Inner Child

#MyWords2 • Inner Child
Prompt: Pengacara + Tantangan: anak-anak
Jumlah Kata: 444

SUATU HARI, AKU MENEMUKAN anak-anak dalam tubuh Mak.

Setengah jam sebelumnya, ia mengomeliku dan kuamuki balik. Persetan dengan label ’anak durhaka’. Kata tersebut hanya satu dari sekian predikat negatif yang kusandang. Menemani ‘anak yatim’ yang sudah lebih duluan ada, ‘anak goblok’ karena kapasitas otakku yang jongkok, juga ‘beban orang tua’ karena di usia dua puluhan, belum kumiliki pekerjaan tetap.

Pagi itu aku memang bangun kesiangan. Mak menceramahiku dengan petuah kuno seputar rejeki dipatok ayam, mengasosiasikannya denganku yang sejak lulus setahun lalu sampai kini tidak kunjung mendapat panggilan.

Bukan tanpa alasan kubantah kata-katanya. Aku baru tidur jelang subuh usai mengantar tetangga ke pelabuhan. Sembari menanti panggilan firma hukum, atau titik-titik perkantoran lain yang kukirimkan lamaran, pekerjaanku memang serabutan. Dari ojek sampai tukang bangunan. Dari supir, sampai kuli angkutan. Itu pun karena Mak pernah berkata, pekerjaan apa saja nilainya setara.

Seharusnya keanehan itu kurenungkan. Meski mulutnya memang agak kasar, Mak tidak pernah kelepasan membahas pekerjaan. Setiap kerabat jauh menanyakan profesiku, Mak menjawab santai, ”Pengacara.”

Entah doa atau sindiran. Ijazahku memang sarjana hukum, cita-citaku pun pengacara sebagaimana mayoritas manusia dari sukuku berani bermimpi, tapi realitanya lebih condong pada ‘pengangguran banyak acara.’ Kendati aku selalu ngotot mengisi berbagai formulir dengan kata ‘freelancer’ yang lebih mentereng.

Aku bergegas mandi setelah Mak kubuat mengatupkan mulut. Saat aku selesai, ia tengah duduk tertawa-tawa menonton Upin Ipin. Masih sempat Mak menyeruku untuk sarapan dulu, sebelum suara dialog yang disetel nyaring dari televisi tiba-tiba padam. Token listrik pasti habis karena tadi mesin tolol itu memang menjerit-jerit.

Kemudian, kudengar suara tangisan Mak.

Bergegas aku keluar sekalipun lengan bajuku belum terpasang sebelah. Mak duduk merengek di lantai seperti bocah tantrum. Suaranya pun mirip anak kecil yang menangis pilu lantaran mainannya direnggut kawan main. Aku dibuatnya terpaku. Ini kali pertama kudapati Mak menangis. Bahkan saat dihina para tetangga pun, ia selalu punya kalimat jitu yang menyimbolkan kemenangan.

Seketika perasaan bersalah menghajarku. Kupeluk tubuh ringkihnya dan melirihkan kata maaf.

“Hanya pengen nonton, Mak ini, Nak. Mak nggak minta apa-apa sama Tuhan, Mak nggak minta Bapakmu hidup lagi, atau bisa naik haji dua kali macam Tulangmu itu. Mak juga nggak minta kau cepat-cepat jadi pengacara. Mak hanya pengen nonton Upin Ipin dengan santai saja, Tuhan nggak mau mengabulkan? Mak punya dosa apa?”

Mataku turut memanas menyaksikan Mak tersedu-sedan. Kaki-kakinya menggasak lantai. Kuhapus air matanya dan kupeluk ia. Seharusnya aku bergegas mengisi pulsa listrik, tapi aku malah ikut menangis.

Baru kusadari fakta yang kuluputkan: Mak juga anak dari seseorang. Mak juga punya jiwa yang harus dimengerti. Di saat aku menuntutnya memahami inner child-ku yang malang karena tak dilimpahi kasih Bapak, semestinya aku ingat masa remaja Mak yang harus digadaikan dengan pernikahan, sebab Mak tak tahu ia punya pilihan untuk menolak.

2 respons untuk ‘Inner Child

  1. Mata saya juga ikut panas membaca ini. Terkadang saya hanya berfokus pada apa yang saya inginkan dan dapatkan dari orang tua saya, sehingga lupa kalau setua apapun orang tua, mereka tetaplah “anak kecil” yang juga butuh keinginan, yang seringkali terabaikan dengan embel-embel “keorangtuaan” mereka. Terima kasih sudah menulis ini.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan komentar