalam kisahnya, Jennifer tahu tidak akan ada pangeran yang datang. Ia hanya anak kecil, dan rambutnya tidak sepanjang Rapunzel.
Saat ini tiga anak tetangga yang bermain bola salju sudah berhenti melempar. Mereka asyik membentuk boneka salju yang di mata Jenni malah tampak jelek sama sekali.
“Jenni, ayo makan.”
Bahunya disentuh ibu dari belakang, membuat Jennifer mendongak.
“Apa yang kau lihat, Sweetheart?”
“Anak-anak itu tidak bisa membuat boneka salju yang cantik.”
“Oh.”
“Aku bisa membentuknya lebih bagus daripada itu.”
“Mm-hm?”
“Tak bolehkah aku keluar dan melakukannya, Mom?”
Ibu mengembuskan napas, menggeleng tegas. “Nope. Sebaiknya kita pergi makan sekarang.”
Jennifer sudah tahu bahwa akhirnya akan selalu begini.
Selepas makan siang yang lagi-lagi menjengkelkan sebab Ibu tak mau Jenni membahas seputar perkenan untuk keluar dari rumah, gadis itu masuk ke kamar dengan bersungut-sungut. Ia selipkan tubuhnya ke dalam selimut. Menghindari Ibu yang terus mengikutinya dan meminta maaf.
“Maafkan Mom, sayang. Semua ini demi kebaikanmu.”
Jennifer tidak mengerti apakah semua memang akan baik baginya bila ia terus dipenjara dalam rumah sendiri?
“Besok Mom belikan buku cerita baru untukmu. Atau kau mau sepatu saja?”
“Buat apa sepatu kalau tidak bisa digunakan keluar rumah?” tanya Jenni tanpa ada sedikit pun upaya untuk melungsurkan nada jengkelnya.
Bisa Jennifer dengar ibunya mendesah. Lalu suara wanita itu mendekat. Seolah berada di depan wajahnya. “Maafkan Mom, Sweetheart.”
Ia merasakan kecupan lembut Ibu pada hidungnya yang mencuat di balik selimut. Kemudian langkah Ibu terdengar menjauh dan ditutup dengan bunyi pintu yang terkatup.
Barulah saat itu, Jennifer bisa menyibak selimutnya. Matanya basah.
Apakah tingkah dan ucapannya membuat ibu sedih? Apakah ibu juga menangis sepertinya? Apakah ia sekarang menjadi anak yang jahat?
Jennifer terus bertanya dan matanya terus mengalirkan sungai-sungai kaca. Tatapannya buram kala ia memandang langit-langit. Jemari mengucak mata sebelum atensi sewarna madu merayapi dinding dan berakhir pada lemari.
Di sana, ia menemukan sesuatu yang berbeda.
Pada pintu lemari yang sedikit terbuka, tampak garis-garis cahaya dengan titik-titik debu berterbangan. Mirip garis sinar trapesium yang pernah ia lihat bersembulan dari liang ventilasi di kamar belakang yang jarang digunakan. Dahulu Jennifer suka menepuk-nepuk butir debu melayang itu, sebelum akhirnya diketahui ibu dan lubang kecil di atas jendela itu disegel rapat-rapat.
Gadis itu beringsut bangkit. Pelan-pelan, ia mendekat. Lalu tangan kecilnya membuka pintu dengan mata tertutup mengantisipasi apa yang ada di baliknya. Jennifer menemukan pakaian-pakaiannya yang tergantung, namun apa yang berada di baliknyalah yang membuatnya takjub.
Lemari itu tak memiliki sisi belakang. Dari sanalah sumber cahaya yang dilihatnya berasal. Merasa ragu, Jennifer berputar ke belakang lemari. Melalui celah antara tepi lemari dengan dinding, ia bisa melihat tiada lubang sedikit pun di sana.
Lantas, dari mana cahaya itu?
Rasa penasaran memaksanya untuk memastikan langsung. Ia melesakkan tubuhnya ke dalam almari, bergelung bersama jubah dan jaket yang bergelantungan. Ruang dalam boks kayu itu terasa lebih lapang daripada yang semestinya. Tidak terasa pengap seperti lemari biasanya. Jennnifer merayap ke arah lubang berbentuk lingkaran yang semakin besar seiring dirinya mendekat.
