#MyWords5
Prompt: POV3
Jumlah Kata: 429
BAGI NERISSA, HIDUPNYA adalah sampah.
Membuang cita-cita mengelilingi dunia sebagai pramugari, hingga kemudian terjebak bersama pasangan hidup yang ditentukan orang tuanya, adalah deret kebodohan yang akan selamanya disesali.
Sebab, suaminya, malah berulang kali ketahuan main gila dengan kekasih lamanya, seolah sengaja ingin membuatnya muak. Dan, Nerissa-lah yang harus mengupayakan berlaku baik-baik saja, agar kabar miring soal rumah tangganya tidak sampai ke telinga orang tua mereka yang rapuh kesehatannya.
Jika diperkenankan, Nerissa ingin menukar hidupnya dengan sang sahabat, Garini. Kendati hidup biasa-biasa saja tanpa gelimangan harta, Garini bukan tipe istri yang fakir kasih sayang suami seperti dirinya. Suami Garini tampak memperlakukan Garini seperti selapis kaca rapuh, senantiasa menatap istrinya dengan teduh. Di mata Nerissa, keduanya adalah pasangan ideal yang kukuh.
Bagi Garini, hidupnya adalah kecacatan.
Sepertinya kesepian adalah kawan yang ditakdirkan sedekat nadi dengannya. Sudah terlahir sebagai anak satu-satunya dari sepasang suami-istri yang tak hidup lama, selepas menikah pun belum-belum juga dikaruniai keturunan.
Andai saja dia bisa memiliki anak, mungkin tatapan sinis dari mertua dan ipar bisa lekas dihalaunya. Sebelum semakin mengiris hati, dan menjadikannya luka yang sulit menemui kesembuhan.
Jika diperkenankan, Garini ingin menukar hidupnya dengan sang sahabat, Nerissa, yang tampak amat sempurna. Keluarga Nerissa bisa terbilang kaya, dalam hal materi juga kehangatan. Nerissa punya saudara kembar lelaki yang bisa diajak berbagi cerita, serta senantiasa membantu dan melindunginya. Sudah dihujani kasih orang tua yang masih diberi kesempatan hidup membersamainya, dikaruniai mertua yang amat menyayanginya pula.
Dan, yang paling penting, Nerissa punya anak; dua bocah kembar lucu dan cerdas, yang selalu diproses otak picik Garini sebagai penabur garam di atas lukanya.
Bagi Nerissa dan Garini, hidup Caroline adalah sesuatu yang tidak bisa mereka raba.
Namun, yang mereka tahu, kehidupan Caroline adalah wujud ideal dari wanita mandiri: bergelar doktor lulusan universitas luar negeri ternama, hidup mapan tanpa campur tangan siapa-siapa. Caroline bebas melakukan apa saja tanpa pandangan jelek orang tua, pun keperluan memikirkan nasib anak-anak.
Hanya satu yang disepakati oleh pemikiran keduanya tanpa pernah dikatakan satu sama lain: harapan agar Caroline segera menemukan jodohnya sebelum usianya semakin merenta.
Hingga, mereka ditemukan oleh berbagai fakta:
Suami Garini selama ini bertindak protektif karena rasa cemasnya kehilangan sang istri, mengingat lelaki itu menyembunyikan satu rahasia krusial.
Suami Nerissa ketahuan selingkuh—lagi—dengan wanita yang sama, membuat saudara kembar Nerissa naik pitam hingga menghajar lelaki itu dan membawanya ke depan para orang tua.
Caroline menyimpan insekuritas menahun yang membuatnya tidak pernah memimpikan punya pasangan hidup yang melengkapinya.
Di sebuah kafe bernama Apello, yang kelak akan dianggap mereka sebagai ‘Kafe Pengetahuan’, ketiganya bersama-sama ternganga setelah mendapati kecacatan di balik kesempurnaan, yang rupanya disembunyikan bintik buta sudut pandang mereka.