Bola mata Jennifer mengerjap takjub. Di hadapannya, lapangan salju terhampar luas. Ada beberapa pohon pinus yang menjulang di tempat tertentu. Rasa ragu merayapi hatinya. Ia ingin kembali ke belakang, pulang ke kamarnya, namun keinginannya untuk tetap berada di tempat itu dan melihat keadaan lebih besar daripada kecemasannya. Pada akhirnya, Jennifer melangkah maju hingga ia mendapati bahwa dirinya keluar dari sebuah gua kecil yang dibentuk dari lubang karang berselimut salju.
Jennifer menghentikan kakinya ketika sebuah kendaraan yang dihela oleh dua ekor kuda melewati tempatnya berdiri. Lalu kuda itu meringkik dan kendaraan pun berhenti. Seorang laki-laki berjanggut putih panjang dan bersetelan merah dengan perut gendut yang sangat familier keluar dari sana.
Jennifer mengerjap. Apakah Sinterklas betulan ada? Tidak, tidak. Kalau pun ada, Natal sudah berlalu satu bulan yang lalu. Mana ada Santa Klaus yang bagi-bagi kado di akhir Januari?
Laki-laki dalam kostum Santa Klaus tertawa dengan suaranya yang berat sambil menghampiri Jennifer. Tubuhnya yang tinggi dan besar sedikit membuat gadis itu takut dan gentar.
“Hohoho, ada apa gadis cilik? Apa yang kau lakukan di sini?”
“Eung, aku …” Kepalanya mencari jawaban yang bagus. “Aku mau membangun boneka salju.”
Sinterklas berjanggut lebat tampak meneliti dirinya. “Ohoho. Baiklah, baiklah.” Ia menepukkan tangannya yang telanjang. Sesaat kemudian, seorang gadis berambut putih dengan tinggi setara Jennifer keluar dari kereta kuda.
“Temani dia, Amy. Aku tidak bisa karena harus bekeliling lagi.”
“Baiklah.”
Santa Klaus mengelus kepala Jennifer, sebelum berkata, “Aku pergi dulu, Gadis Cantik. Sampai nanti,” dan kembali berlalu bersama kereta kudanya.
Gadis yang dipanggil Amy masih berdiri di depannya. Alis dan bulu matanya putih, persis rambutnya. Bola matanya yang berwarna perak, berkedip-kedip kala memindai wajah dan tubuh Jennifer. Jennifer bisa melihat bintik-bintik kecil tersebar di pipinya.
“Wah, betulan emas!” seru Amy tiba-tiba.
“Eum? Eh? A-apanya?”
“Rambutmu,” telunjuk Amy mengarah pada kepala Jennifer, lalu turun ke matanya, “dan ini. Aku takjub. Warnanya betul-betul seperti emas.”
“Kata ibuku, itu warna madu.”
Amy menepuk tangan yang berbalut sarung tangan dengan gembira. “Iya! Warna madu itu kan, mirip warna emas! Oh, siapa namamu?”
“Namaku Jennifer, panggil Jenni saja.”
“Baiklah, Jenni. Jadi apa yang ingin kau lakukan sekarang? Aku akan membantumu!”
Jennifer ragu sejenak. “Eung, aku ingin bermain boneka salju.”
“Baiklah,” seru Amy riang. “Ayo kita buat boneka salju!”
Berikutnya Jennifer bisa merasakan Amy menghela tangannya. Mereka berhenti di atas tanah dengan lapisan salju paling tebal. Amy menunduk, memastikan ketebalan salju dengan menepuk-nepuk permukaannya.
“Di sini yang paling bagus! Ayo!”
Sesaat kemudian, kedua gadis dengan postur tubuh serupa sudah larut dalam permainan. Di sela-sela membangun boneka salju, ada gumpalan-gumpalan salju kecil yang saling dilemparkan. Akhirnya Jennifer tahu bagaimana rasanya. Rupanya, aktivitas ini memang sangat menarik. Keduanya terus bermain sampai akhirnya boneka salju mereka, yang berhidung wortel, bermata kancing dan bertangan reranting terbentuk kala langit menjingga.
“JADIII!” sorak keduanya, lalu berpelukan dan melompat-lompat. Sambil berangkulan, Amy dan Jennifer menatap kembali hasil pekerjaan mereka, dengan binaran takjub. Seakan itu adalah pahatan adikarya dari seorang seniman tersohor.
“Oh, sebentar!” celetuk Jennifer. “Dia tidak punya mulut. Aku mau kembali ke dapurku untuk mengambil sesuatu sebagai mul–”
“Jangan!” cegah Amy, tangannya mencegat Jennifer agar tidak beranjak.
“Eh? Kenapa?”
“Sekali kau pergi, kau tidak akan kemari lagi, Rambut Emas.” Amy menyeluk kantung mantelnya, mengeluarkan sebuah mainan sabit mungil berwarna merah muda neon yang bercahaya. “Pakai ini sebagai mulutnya.”
Jennifer tersenyum, lalu memasangkan benda itu ke boneka salju sehingga wajahnya kini terbentuk sempurna.
“Ini baru sempurna! Ayo kita high-five!”
Keduanya saling berpeluk sekali lagi. Langit sudah kehilangan sinar mentari. Kala itu Jennifer baru tersadar bahwa ia sudah berada di luar lama sekali. Gelisah kembali merayapi.
“Eung, Amy. Maafkan aku. Aku harus pulang. Ibuku pasti mencariku.”
Amy menatapnya sendu. “Baiklah.”
“Sampai jumpa lagi.”
“Kita tidak akan berjumpa lagi, Jenni.”
“Kenapa begitu?”
Amy tersenyum. “Karena dreamland hanya terbuka satu kali dalam hidupmu.”
Jennifer ingin bertanya lagi, namun pertanyaannya menggelantung di lidah tanpa sempat dilafalkan, sebab Amy sudah telanjur memeluk dan menepuk-nepuk pundaknya.
“Jangan bersedih lagi. Jangan merasa kesepian lagi. Kalau ada yang bertanya siapa nama temanmu, katakan saja namanya Amy. Dan kita membangun boneka salju bersama-sama.” Amy melepaskan rangkulan. Mata peraknya berkaca-kaca. “Pergilah.”
Jennifer mengangguk. Ia terlalu bingung, gugup dan bahagia sekaligus sedih untuk berkata apa-apa. Hanya tangannya yang dilambaikan, sementara airmatanya menetes satu demi satu. Kakinya melangkah, berkali-kali ia menoleh ke belakang, sekadar memastikan bahwa Amy masih ada di sana. Amy memang masih terus berdiri di tempat yang sama, melambaikan tangannya dan tersenyum, bahkan sampai tubuhnya mengecil karena pautan jarak yang kian lebar.
Ketika Jennifer membuka mata, langit-langit kamar yang pertama menyapanya. Buru-buru ia terbangun dan mendapati dirinya terkulai di depan lemari yang pintunya terbuka. Rasa panik menderanya. Ia merayap masuk ke dalam lemari, namun lemari itu tetaplah lemari sebagaimana biasanya. Ukurannya sama sekali tidak membesar. Tiada pula berkas cahaya atau lubang apa pun kecuali pintu yang terbuka. Ia kuak jubah-jubah yang bergelantungan, dan merasa rongga dadanya menyempit akibat minimnya oksigen di dalam sana.
“Jenni? Apa yang kau lakukan, Sayang?”
Gadis itu terkesiap kala suara ibu terdengar. Ia keluar dari lemari, menemukan ibunya menatapnya bingung.
“Mom, maafkan aku, aku keluar dari rumah dan berkeliaran di sana sampai malam. Aku mendapat teman bernama Amy. Kami membangun boneka salju bersama.”
Ibu menatapnya prihatin. Ia mengusap kepala putrinya lembut. “Tidak apa-apa. Kau hanya bermimpi, Honey.”
“Aku tidak bermimpi!”
“Baiklah,” kata ibu. Wanita itu mengalah. Ini bahkan belum ada lima menit sejak ia keluar dari kamar sang putri. Ia mendengar suara gedebuk seperti orang jatuh, lalu kemari dan melihat putrinya memasuki lemari.
Tanpa berkata bahwa ia keluar dari lemari, Jennifer menceritakan kejadian luar biasa yang dialaminya kepada ibu dan ibu menimpali tanpa marah-marah. Wanita itu hanya menegur agar Jennifer tidak keluar dari rumah lagi. Jennifer mengangguk dalam bersitan rasa senang. Ia sudah menemukan tempat keluar yang aman tanpa ketahuan ibu.
“Aku benar-benar tidak bermimpi,” gumamnya setelah kepergian ibu. Tangannya membuka, menampilkan sebuah mainan sabit kecil yang menyala, yang ia temukan dari kantung jaketnya.
Sejak saat itu, Jennifer selalu menyempatkan dirinya melihat dan menengok ke lemari setiap waktu, namun cahaya dan dilatasi ruang dalam lemari tak pernah terjadi lagi.
